ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Diantar sampai kamar



Menjelang malam, akhirnya hujan pun berhenti. Bak sebuah kerupuk yang akan meleleh saat terkena air, Orang-orang yang tadi berteduh untuk menghindari hujan kini telah kembali melanjutkan tujuan mereka. Begipula dengan Luzi dan Gino, mereka kini hendak melanjutkan perjalanannya masing-masing.


"Butuh tumpangan?" Gino tiba-tiba menghadang Luzi dengan motornya.


"Tidak, terimakasih." Tolak Luzi seraya berjalan berlainan arah.


"Tapi aku perlu bantuanmu!" Teriak Gino hingga membuat Luzi menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Apa itu?" tanya Luzi setelah membalikkan tubuh mungilnya.


"Tolong bawakan aku paper bag ini, lalu kau ku antar pulang." Tawar Gino, "bagaimana?"


Luzi berpikir sejenak, lalu berlari kearah pria itu. "Baiklah," Luzi mengambil paper bag yang cukup besar itu.


"Tapi aku harus belanja bahan makanan dulu, apa kau tidak masalah?"


"Asal kau tidak lama, aku tidak masalah." Jawab Gino lalu mengenakan kembali helm nya itu. "Ayo!"


Masih belum naik, Luzi malah mematung disamping Gino.


"Ayo naik!" Seru Gino


"Helm ku mana?" Luzi menyodorkan tangannya untuk meminta pelindung kepala untuknya pada Gino.


"Tidak ada." Jawabnya setelah membuka kaca helm, "Naiklah, aku jamin tidak akan terjadi apapun meski kau tidak memakai helm."


Luzipun dengan terpaksa naik keatas motor sport hitam itu. Sebenarnya jika sejak awal ia tahu bahwa pria itu hanya membawa helm satu, maka ia akan menolak tawaran pria itu. Tapi apa boleh buat, ia telah sepakat dan harus melakukannya.


"Pegangan!" Teriak Gino. Namun sepertinya Luzi tak mendengar ucapan pria itu karena knalpot motor begitu bising.


Berpikir bahwa Luzi sudah berpegangan lantas Gino pun melajukan motornya, namun tiba-tiba seekor kucing lewat didepan jalan mereka hingga Gino menginjak rem mendadak dan membuat kepala Luzi menabrak helmnya.


"Aww..." Luzi memegangi kepalanya yang sakit karena terbentur helm. "Kau bisa bawa motor tidak?"Teriaknya dari belakang setelah ia memukul bahu pria itu.


Gino hanya dapat tersenyum dari balik helmnya, "kau tidak lihat kucing barusan lewat? Lagian kan sudah ku bilang, pegangan!"


"Apa?" Teriak Luzi hingga pria itu menggeleng.


Tangan Gino tiba-tiba meraih tangan Luzi yang memegang paper bag hingga membuat Luzi terkejut. Ia lalu mengarahkan paper bag itu ke depannya serta tangan Luzi yang ia arahkan ke pinggangnya supaya berpegangan.


Gino tiba-tiba mematikan mesin motornya. "Jangan sampai paper bagnya jatuh!" Ucapnya setelah membuka kaca helm.


"Eh? Jadi dia menarik tanganku hanya untuk menahan paper bag nya supaya tidak jauh? Ku pikir dia ingin modus padaku." Gumam Luzi dalam hatinya.


"Iya." Jawabnya singkat. Lalu mengeratkan pelukannya pada Gino.


Gino menatap tangan Luzi yang kini melingkar diperutnya, "aku menyuruhmu memegang paper bag, tapi kau malah memegang tubuhku." Gumam Gino dalam hatinya seraya menggeleng pelan lalu kini melajukan motornya.


Tujuh menit kemudian....


Gino dan Luzi tiba didepan sebuah minimarket. "Ini, peganglah. Aku akan masuk kedalam." Luzi memberikan paper bag itu kepada Gino yang sedang melepas helmnya.


Gino mengambil paper bag itu setelah ia menyimpan helmnya didepan motor sport hitam itu. Lalu kini ia mengekori Luzi masuk ke dalam supermarket. Luzi yang menyadari bahwa Gino kini mengikutinya tiba-tiba mempunyai sebuah ide untuk mengerjai pria itu. Ia kini berjalan ke tempat sayuran dan memilih-milih mana sayuran dengan kualitas terbaik.


"Hei lihat. Menurutmu mana yang bagus?" Luzi mengangkat kedua tangannya yang sama-sama tengah memegang wortel dengan ukuran yang berbeda.


"Namaku Gino, bukan hei!" Ketus pria itu dan berjalan mendahului Luzi.


Luzi yang melihat Gino kesal memajukan bibirnya kemudian tersenyum dan memasukan satu wortel yang tadi ia pegang lalu mengikuti pria itu dan mempercepat memilih kebutuhan makanan yang lain.


"Totalnya 500," ucap kasir seraya menukar barang belanjaan dengan uang yang dipegang Luzi.


"Terimakasih." Ucap kasir itu sambil tersenyum.


Luzi membuka pintu supermarket dan menghampiri Gino yang duduk di kuda besinya menunggu kedatangan Luzi.


"Ayo." Gino kembali memakai helmnya bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanannya.


"Tunggu dulu," Luzi menyimpan belanjaannya lalu kini membuka jaket yang membalut tubuhnya.


Gino yang melihat Luzi tiba-tiba membuka jaketnya lantas terkejut, "hei, kau mau apa?"


