ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Enak namun pahit



Lelah begitu terasa diseluruh tubuhnya hingga membuat Luzi ingin segera tiba dirumah dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Namun apa boleh buat, ia harus mengambil sepeda motor miliknya yang ia simpan di bengkel bersamaan dengan baret yang tertinggal ditempat itu.


Dengan ransel dipunggung layaknya seorang pelajar, Luzi berbelok kekiri lalu tiba didepan bengkel tempat dimana ia menyimpan motornya kemarin.


"Akhinya sampai." Ujarnya senang karena akhirnya ia bisa pulang mengendarai motornya tanpa harus berjalan kaki seperti kemarin.


Namun tak seperti kemarin yang cukup ramai, Tak ada aktivitas montir di bengkel itu yang tengah bermain oli atau mengotak-atik mesin.


"Kenapa bengkel ini sepi?" Gumam Luzi seraya melihat-lihat sekeliling bengkel itu berharap dirinya dapat bertemu seseorang untuk bertanya.


Lima menit lebih dirinya mundar-mandir didepan bengkel itu namun tak ada juga orang ditempat itu.


"Astaga, apa motorku hilang?" Gumam Luzi dipikirannya. Untuk membuktikan bahwa pikirannya sudah salah, Luzi memutuskan untuk masuk kedalam minimarket bertanya pada orang didalam sana.


"Permisi, saya ingin menanyakan tentang bengkel itu Kenapa sepi?" Tanya Luzi pada seorang karyawan yang tengah memengang alat kebersihan.


Karyawan pria itu menengok bengkel didepannya, " Bengkel itu tutup dihari Sabtu." Ucapnya. "Jika ada perlu dengan mereka, kembalilah besok." Lanjutnya.


"Oh begitu, terimakasih." Usai menemukan jawaban yang memang ingin ia dengar, Luzi kembali berjalan menuju pemberhentian bus untuk pulang kerumahnya.


Setibanya dirumah, bukan istirahat seperti yang ia bayangkan sebelumnya melainkan ia harus kembali menyusun rencana untuk besok supaya kasus yang ia tangani cepat terselesaikan.


Membuka laptop berwarna hitam miliknya Luzi mengetik beberapa kalimat hingga muncul beberapa artikel.


Terjadi lagi! Universitas GAZ lagi-lagi tersandung kasus yang sama..


Mengapa sering terdapat mahasiswa hilang di kampus universitas GAZ?


Ini laporan kepolisian setelah beberapa jam menyebarkan berita tentang....


Dan masih banyak lagi artikel tentang universitas GAZ. Namun satu hal yang membuat Luzi tertarik untuk membuka website itu dan membacanya.


→Menurut seorang anonim yang tidak diketahui apa alasannya menyampaikan hal ini dimedia sosial mengenai banyaknya penjual organ dalam tubuh manusia secara illegal tahun ini. Baik itu berupa ginjal, hati, jantung, hingga mata.


Namun Polisi yang mendengar kegaduhan itu hanya membiarkannya dan mengatakan kepada publik bahwa itu hanya sebuah ungkapan untuk menakut-nakuti publik.


Tetapi terdapat banyak juga sebagian masyarakat yang menganggap berita itu benar adanya dan menjadi was-was hingga mendesak polisi untuk segera mencari tahu kebenaran dibalik semua yang dikatakan sang pemberi pesan anonim...


Mulut Luzi berhenti bergerak setelah membaca salah satu artikel di website. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada jendela yang menampakkan langit berubah warna menjadi orange.


Luzi bangkit dari duduknya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa debu yang menempel pada tubuhnya akibat berada diluar seharian.


Deras air hangat yang turun dari shower mengguyur tubuh Luzi dari atas hingga bawah. Dengan mata yang terpejam, Luzi merasakan perih ditangannya yang terluka dan perlahan memutar tap water untuk menambah derasnya guyuran air dari shower itu.


Sekitar dua puluh menit waktu dihabiskan Luzi didalam kamar mandi. Usai mengenakan piyama Luzi berjalan menuju dapur untuk makan malam.


Beberapa bahan sudah ia ambil dari dalam lemari pendingin. Ada daging sapi juga beberapa sayuran segar diatas meja. Kali ini Luzi ingin mencoba membuat daging sapi panggang seperti orang-orang didalam Vidio.


Memotong dan mencuci semua bahan sudah ia lakukan. Kini tinggal memberi bumbu dan memasukkannya kedalam oven.


"Kenapa dia ingin diriku?" Gumam Luzi tiba-tiba saat ia melihat area dapur dimana kejadian tadi pagi terjadi ditempat itu.


"Apa dia seorang stalker?" Pikir Luzi hingga dirinya bergidik ngeri.


Luzi memutar waktu sekitar dua puluh menit sampai daging panggangnya matang sempurna. Bosan karena dirinya hanya berdiri memandangi oven, Luzi kini berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya.


"Sona memanggil? Ada apa?" Ucap Luzi ketika ia melihat sebuah pemberitahuan dilayar ponselnya.


Jari jempolnya langsung menekan nomor Sona untuk menghubungi kembali wanita itu. Tak butuh waktu lama untuk dirinya mendapat jawaban dari temannya.


"Akhinya kau menghubungiku kembali," ucap Sona dari balik telepon.


