
Gelap telah berganti terang. Mahluk hidup kembali memulai mengawali aktivitas mereka seperti biasanya. Tidak seperti biasanya yang penuh akan anak-anak yang akan berangkat sekolah, hari itu jalanan agak sepi karena bertepatan dengan hari libur. Hanya orang-orang yang berolahraga dan berkepentingan yang berlalu lalang di jalanan.
Luzi berdiri dengan secangkir teh ditangannya menghadap jendela yang sengaja ia buka hingga desiran angin pagi menerpa wajah serta rambutnya yang terurai.
Cangkir teh itu kini ia letakan diatas meja. Kepalanya sengaja ia condongkan ke luar supaya angin pagi hari yang sejuk itu kian leluasa menerpa dirinya. Dengan mata terpejam Luzi menghirup udara pagi dalam-dalam lalu menghembuskannya. Begitu terus ia lakukan berulang hingga ia membuka matanya saat ponselnya berdering.
"Iya, halo." Jawabnya setelah meletakan ponsel itu ke daun telinganya.
"Luzi, kau mau keluar hari ini tidak?"
"Mau." Jawabnya seraya berjalan kembali mendekat ke jendela.
"Yasudah, bersiap-siaplah aku akan segara kerumahmu." Sona langsung menutup panggilan itu.
"Eh, tunggu!" Luzi melihat layar ponselnya dan ternyata panggilan telah berakhir. "Dasar Sona."
Luzi menyimpan kembali benda persegi panjang itu diatas meja. Ia kini berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah melakukan sambungan telepon dengan Luzi, kini Sona beralih untuk menelepon Aara. Wanita itu duduk disebuah kursi gantung sambil menyimpan ponsel dengan merk yang sedang digandrungi banyak orang didaun telinganya menunggu jawaban dari panggilannya.
"Halo, Aara." Ucap Sona setelah panggilan itu mendapat jawaban nya.
"Iya halo, Sona. Ada apa?" Jawab Aara yang sepetinya baru terbangun dari tidurnya karena ia berbicara sambil menguap.
"Kau baru bangun?"
"Hem. Semalam caffeku cukup ramai, jadi aku sedikit begadang." Jelas Aara.
"Oh begitu, baiklah kita bertemu di Caffe mu hari ini." Ucap Sona, "ingat jam 11!" Lanjutnya lalu mematikan panggilan itu.
"Hem." Balas Aara yang kini kembali mendaratkan wajahnya keatas kasur.
Matahari kini tepat berada dipuncak kepala. Perjalanan yang singkat pun terasa sangat panjang karena terik yang dihasilkan oleh sang Surya.
Luzi berjalan bersama Sona menuju Caffe milik Aara yang berada di
gang L. Mereka berjalan layaknya adik kakak yang sedang menikmati hari libur diminggu itu. Luzi terlihat seperti adik Sona lantaran tubuhnya hanya 158 cm sedangkan Sona memiliki postur tubuh yang tinggi yakni sekitar 168 cm, jelas sekali jika orang-orang yang melihat mereka berpikir bahwa mereka adalah seorang adik dan kakak.
"Luzi, tunggu sebentar aku sangat lelah."Teriak Sona yang kini berjongkok dipinggir jalan.
Luzi yang berjalan duluan lantas berbalik dan berhenti. "Cepatlah, disini panas. Kita berhenti dicaffe Aara saja." Teriaknya.
Sona mendengus, "Itu bukan berhenti bodoh, tapi sampai!" Teriaknya seraya kembali berjalan ke arah Luzi.
Luzi hanya memperlihatkan sederet giginya serta mata yang mengecil mendengar ucapan temannya itu. Ia lalu kembali berjalan saat Sona telah melewatinya.
Lima menit sejak kejadian tadi akhirnya dua orang itu tiba didepan Caffe milik Aara. Mereka lalu membuka pintu dan masuk kedalamnya.
"Kalian lama sekali." Gerutu Aara yang sedari tadi menunggu kedua temannya itu.
"Maaf, tadi ada kendala dijalan." Jawab Sona.
"Kendala apa?" Tanya Aara penasaran.
"Tadi ada nenek-nenek yang tidak kuat untuk berjalan kemari." Sindir Luzi seraya melewati Sona yang berdiri disampingnya untuk duduk bergabung dengan Aara.
"Nenek-nenek?" Sona mengerutkan keningnya, "apa tadi kita bertemu nenek-nenek?" Tanya nya yang tidak sadar bahwa Luzi tengah menyindirnya.
"Astaga," Aara yang juga baru sadar akan hal itu kini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu menatap ke arah Luzi .
"Biarkan saja dia berpikir." Ucap Luzi yang masih tak percaya jika Sona belum sadar akan sindiran yang ia lontarkan untuk dirinya.