Ternyata Luzi membawa ransel berbahan kain yang disembunyikan dibalik jaketnya. Ia kini memasukan barang belanjaanya itu perlahan-lahan supaya tidak hancur.


"Astaga, aku pikir dia akan berbuat aneh-aneh." Gumam Gino


"Jadi daritadi kau membawa ransel? Kenapa tidak bilang?" Ucap Gino saat melihat Luzi yang tengah memasukan belanjaanya dengan hati-hati.


Luzi mengangkat wajahnya, "kenapa harus bilang padamu?"


Bukannya menjawab Luzi malah memberi Gino sebuah pertanyaan.


"Ck. Cepatlah, ini sudah malam." Seru Gino yang tak mau menjawab pertanyaan Luzi .


Luzi pun naik setelah ia mengenakan ransel berisi belanjaanya itu lalu kembali memegangi paper bag milik Gino.


Angin malam begitu terasa hingga menusuk kedalam tulang. Luzi mengeratkan pegangannya saat Gino melajukan kecepatan dari sedang menjadi tinggi dan menyalip kendaraan-kendaraan besar hingga Luzi memejamkan kedua matanya karena takut.


Gino yang merasa cengkraman Luzi lebih kuat dari sebelumnya lantas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi bukannya malah mengurangi. Bahkan sesekali pria itu belok ke kiri dan ke kanan hingga membuat Luzi tak sanggup membuka matanya. Ia terus memanjatkan doa supaya ini segara berakhir dan ia tiba dengan selamat.


"Astaga, seperti aku telah salah karena sudah menumpang kendaraan manusia pencabut nyawa." Gumam Luzi dalam hatinya. Ingin sekali ia turun saat itu juga, namun jangankan untuk bicara menyuruh pria itu berhenti, ia bahkan tak berani membuka matanya.


Sebelas menit waktu yang mereka tempuh dari supermarket hingga kini tiba didepan rumah Luzi. Gino membuka helmnya setelah menghentikan laju motornya dengan kecepatan turbo. Ia kini beralih melihat ke bagian perutnya yang masih dilinggkari tangan Luzi serta paper bag.


"Kita sudah sampai!" Ujar Gino yang kini menengok ke belakang. Namun tak ada sedikitpun perubahan dari posisi Luzi yang menempel pada punggung Gino bahkan jawaban pun tak terdengar ditelinga nya.


"Luzi bangunlah, kita sudah sampai." Gino menepuk-nepuk punggung tangan Luzi yang melingkar diperutnya. "Astaga dia berat sekali, sepertinya dia benar-benar tidur."


Gino terus berusaha membangunkan Luzi dengan membunyikan klakson motornya berkali-kali hingga akhirnya kedua matanya wanita itu perlahan terbuka.


"Mmm.." Gumam Luzi yang masih diposisi yang sama.


"Turunlah, kita sudah sampai!"


"Oh, sudah sampai ya." Luzi perlahan turun dari motor sport itu dalam keadaan yang masih setengah sadar dan rasa kantuk yang masih bergelayunan dimatanya.


"Ini," Luzi memberikan paper bag itu kepada Gino, "tunggu sebentar!" Ucapnya lalu masuk kedalam rumahnya sambil sempoyongan seperti orang yang mabuk. Padahal sebelum pulang ia dan Gino sama sekali tidak mampir ke sebuah bar.


"Apa ini?" Tanya Gino saat Luzi kembali dan membawa sebuah ransel berbeda dari ransel sayuran tadi.


"Masukan itu kedalam sini dan pulanglah." Ucap Luzi. Gino pun mengambil ransel itu dan memasukan paper bagnya kedalam ransel.


"Terimakasih." ucap Gino


"Hem." Jawab Luzi lalu kembali berjalan meninggalkan Gino yang sedang memasukan paper bag itu kedalam tas untuk kembali masuk ke dalam rumah.


Brugh....


Suara benturan membuat Gino menengok kearah rumah Luzi. Ternyata wanita itu menabrak pintu rumahnya sendiri yang tertutup.


"Astaga," Gino turun dari motornya dan menghampiri Luzi untuk mengantarnya masuk kedalam.


"Dia mengantuk saja sudah separah ini, apalagi jika mabuk." Gumam Gino yang kini membantu Luzi masuk kedalam rumah.


"Pulanglah, aku tidak mabuk. Jadi kau tidak usah membantuku!" Titah Luzi saat Gino memapahnya.


"Berisik, kamarmu dimana?"


"Kau mau apa ke kamarku?"


"Meminjam hairdryer, baju mamaku sedikit basah jadi harus ku keringkan dulu." Jelas Gino lalu masuk kedalam sebuah ruangan yang ternyata kamar Luzi setelah wanita itu menuntunnya.


"Hairdryer nya didepan cermin," ucap Luzi yang kini telah terduduk diatas tempat tidurnya.


"Hem." Gino mengambil hairdryer itu lalu mengeringkan baju mamanya.


Tak butuh waktu lama untuk mengeringkan baju itu. Setelah selesai, Gino kembali meletakan benda itu didepan cermin tempat Luzi berhias. Ada beberapa benda yang terdapat diatas meja seperti kebanyakan wanita punya, diantaranya lipstik dan parfum serta beberapa kotak yang berisikan ikat rambut dan jepitan.


Gino mengambil sebuah botol parfum berwarna pink lalu menciumnya, "Wanginya sama seperti dia.."