ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Korban! bukan rekan



Langit sudah menggelap, Ketiga orang itu kini terduduk dimeja restoran menunggu pesanan mereka masing-masing. Gino dan Bima duduk bersebelahan sedangkan Luzi duduk didepan mereka.


Bima menyodorkan tangannya, "Ohiya, kenalin aku Bima." Ucap Bima memecah keheningan diantara mereka.


"Hai, Bima." Jawab Luzi tanpa membalas tangan Bima.


Bima pun menarik kembali tangannya, "siapa namamu?" Lanjutnya.


"Ze...." Belum sempat membenarkan ucapannya, tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri meja mereka,


"akhirnya datang juga." Girang Luzi yang langsung mengambil garpu dan sendok tanpa melanjutkan ucapannya tadi.


"Boleh aku makan?" Tanya Luzi sebelum mulai menyantap hidangan didepannya itu.


"Tentu," jawab Gino yang sedari tadi menyimak pembicaraan antara Bima dan Luzi.


"Terimakasih." Ucap Luzi lalu mulai menyantap hidangan itu.


Mereka bertiga kini menikmati pesanan mereka masing-masing. Namun tiba-tiba Kedua pria itu malah bengong karena dibuat terkejut dengan cara makan Luzi yang pelan-pelan dan tenang. Padahal mereka berdua tahu bahwa Luzi seharian belum makan karena terkurung di ruangan kampus. Makanya mereka memilih untuk singgah terlebih dahulu di sebuah restoran. Tapi cara makannya itu berbeda dari orang-orang yang sedang kelaparan atau lebih kasarnya tak punya.


"Kenapa kau bisa terkunci diruangan alat olahraga?" Tanya Gino


Tak langsung menjawab, Luzi disibukkan dengan mulutnya yang masih mengunyah, "Aku hanya penasaran dengan suara benda jatuh, dan saat masuk kedalam aku malah dikunci." Jawabnya setelah makanan yang tadi ia kunyah masuk kedalam perut.


"Astaga, jadi dia tak menjawab karena masih mengunyah?" Batin Gino.


"Meskipun penampilannya berantakan tapi caranya makan sungguh diluar dugaan.." batin Bima.


"Apa maksudmu dengan dikunci?" Gino merasa heran dengan kata dikunci seakan-akan wanita itu tahu bahwa itu kejadian yang disengaja.


Luzi menghentikan aktivitasnya lalu menatap dua orang didepannya itu, "kemungkinan ada orang yang benci padaku dan mengunciku," Jawab Luzi santai.


"Kau tau siapa dia?" Tanya Bima antusias.


"Mana aku tahu, aku kan korban bukan rekannya." Ucap Luzi hingga membuat Bima tersenyum simpul.


Makan malam pun telah usai mereka lakukan dengan pembayaran ditanggung Bima, Si orang kaya. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan restoran itu lalu menuju parkiran.


"Kau pulang kemana?" Tanya Gino yang berjalan dahulu. Namun tenyata hanya angin malam lah yang menjawab pertanyaannya itu. Merasa dirinya tak mendapat jawaban Gino pun membalikkan tubuhnya dan tak melihat keberadaan Luzi dibelakangnya.


"Kemana wanita itu?" Gino bertanya pada Bima yang terus berjalan sambil melihat layar ponselnya.


Gino menuruti perkataan Bima untuk menunggu Luzi diparkiran. sedangkan pria yang sibuk dengan ponsel itu sudah masuk ke dalam mobil.


"Ah, leganya.." Ucap Luzi setelah keluar dari toilet. Ia lalu membasuh tangannya sambil menatap jermin yang menampakan plester dipelipisnya.


"Jika David melihatku seperti ini, dia pasti akan langsung menjauhiku," Luzi berbicara sambil membenarkan penampilannya yang sengaja ia acak-acak dan baru menyadari jika ia memakai sweater yang tak pernah ia punya.


"Tunggu dulu, sweater siapa ini? Kenapa ditubuhku?" Luzi mencoba mengingat-ingat semua sweater yang ia punya dan tak ada satupun seperti yang sedang menempel ditubuhnya.


"Astaga, apa ini baju mereka berdua?" Luzi terkejut dengan pikirannya sendiri, "Sepertinya mereka telah pergi, jadi lainkali saja aku kembalikan pada mereka."


Luzi keluar dari kamar mandi dengan santai. Ia masih merasakan lemas setelah seharian tadi terkurung dan dikejar laba-laba gila. Mengingat kejadian tadi membuat wanita itu bergidik ngeri.


"Aku tidak akan mau kesana lagi." Ucap Luzi lalu berjalan menjauh dari area parkir menuju tempat pemberhentian bus.


"Hei!...."


"Hei!... Kau," teriak seseorang.


Luzi menghentikan langkahnya saat mendengar suara orang yang sedang berteriak. Ia melirik ke kanan dan ke kiri namun tak menemukan seseorang yang tengah berteriak kearahnya.


"Mungkin bukan padaku." Luzi kembali melangkahkan kakinya untuk pulang melewati jalanan yang masih ramai karena malam belum terlalu larut.


Dalam langkahnya yang pelan Luzi tak henti-hentinya tersenyum saat memikirkan pria dambaan hatinya yang tak lain adalah bawahan langsung komandan tempatnya bekerja, yaitu David. Entah rasa kagum atau rasa suka karena lawan jenis yang tengah dirasakan oleh Luzi, yang jelas alasan lainnya ia mengambil tugas untuk masuk ke universitas juga tak lain karena ingin mendapat pengakuan dari David.


"Ini sudah malam, pasti dia sudah pulang." Luzi mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi David.


"Sial, aku lupa benda ini telah mati."Luzi kembali menyimpan benda persegi panjang itu kedalam tasnya. Ia kini berjalan menunduk karena ingin saja berjalan seperti itu.


"Eh..." Tiba-tiba sebuah tangan menarik dirinya dan membawanya kesebuah gang.


.


.


.


.