
"Kau lama sekali." Ucap Agnes saat Eren datang menghampirinya.
"Maaf, tadi toilet penuh." Jawabnya sambil setengah jongkok dan mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Sebenarnya kita akan kemana?" Tanya Agnes yang penasaran kemana sebenarnya tujuan mereka berdua itu. Karena daritadi Eren tidak memberitahu kemana mereka akan pergi.
Eren kini berdiri. Ia lalu menyunggikan sebelah bibirnya hingga membuat Agnes takut dengan pria itu. "Menjualmu!" Ucapnya hingga membuat Agnes membulatkan matanya.
"Aku bercanda." Lanjut Eren hingga akhirnya Agnes membuang napasnya lega.
"Aku pikir kau serius akan menjualku,"
"Mana mungkin aku menjual wanita sepertimu." Pria bertopi itu tersenyum sambil menatap Agnes yang sama-sama menatapnya.
Jantung Agnes rasanya ingin meloncat keluar saat ia bertatapan dengan Eren sang ketua organisasi mahasiswa di universitas itu. Ia tidak menyangka akan menjadi wanita yang begitu dekat dengan pria yang selalu mengenakan topi itu.
"Anu.... Bukankah kita harus pergi?" Agnes berkata dengan gugup karena Eren masih menatapnya.
Eren menepuk keningnya, "ah iya, aku lupa." Ucap Pria itu kini berjalan duluan meninggalkan Agnes yang masih mematung, "ayo!"
Agnes pun mengekori Eren dengan bibir yang terus menggurat sebuah senyuman bahagia karena ia bisa berjalan dengan sang ketua yang dihormati oleh seluruh mahasiswa di universitas GAZ.
Brugh ....
Agnes menabrak punggung Eren saat pria itu tiba-tiba berhenti didepannya,
"sudah sampai?" Tanyanya.
"Lainkali kalau jalan mata juga melihat!" Celetuk Eren.
"Maaf," ucap Agnes. Ia lalu mengerutkan bibirnya sambil menggerutu di balik punggung Eren.
Pria dengan tubuh tinggi itu kini perlahan menggeser tubuhnya supaya Agnes maju kedepan agar sejajar dengan dirinya.
Sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka membuat Agnes penasaran hingga memiringkan tubuhnya untuk mengintip ke dalam ruangan melalui celah-celah pintu.
"Masuklah." Ucap Eren dan diikuti dengan Agnes yang membuka pintu ruangan itu.
Sebuah ruangan yang begitu indah membuat Agnes mematung dengan rasa takjub yang terpancar di wajahnya. Ia lalu melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam seakan terserap energi dari benda-benda yang tersimpan rapi ditempatnya masing-masing.
"Kau boleh memakai ruangan ini untuk mengembangkan bakatmu." Eren berkata saat ia masuk ke dalam ruangan itu juga.
"Benarkah?"
"Tentu, bahkan semua alat musik ini bisa kau gunakan jika ingin." Timbal Eren sambil memegangi sebuah gitar.
Agnes pun tersenyum lalu menghampiri sebuah piano dan membuka tutupnya lalu tangannya yang kecil mulai menekan-nekan Tut's piano hingga mengahasilkan nada-nada yang indah didengar oleh telinga.
Setelah meninggalkan tempat tadi, Luzi kini mendaratkan tubuhnya disebuah kursi besi dengan kaki yang sengaja ia luruskan supaya otot-otot kakinya tidak terlalu pegal. Ia lalu mengelap dahinya yang basah karena keringat dengan tangan yang mengibas-ngibas membuat hembusan angin kecil untuk meredakan rasa gerah pada tubuhnya.
"Sumpah kampus ini lebih cocok disebut labirin," cetusnya sambil terus membuat angin kecil dari tangannya.
Sudah hampir satu jam Luzi berkeliling kampus itu, namun seperti mustahil baginya dapat menemukan ruang monitor cctv. Bahkan ia berkali-kali menemukan jalan buntu atau jalan bercabang lain dibanding ruangan dengan tulisan ruang monitor cctv.
Merasa hari ini cukup melelahkan, Luzi pun bersandar sambil memejamkan matanya lalu menghirup udara dalam-dalam.
"Ini baru dimulai, masih ada hari besok." Luzi bangkit dari duduknya lalu melihat layar ponselnya yang sudah menunjukan pukul 14.06 dan berjalan untuk menuju rumahnya mengistirahatkan tubuhnya yang sedari tadi jalan-jalan mengitari kampus itu.
"Jalan pulang kemana ya?" Luzi berhanti didepan persimpangan jalan.
Setelah menebak-nebak akhirnya ia memutuskan untuk mengambil jalur kanan yang menuju tempat parkir kampus. Ia lalu berjalan santai melewati para mahasiswa yang tengah berkumpul sambil berbisik-bisik satu sama lain. Luzi tak perduli jika mereka membicarakannya karena penampilannya yang memang aneh. Ia juga Bahkan tidak menyukai penampilannya itu apalagi rambutnya yang berantakan, sangat-sangat tidak mencerminkan dirinya yang selalu rapi.
Namun sepertinya ia salah menduga, para mahasiswa itu sepertinya sedang menggunjing seorang pria karena saat Luzi melewati mereka telinganya tidak sengaja menangkap sebuah kata keren dan tampan.
Saat Luzi mulai menjauh dari kerumunan itu, tiba-tiba sekumpulan mahasiswa itu berteriak histeris hingga membuat Luzi kini tertarik untuk melihat apa yang terjadi. Tenyata seorang mahasiswi hampir tertabrak oleh motor milik seorang mahasiswa hingga membuat mahasiswi itu jatuh terduduk. Untungnya mahasiswi itu tidak mengalami luka parah, hanya lecet dibagian tangannya akibat terjatuh.
Akhirnya setelah beberapa saat berada di kampus, Luzi kini berjalan di trotoar jalan menuju pemberhentian bus menuju rumahnya. Cuaca yang akhir-akhir ini cukup ekstrim membuat Luzi terus menukar botol minumannya saat habis dengan botol minuman yang baru untuk mencukupi kebutuhan mineral pada tubuhnya. Entah berapa banyak botol yang ia buang hari itu, yang jelas pikirannya kali ini tidak boleh sakit karena akan mengganggu waktunya untuk menyelidiki kasus universitas GAZ.