
Sekitar satu jam setengah dirinya menahan rasa kantuk hingga akhirnya dosen itu meninggalkan ruangannya dan membuat wanita dengan rambut kusut itu kini bisa mengukur meja dengan tangannya dan memejamkan kedua matanya walau sesaat.
"Materinya sungguh membosankan." Ujar Luzi yang menguap hingga membuat matanya mengeluarkan air mata.
"Gara-gara semalam aku begadang dan bangun begitu pagi, aku tidak kuat lagi menahannya." Lagi-lagi mulutnya terbuka namun segera ia tutupi dengan tangannya.
"Kelas hari ini berakhir karena dosen selanjutnya berhalangan untuk datang." Seorang wanita yang merupakan ketua kelas memberi pemberitahuan kepada seluruh mahasiswa.
"Asik..."
"Kita ke perpustakaan yuk,"
"akhirnya pulang cepat hari ini...."
"Yah, Padahal aku bersemangat menunggu dosen itu untuk masuk...."
Bermacam-macam jawaban mahasiswa saat mengetahui bahwa dosen tidak jadi masuk dan kuliah selesai. Namun kebanyakan dari mereka senang dan segera keluar dari kelas.
Begitupun dengan Luzi, ia begitu senang karena akhirnya ia dapat memejamkan matanya untuk tidur dan memilih untuk menetap dalam kelas sebelum pulang kerumahnya. Dengan mata yang tak lagi kuat menahan kantuk akhinya Luzi terlelap dengan menyembunyikan wajahnya dan bertumpu pada tangan yang ia lipat diatas meja.
Diruangan berbeda dengan suasana yang hening dan hanya satu orang saja yang diperolehkan untuk bicara, seseorang tengah menahan gejolak kesal dalam dirinya karena ingin segera keluar namun dosen masih terus bicara didepan kelas.
"CK, kapan kau berhenti bicara?" Gerutunya dalam hati, Bola matanya berputar muak dengan semuanya.
"Hei, kau!" Ucap dosen menunjuk wanita itu hingga membuat semua mata kini tertuju padanya.
"Saya?" Abel menunjuk dirinya sendiri.
"Ya. Menurut Jerri J. Weighnan apa itu akuntansi?" Tiba-tiba dosen itu memberinya sebuah kuis hingga membuatnya kelabakan membuka lembaran kertas yang berisi catatan tadi untuk mencari tahu jawabannya.
"Cepat. Cepat. Kenapa kau begitu lama?" Tegas Dosen pria itu dan langsung beralih menunjuk seorang pria yang duduk dibangku paling belakang.
"Kau, apa jawabannya?"
"Yaitu proses mengidentifikasi, mencatat, dan melaporkan transaksi." Jawabnya.
"Bagus," dosen itu memberi tepuk tangan untuk pria yang berhasil menjawabnya kuisnya itu, diikuti oleh seluruh mahasiswa. "Lainkali jangan membuka buku saat ada pertanyaan, jawablah diluar kepala!" Tegas Dosen itu yang menyindir perbuatan Abel.
Abel yang merasa tersindir oleh perkataan dosen itu lantas menundukan kepalanya, "sialan, aku tadikan hanya kaget tiba-tiba diberi kuis." Katanya dalam hati.
Dosen pria yang masih agak muda itu kini membereskan mejanya dan mengakhiri kelasnya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Keheningan yang terjadi dikelas itu seketika berubah menjadi ricuh dengan suara-suara para mahasiswa. Ada yang mengobrol dan ada yang berteriak meledeki Abel yang tak bisa menjawab pertanyaan dari dosen tadi.
"Ternyata Abel tidak bisa menjawab jika tidak membuka buku." Ledek seorang pria hingga semua mahasiswa dalam ruangan itu membernarkannya.
"Kau benar, jangan-jangan selama ini dia selalu begitu." Sahut rekan pria itu kemudian tertawa.
Abel mengepalkan tangannya dengan kuat hingga membuat kedua temannya Rima dan Lia tegang dibuatnya.
"Diam!" Teriak Abel hingga ruangan yang semula ricuh kembali hening.
"Ada apa dengannya?" Beberapa mahasiswa berbisik pada teman-teman. Dan dijawab dengan hentakan bahu serta gelengan kepala.
Setelah mematung cukup lama, Abel kini berjalan cepat untuk keluar dari ruangan itu untuk mencari udara serta mendinginkan tubuh kepalanya yang panas karena amarah.
"Sialan pria itu," Geram Abel.
"Abel, kau duduk dan minumlah." Rima menarik tubuh Abel supaya duduk dikursi didekat mereka dan memberikan sebotol air supaya pikiran dan otak wanita itu mendingin.
