
Gino langsung mempraktekkan apa yang ditanyakan oleh Luzi hingga wanita itu membelalakkan matanya karena terkejut. Namun ia memilih berdiam diri karena dibalik punggung Gino ia dapat melihat seorang pria berdiri memperhatikan mereka.
Pria itu tak lain adalah Rendi. Ia berdiri bersandar pada dinding sambil menatap tajam kearah Luzi yang sama-sama menatapnya. Tak ada pilihan lain, kali ini Luzi terpaksa membalas ciuman Gino hingga pria itu terkejut.
"Ehem!" Rendi sengaja berdehem cukup keras hingga kedua orang itu mengakhiri percintaan pura-pura mereka.
Gino yang baru tahu jika Rendi sudah berada dibelakangnya sedikit terkejut. Sedangkan Luzi, ia hanya bertindak biasanya saja.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Bentak pria berprofesi dosen itu.
"Kami hanya—"
"Hanya apa?" Tukas Rendi.
"Hanya melakukan apa yang biasa dilakukan sepasang kekasih." Jawab Gino.
"Apa maksudmu biasa dilakukan sepasang kekasih?" Rendi bertanya dengan raut wajahnya yang marah. "Apa tidak ada tempat lain untuk melakukannya?" Lanjutnya.
"Memangnya kenapa jika ditempat ini?" Tanya Gino yang kini merangkul bahu Luzi lalu menarik wanita itu untuk lebih dekat padanya. "Lagipula ruangan ini tidak dikunci dan tak ada seorangpun yang melewatinya." Papar Gino.
"Lantas mengapa jika tidak ada yang melewati tempat ini? apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Rendi. "Apa kalian tidak ada mata kuliah hari ini?" Lanjutnya dengan nada tinggi.
Luzi hanya diam dan menatap kedua pria yang tengah adu mulut itu bergantian.
"Hei, kau! Jawab!" Ucap Rendi hingga Luzi langsung menatap pria itu.
"Ku-kuliah ku siang." Jawab Luzi.
"Yasudah, pergi dari tempat ini sekarang. Dan jangan sekali-kali lagi masuk kedalam sini tanpa izin." Sergah Rendi.
Diusir secara terang-terangan membuat kedua mahasiswa itu menampakkan wajah kesal pada Rendi. Padahal sebenarnya mereka senang akhirnya dapat keluar tanpa membuat pria itu curiga.
"Bisakah kau melepaskan tanganmu itu dari bahuku?" Celetuk Luzi ketika mereka sudah berada diluar dan jauh dari ruangan tadi.
"Memangnya kau tidak mau jalan denganku seperti ini?"
"Tidak." Ketus Luzi seraya melepaskan tangan pria itu dari bahunya. "Masuklah ke kelasmu agar kau segera lulus!" Ucap Luzi lalu meninggalkan Gino dilorong kampus sendirian.
Gino menatap kepergian Luzi, entah kemana wanita itu akan pergi. Yang jelas kini semua pertanyaan yang semula ada pada dirinya perlahan menemukan jawaban.
Usai mendapat salinan rekaman cctv, Luzi segera menjauh dari area kampus menuju stasiun kereta. Dengan sebuah earphone yang terpasang ditelinganya, Luzi berjalan sambil berbicara dengan seseorang melalui panggilan.
"Ikuti gerak-gerik pria bertopi yang terekam cctv!" Perintah Luzi pada seorang pria.
"Siap." Pria yang tengah berdiri diatap gedung itu kembali menyimpan ponselnya setelah melihat wajah pria yang dimaksud oleh Luzi. Kini ia segera bergerak saat pria yang dimaksud oleh Luzi berjalan keluar.
"Baiklah, mari kita mulai." Ucap three siap melaksanakan tugasnya untuk mengikuti pria bertopi itu.
Sementara Luzi segera kembali ke rumahnya setelah panggilan dengan three berakhir untuk melihat rekaman cctv sebelum ia serahkan ke kantor sebagai bukti.
Seperti biasanya, setelah mengirimkan makanan untuk Lila, Ann tidak pernah kembali masuk ke ruangan kuno itu hingga itu menjadi kesempatan emas untuk Lila.
Setelah menyelesaikan membaca buku-buku yang diberikan oleh Ann, Lila kembali teringat akan dinding yang rapuh diruangan kuno itu. Namun karena kondisinya yang gelap gulita sehingga membuatnya tidak dapat melihat apapun Lila mencoba mencari alasan untuk meminta sebuah senter pada Ann.
Dengan senter yang sudah ditangan, Lila menyoroti lubang yang sudah ia buat. "Mari kita lihat apa yang terdapat didalam sana." Ujar Lila.
Meskipun Lila mencoba beberapa kali, tetap saja ia tidak dapat melihat kedalam sana karena lubang yang ia buat hanya muat untuk senter.
"Haruskan aku memperbesar lubang ini?" Gumam Lila setelah mematung didepan lubang yang membuatnya cukup penasaran.
Suara cekcok dari luar ruangan membuat perhatian Lila teralihkan padanya. Hanya suara yang dapat ia dengar karena tidak ada celah untuknya melihat.
"Kenapa kau tidak pernah mendengarkan aku?" Teriak seorang wanita.