"Kau sebaiknya memikirkan itu sambil duduk," Aara menuntun Sona untuk duduk bergabung bersamanya dan Luzi.
Sona pun menuruti apa yang dikatakan oleh Aara. Hingga tiba-tiba dia menggebrak meja dan membuat semua orang yang ada di Caffe itu terkejut termasuk dua orang temannya.
"Sona, ada apa denganmu?" Tanya Luzi yang ikut terkejut dengan tindakan temannya itu.
"Iya kau kenapa?" Timbal Aara yang kini memerhatikan sekitar Caffe untuk meminta maaf atas gangguan yang baru saja terjadi.
"Kau menyindirku ternyata?" Teriak Sona pada Luzi yang terduduk disampingnya.
"Baru sadar dia." Ledek Luzi pada Aara dan tidak menghiraukan ucapan Sona.
Aara dan Luzi pun tertawa melihat kelakukan Sona yang seperti anak kecil itu dan tak menyangka jika anak paling muda diantara mereka ternyata sudah menjadi sarjana. Memang jika melihat dari postur tubuh Luzi lah yang paling kecil diantara mereka, sedangkan Aara tidak jauh dari usianya, besar. Namun Sona masih jauh lebih tinggi dibanding Aara.
Ketiga wanita yang sama-sama sudah berkepala dua itu mengobrol sambil sesekali tertawa saat hal lucu terselip di obrolan mereka. Secangkir kopi racikan Aara serta beberapa macam desert ikut menemani mereka.
"Oh iya, kenapa kemarin rambutmu sangat berantakan, Luzi?" Tanya Aara tiba-tiba.
"Berantakan? Bukankah Luzi begitu mencintai rambutnya yang selalu rapi itu?" Sanggah Sona yang terkejut saat mendengar rambut andalan Luzi yang selalu rapi itu tiba- tiba berantakan.
"Ih, kau ini menjawab saja. Aku juga bertanya pada pemiliknya." Ujar Aara yang menunggu jawaban dari Luzi, "Luzi, ayo jawab!"
"Itu karena pekerjaanku," jawab Luzi singkat.
"Pekerjaan? Pekerjaan apa?" Tanya Aara.
"Ih, kau ini. Dia kan polisi, berarti berkaitan dengan kasus." seru Sona seraya memukul bahu Aara yang duduk didepannya.
"Aku juga tau itu, tapi kenapa?"
"Karena itu tugasku, sudahlah jangan membahas pekerjaan saat berkumpul, Aku ingin lepas dari itu untuk saat ini." Jelas Luzi.
Mereka pun beralih topik pembicaraan mengenai kriteria pria idaman saat Sona tiba-tiba bilang ia ingin segera menikah.
"Kau serius?" Tanya Aara dan Luzi bersamaan.
"Hem. Aku ingin menikah dengan pria yang bisa menanggung semua kehidupanku, karena setelah menikah aku hanya akan pokus kepada suami dan anak-anak ku nanti." Jelas Sona hingga membuat Luzi dan Aara seketika bertepuk tangan.
"Wahh... aku tidak percaya semua yang baru aku dengar ini," Ucap Luzi seraya mengakhiri tepuk tangannya.
"Aku juga, kau yang paling muda diantara kami tapi kau yang pertama memikirkan hal itu." Timbal Aara.
"Hehe, aku hanya berimajinasi. Kalau kalian ingin pria seperti apa?" Sona mulai bertanya kepada temannya.
Aara dan Luzi saling menatap, "kau duluan," Luzi menyuruh Aara untuk menjawab pertanyaan dari Sona.
"Aku..... ingin seseorang yang bertanggung jawab, pekerja keras, dan..."
"Dan apa?" Tanya Luzi yang penasaran karena Aara terlalu lama melanjutkan ucapannya.
"Tampan." Jawab Aara malu-malu.
"Oh.... tampan." Sona dan Luzi kompak membulatkan mulutnya.
"Kamu, Zi?" Sona kini beralih pada Luzi.
"Aku ingin pria tampan dan mapan." Jawabnya singkat lalu menyuap sesendok desert.
"Hanya itu?" Ucap Aara.
"Hem."
"Astaga, aku tidak percaya bahwa kriteria Luzi pada rupa dan materi." Celetuk Sona. Pasalnya Luzi adalah orang yang paling menghargai siapapun dan tidak pernah melihat materi ataupun rupa mereka.
"Aku hanya bicara realistis, karena mungkin setelah menikah aku akan berhenti jadi polisi lalu membantu suamiku menghabiskan uangnya."Luzi berkata sambil tertawa. "Aku hanya bercanda." lanjutnya setelah tawa itu hilang.
"Jika benar juga tidak masalah," seru Aara, "dan jika kau butuh bantuan untuk membantumu menghabiskan uang suamimu, aku dengan senang hati siap." Lanjutnya dan tertawa.
"Cih, dasar kalian."