"Aku takut terjadi sesuatu, Ada apa?" Tanya Luzi langsung.


"Mari beralih ke Vidio call." Saran Sona.


"Baiklah." Luzi menyetujui keinginan Sona kemudian wanita itu menyambungkan panggilannya itu pada Aara.


"Hai!" Sapa Aara setelah ia menyetujui ajakan dari sona. "Waw Luzi penampilannya berbeda sekarang." Lanjut Aara memuji penampilan baru temannya itu.


"Tidak ada yang berubah. Dia hanya memotong rambutnya!" Celetuk Sona.


Aara tertawa mendengar ucapan Sona, " iya-iya aku tahu. Tapi bisakah kau memuji teman kita yang tidak pernah berubah ini?"


"Ceritanya panjang. Intinya aku ingin merubahnya sedikit," ujar Luzi tersenyum.


"Ohh..." Mulut kedua teman Luzi membulat dilayar ponselnya.


"Aara, Bagaimana cafemu?" Tanya Luzi kemudian.


"Seperti biasanya," jawab Aara.


"Baguslah, lainkali aku akan mampir ke cafemu." Ucap Luzi.


"Apakah tidak ada hal yang ingin kalian tanyakan padaku?" Kesal Sona karena hanya dirinya yang tidak ditanya oleh kedua temanya itu.


"Bagaimana hari pertamamu bekerja?" Tanya Luzi kemudian.


"Sangat buruk. Aku terjatuh tepat didepan bosku!" Kesal Sona memasang wajah cemberut.


"Kenapa kau bisa terjatuh?" Heran Aara.


"Heels ku patah, dan aku kehilangan keseimbangan hingga terjatuh." Papar Sona menceritakan semua kejadian yang terjadi padanya. "Aku sangat ingin mengubur diri waktu itu, hingga sekarang aku masih merasa malu saat bertemu dengan bosku."


Bukannya prihatin dengan kejadian yang menimpa temanya itu, kedua wanita yang mendengarkan cerita Sona malah tertawa.


"Bukannya menghiburku, kalian malah menertawakan nasibku yang buruk." Cetus Sona.


"Maaf.. maaf, lainkali ceritakan hal lucu lain mengenai dirimu." Sahut Aara yang mengusap matanya yang sedikit berair.


"Aaraaaa.." kesal Sona lalu menyuapkan sesendok daging kedalam mulutnya.


"Astaga..." Luzi segera menyimpan ponsel lalu berlari menuju dapur.


Ditempat Aara, seseorang tiba-tiba menyuruhnya keluar dari kamar karena ada tamu yang menunggu dirinya.


"Bima?"


Aara segera mengaktifkan fitur mute namun camera ponselnya jelas merekam wajah pria yang datang menemuinya.


"Wah, Aara pria itu sangat tampan." Takjub Sona dilayar ponsel. Namun Aara tidak dapat mendengar apa yang dikatakan temannya itu.


"Ada apa datang malam-malam begini?" Tanya Aara pada bima.


"Aku disuruh ibumu untuk datang," jawab Bima.


Aara melirik kearah ibunya yang tengah menguping mereka berdua. "Ibu, jangan menguping! Katakan ada perlu apa menyuruh Bima datang?"


"Memangnya kenapa? Ibu hanya ingin mengajaknya makan malam bersama." Ucap ibunya Aara.


Bima yang ada diantara perdebatan ibu dan anak itu hanya bisa diam dan memperhatikannya. "Tapi saya sudah makan malam sebelum kesini." Ucap Bima.


"Benarkah? Padahal ibu memasang banyak makanan didapur." Keluh Ibunya Aara.


"Bukannya ibu hanya memasak sup?" Seru Aara.


"Siapa bilang? Ibu masak ayam bumbu kuning, acar, sayur, dan masih banyak lagi." Jelas Ibunya Aara hingga Bima yang mendengarnya menjadi sangat lapar. Ya, sebenarnya Bima belum makan malam, ia hanya mengatakan itu untuk meredakan perdebatan kedua wanita sedarah itu.


"Yasudah, kau masuk saja ke kamarmu! Biar ibu dan Bima saja yang makan." Celetuk Ibunya Aara.


"Tapi... Saya mau ikut makan malam jika Aara juga ikut." Ucap Bima.


"Baiklah, kita sekarang ke dapur dan makan malam." Ajak Ibunya Aara hingga kedua orang itu berjalan menuju dapur.


Tanpa basa-basi Aara segera mematikan Vidio call itu dan segera menyusul ke dapur.


"Aara, mentang-mentang ada pria tampan datang kerumahnya dia melupakan kita Zi." Kesal Sona. Namun ternyata temannya itu juga tak kunjung kembali hingga akhirnya ia mengakhiri panggilan Vidio itu.


Usai melempar ponselnya dan pergi ke dapur, Luzi membuka oven yang berisi daging panggang miliknya yang ternyata sedikit gosong.


"Yah... Aku telat mengeluarkanmu." Ujar Luzi menyayangkan makanan yang ia buat dengan niat.


Dengan terpaksa, Luzi memakan daging panggang buatannya meski sedikit pahit ia rasakan saat menyantapnya.


"Tidak terlalu buruk, tapi ini sangat pahit." Ujarnya.