"Untuk apa aku mendengarkanmu?" Tanya balik seorang pria yang tengah berdebat itu.
"Karena aku milikmu!" Tegasnya dengan amarah yang memuncak diwajahnya. "Aku memberimu semua yang ada pada diriku!" Bentak wanita itu.
Pria yang menjadi lawan adu mulut wanita itu menyunggingkan senyuman, "bukannya kau yang menawarkan dirimu padaku sebagai imbalan karena telah mengajakmu bekerja?" Sindirnya.
"Ren..."Lirih wanita itu dengan tangan yang mengepal erat. "Aku tidak ingin kau terjebak dibalik jeruji besi. Maka dari itu aku mengajakmu untuk menyudahi semua pekerjaan ini." Papar Wanita itu dengan mata yang sudah memerah karena menahan air mata.
"Ann dengarkan aku!" Rendi mendekat pada wanita yang dalam hati kecilnya memiliki tempat tersendiri itu. "Aku tidak akan mendekam di penjara. Sama sekali tidak akan! Begitupun denganmu, aku tidak akan membiarkan kau melahirkan anak kita dipenjara." Kata Rendi seraya memegang perut Ann.
"Tapi Ren..." Rintih Ann hingga matanya yang sudah memerah kini mengeluarkan air mata. "Berjanjilah padaku kau akan menjadi ayah yang baik untuknya." Ucap Ann dengan suara payau.
"Ternyata Ann tengah mengandung?" Ucap Lila yang menguping percekcokan dua manusia dari balik pintu kamarnya.
"Siapa suaminya? Apa pria yang waktu itu bersamanya?" Lila mencoba menebak-nebak sosok suami Ann.
Rendi kini memeluk Ann mencoba menenangkan wanita itu. Meskipun ia kesal padanya, tapi ia mengerti keadaan Ann yang tengah mengandung hingga hormonnya lebih sensitif dari biasanya. Itulah sebabnya mulai hari ini Rendi melarang Ann untuk menonton televisi ataupun membaca berita-berita karena takut kejadian serupa akan terjadi.
"Berjanjilah padaku kau tidak akan begini lagi." Ucap Rendi seraya mengelus puncak kepala wanita yang tengah mengandung buah darinya.
Ann tidak menjawab, ia malah menyembunyikan wajahnya pada tubuh Rendi dan memeluk pria itu erat-erat.
"Aku Lelah..." Ucap Ann pelan hingga wanita itu kini terlelap dipelukan Rendi.
"Astaga, wanita hamil lebih rumit dari gadis kecil." Gumam Rendi dalam hatinya.
Dengan perlahan ia kemudian mengangkat tubuh Ann dan memindahkannya ke atas ranjang supaya tidurnya lebih nyenyak.
Dengan mata yang terlelap dan napas yang teratur, Ann begitu cantik hingga membuat Rendi ikut merebahkan tubuhnya dihadapannya.
"Aku berjanji setelah ini aku akan berhenti dan menurutimu untuk pindah dan memulai kehidupan hidup baru bersama anak kita." Ucap Rendi lalu mengecup kening Ann dan pamit kepada buah hatinya sebelum akhinya pergi meninggalkan wanita yang tengah tertidur itu.
Usai bayangan Rendi menghilang, Ann perlahan membuka kadua matanya dan kini memegang perutnya. "Semoga ayahmu menepati janjinya." Ucapnya seraya cairan bening mengalir hingga bantal yang kering berubah menjadi basah.
Didalam ruangan Lila mencoba mencari celah untuk menyaksikan keadaan diluar juga melihat pria yang berstatus sebagai suami Ann. Namun nihil, ternyata meskipun ruangan itu kuno tapi bangunannya masih cukup kokoh.
Terlihat jelas dari pintu yang berada dihadapan Lila yang masih kuat dan tidak ada tanda-tanda dimakan oleh rayap.
"Apa sudah selesai?" Ucap Lila dan mendekatkan telinganya pada pintu. "Sepertinya suami Ann pergi dari rumah dan tidak akan kembali." Tebak Lila. Ia mengira bahwa perdebatan yang terjadi diantara pasangan itu membuat sang suami meninggalkan Ann.
"Apa Ann baik-baik saja?" Pikir Lila. Ada sedikit rasa khawatir pada dirinya mengenai kondisi Ann yang ia dengar-dengar tengah mengandung.
"Semoga kau kuat Ann..." Ucap Lila lalu kembali bangkit dan berjalan menuju tempat tidurnya.
Setibanya dirumah Luzi segera mengambil laptopnya kemudian menyambungkan kabel USB pada ponsel tadi yang menyimpan data dari komputer kampus.
Dengan teliti Luzi mengamati Vidio yang diputarnya dari kejadian saat Gino mengantar sepasang suami istri yang tak lain adalah orang tua Lila, salah satu mahasiswi yang saat ini diketahui telah menghilang.
Luzi menambah volume suaranya agar ia dapat mengerti apa yang terjadi dalam rekaman itu.
Drtttt.....
"Halo?"
"Kau dimana?" Tanya seseorang yang tak lain adalah six, "cepat kemari dan bawa rekaman itu!"
"Baik."