
Sesampainya dirumah, Luzi langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa yang terdapat diruang tamu kecil miliknya. Ia mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah itu karena berlari dari tempat pemberhentian bus menuju rumahnya.
Napasnya yang kini mulai kembali normal membuat Luzi bangkit untuk mengambil air dingin didalam kulkas. Satu botol air berukuran sekitar 350 ml hampir habis dalam satu tarikan napasnya.
"Ah..." Ucap Luzi setelah puas meminum air dingin itu.
"Eh, sudah habis?" Luzi terkejut saat melihat isi kulkasnya yang hanya menyisakan beberapa buah tomat, satu botol susu, dan tiga buah telur.
"Nanti saja aku belanja, cuaca juga cerah hari ini." Ucapnya lalu kembali menutup pintu kulkas dan berjalan menuju kamarnya.
"Astaga, kenapa hari ini panas sekali." Luzi membuka jendela kamarnya supaya udara masuk. Hembusan angin menerpa rambut Luzi yang lurus dan hitam saat wanita itu mengeluarkan kepalanya untuk melihat keluar.
"Berendam sebentar mungkin bukan ide yang buruk," ujar Luzi seraya meninggalkan jendela yang di biarkan terbuka dan kini berjalan ke kamar mandi untuk memenuhi kebutuhan kulitnya yang lengket akan keringat.
Satu jam kemudian Luzi keluar dan sudah berganti pakaian seperti biasa saat ia ke kampus, tak lupa juga ia mengeringkan rambut panjangnya itu menggunakan hairdryer lalu ia masukan ke dalam sebuah plastik hingga rambutnya mengembang dan berantakan karena ia tidak menyisirnya.
Selesai dengan penampilannya, kini Luzi mengambil ponsel dan sebuah ransel berwarna hitam lalu pergi menuju supermarket.
"Ka Aara, bisakah aku meminta bantuanmu?" Tanya seorang barista yang bekerja di Caffe milik Aara.
"Tentu. Apa itu?" Tanya Aya seraya menghampirinya.
"Tolong kakak buatkan dua americano untuk dibawa pulang, aku akan mengantarkan ini ke meja nomor tujuh." Ujar wanita itu.
"Oh, ok." Aara segara mengambil alih tempat pegawainya lalu dengan lihai meracik kopi pesanan pembeli.
Hari ini mereka cukup sibuk kerena pengunjung yang datang ke caffe mereka lumayan banyak. Kekurangan pegawai membuat Aara dan kedua karyawannya cukup kesulitan melayani para pembeli, karena biasanya mereka bekerja empat orang. Namun karena satu pegawai Aara sakit dan tidak bisa hadir, jadi kini hanya mereka bertiga.
"Terimakasih, ini kembaliannya." Ucap Aara seraya memberikan uang receh.
"Terimakasih," ucap wanita itu lalu menatap wajah Aara, "Perlu bantuan?"
Aara menyipitkan matanya kearah wanita itu, "Astaga, Luzi kau kenapa?" Aara terkejut saat melihat penampilan Luzi yang berantakan.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Luzi santai lalu menyimpan kopi yang diberikan Aara didepan wanita itu.
"Kau memesan Americano? Bukankah kau tidak menyukainya?" Heran Aara.
"Memang."
"Lalu itu?" Aara menunjuk plastik yang berisi Americano racikannya.
"Itu bukan punyaku, pria itu yang memesannya tadi sebelum dia pergi ke toilet lalu menyuruhku memegangnya." Jelas Luzi seraya menunjuk seorang pria tua yang baru keluar dari toilet.
"Tuan, kopinya." Ucap Luzi saat pria itu menghampiri Aara untuk mengambil kopi pesanannya.
"Terimakasih."ucapnya lalu mengambil kopi yang disodorkan Luzi beserta kembaliannya.
Luzi pun mengambil apron itu lalu memasangkan benda itu ditubuhnya dan kini ia mulai mengantarkan kopi dan beberapa camilan ke meja para pelanggan.
Tik...
Tik...
Butiran air menyentuh helm Gino hingga pria itu kini menengadahkan kepalanya ke langit.
"Hujan? Padahal tadi panas sekali." Ucap Gino dari balik helm.
Gino yang semula memacu kendaraanya dalam kecepatan sedang perlahan menaikan kecepatan supaya ia segera tiba dirumahnya sebelum hujan turun lebat seperti kemarin. Namun ternyata alam berkata lain, hujan justru turun lebat seketika hingga membuat Gino terpaksa harus menepikan motornya ke sebuah restoran untuk berteduh.
Gino segera berlari ke sebuah tenda diluar restoran lalu membuka jaketnya untuk mengeluarkan paper bag yang sudah sedikit rusak karena terhimpit itu.
"Yah rusak," Gino mengangkat paper bag itu kemudian melihat isi didalamnya, "Masih bagus."