Abel menuruti semua yang diperintahkan oleh temannya itu. Matanya berkeliling saat tengah meneguk air mineral hingga ia menangkap sesuatu yang begitu ia tunggu-tunggu.
Ia segera mengakhiri minumnya dan segera berdiri lalu memberikan botol itu kepada Lia . "Apa aku masih terlihat marah?" Tanya nya hingga membuat kedua temannya heran.
"Su-sudah lebih baik. benarkan, Rim?" Lia melototkan matanya untuk memberi kode kepada Rima.
"I-iya, Kau jauh lebih baik." Tambah Rima meyakinkan Abel mengenai ucapan Lia.
"Baiklah, kalian tunggu disini! Aku ada urusan." Abel segera meninggalkan kedua temannya itu yang masih heran dengan sikap Abel yang berubah tiba-tiba.
"Mau kemana dia?" Tanya Lia pada Rima.
"Entahlah, kita ikuti saja kemana kakinya membawa Abel." Jawab Rima yang kini mengikuti kemana perginya Abel.
"Astaga, jadi dia...." Rima dan Lia saling menatap saat kedua mata mereka melihat sesosok pria yang tengah duduk dengan buku ditangannya.
Dengan langkah yang sengaja ia pelankan, Abel berjalan mendekati seorang pria yang tengah duduk seorang diri itu.
"Apa aku boleh ikut duduk?" Tanya Abe dengan suara yang sengaja ia hendahkan.
Pria itu tak menghiraukan pertanyaan Abel dan sibuk dengan tulisan-tulisan yang menghiasi lembaran kertas berwarna putih itu. Bahkan dari suaranya saja ia sudah dapat menebak siapa wanita itu tanpa harus melihatnya.
Masih menunggu dengan sabar, Abel tetap berdiri disamping pria itu."Mungkin dia tidak mendengarnya," Batin Abel.
"Boleh aku ikut duduk disebelahmu,Gino?" Abel tersenyum karena suaranya kali ini cukup keras hingga ia percaya diri jika akan dijawab.
"Silahkan," Jawab Gino.
Abel terkejut mendengar jawaban Gino hingga ia begitu semangat dan segera berjalan cepat untuk duduk disamping Gino. Namun belum lima detik ia terduduk, Gino langsung berdiri dan bersandar pada dinding.
"Gino! Kenapa kau malah berdiri?" Kesal Abel.
"Aku sudah terlalu lama duduk." Jawabnya dengan mata yang masih tertuju pada buku yang dipegangnya.
"Lama? Bahkan kau belum sepuluh menit duduk disini," Jelas Abel. Karena wanita itu jelas-jelas melihat Gino yang tangah berjalan dan mendaratkan tubuhnya dikursi yang tengah ia duduki.
Drrtttt .....
Drtt.......
Gino mengambil ponselnya dan segera menempelkan benda itu kedaun telinganya. "Halo.."
"Aku dikantin!" Ucap Bima dari balik telepon.
"Aku akan menyusul." Gino mematikan panggilan itu dan segera berjalan menuju kantin.
Abel yang ditinggal begitu saja tanpa kata-kata segara mengejar Gino dan menghalangi langkah pria bertubuh tinggi itu.
"Kau mau aku injak?" Ucap Gino setelah ia habis kesabaran karena kakinya sulit untuk melangkah.
Abel berhenti didepan Gino hingga mereka saling berhadapan, "Hem, di injak pun aku tak masalah." Ucapnya sambil memberikan senyuman termanis hingga matanya tertutup.
Melihat Abel yang bertindak seperti itu membuat Gino memiliki ide untuk melewati Abel yang sedang menutup matanya itu diam-diam.
"Aku ada hadiah untukmu, tapi kau harus tutup matamu. jangan membukanya sampai aku menyuruhmu!" Ucap Gino dan langsung disetujui oleh Abel.
"Sudah belum?" Abel tak sabar membuka matanya dan segera melihat hadiah yang hendak diberikan oleh Gino untuknya.
"Belum." Kesempatan tidak datang dua kali dan Gino segera meninggalkan Abel dengan bersembunyi disebuah sudut sebelum wanita itu kembali membuka matanya.
"Gino..." Teriak Abel saat ia membuka matanya dan pria itu tak lagi dihadapannya. Ia lantas memutar tubuhnya untuk mencari sosok yang ia sukai itu namun tak kunjung ia temukan.
"Sial. Dia membodohiku!" Geram Abel dan kembali berjalan menjauh dari tempat itu untuk kembali ke tempat dimana kedua temannya menunggu.
"Huh..." Gino menghembuskan napasnya lega setelah berhasil menghindar dari Abel.