Gino kini menyimpan tas itu diatas meja sambil menunggu hujan mereda. Namun bukannya mereda hujan malah semakin lebat disertai angin yang cukup kencang.
Satu jam kini berlalu...
Gino masih terduduk seperti sebelumnya menunggu hujan reda, namun hujan masih turun meskipun tak selebat sebelumnya. "Kalau tidak bawa paper bag mama, aku tidak perlu menunggu sampai reda."Gerutu Gino yang kini menopang dagunya.
Bukannya makin reda, hujan tiba-tiba kembali deras hingga membuat orang-orang yang tadi menerobos kembali mencari tempat untuk berteduh.
"Kupikir akan berhenti, ternyata malah menjadi." celetuk seseorang dari belakang Gino.
Mendengar suara itu membuat Gino lantas membalikan tubuhnya untuk melihat orang itu. Seorang wanita berdiri sendirian sambil mengeringkan rambutnya yang basah terkena hujan.
Tak menghiraukan wanita dibelakangnya, Pria dengan jaket berwarna hitam itu kini berlari menerobos hujan untuk masuk kedalam restoran. Gino memesan satu cokelat hangat lalu membawanya keluar dengan sebuah mangku untuk menutupi gelas cokelat itu dari air hujan.
"Kapan hujan ini akan berhenti?" Teriak wanita yang masih berdiri ditempat yang sama dengan Gino.
"Mungkin setelah kau benar-benar lelah untuk menunggu." Celetuk Gino yang kini duduk untuk menikmati cokelat hangatnya itu.
"Cih, seenaknya menjawab." Gumam wanita itu.
"Duduklah, terus berdiri tidak akan membuatnya cepat reda." Celetuk Gino hingga membuat wanita itu kini menghampirinya untuk duduk.
"Kau?" Luzi menunjuk Gino yang tengah minum itu. Ia terkejut karena sehari ini ia sudah bertemu pria itu sebanyak dua kali, meskipun yang tadi Gino sama sekali tak menyadarinya.
Gino menatap Luzi yang masih memasang wajah terkejut, "segitu terkejutnya kau melihatku lagi?"
"Eh?" Luzi terkejut dengan kata terakhir yang diucapkan Gino. Lagi? Apa pria itu menyadari bahwa tadi siang mereka sempat bertemu di restoran.
"A-aku hanya tidak menyangka akan bertemu denganmu disini." Luzi mencoba menepis pikiran tentang Gino yang tahu akan dirinya yang lain.
"Kita masih satu kota. Jadi itu hal wajar." Jawab Gino.
"CK, tadi saja dia lembut padaku, sekarang dia bahkan sangat jutek. Memang semua benar, bahwa kebanyakan pria menyukai wanita cantik." Luzi berbicara dalam hatinya.
Luzi yang kini sudah terduduk didepan Gino hanya memerhatikan pria itu tengah meniup uap dari cokelat hangatnya. Bahkan aroma dari cokelat itu sampai ke Indera penciuman Luzi hingga ia menelan ludahnya.
"Dia bahkan tidak manawariku untuk sekedar basa-basi." Luzi menggerutu dalam hatinya.
Namun sebenarnya yang manarik perhatian Luzi adalah Gino, bukan cokelat hangat yang digenggam pria itu. Ia memperhatikan wajah mulus Gino dengan bulu mata yang cukup panjang dan alis tebal nan hitam menghiasi mata pria itu.
"Gila. Matanya sungguh indah." Luzi berkata dalam hatinya sambil menikmati indahnya mata Gino.
Gino yang tertunduk sedari tadi kini mengangkat matanya untuk melihat kedepan hingga matanya menatap retina mata Luzi yang sedang menatapnya. Kedua mata yang sama-sama berwarna brown itu saling menatap cukup lama.
"Kenapa kau terus menatap mataku?" Ucap Gino hingga tatapan diantara mereka berakhir karena Luzi langsung memalingkan mukanya. Pria itu kini mulai memeriksa matanya mencari sebuah harta Karun yang jadi aib jika orang melihatnya.
"Matamu sangat indah." Ceplos Luzi. Entah sadar atau tidak wanita itu, yang jelas ucapannya terdengar oleh Gino secara langsung.
"Itu benar. Mataku memang sangat indah." Ujar Gino setelah beberapa saat ia diam tak menjawab.
Luzi menjebikan bibirnya meledek Gino. "Kurang-kurangi rasa percaya dirimu itu." Lanjutnya
"Memangnya kenapa? Percaya diri itu penting bagi semua orang!" Seru Gino hingga membuat Luzi tertegun saat mendengar kalimat itu. Pasalnya ialah yang selalu menyebutkan kata itu jika ada orang yang menyuruhnya untuk berhenti terlalu percaya diri.