ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Face to face



"Nomor 15 apa jawabanmu?"


"64." Jawab Luzi singkat lalu kembali duduk.


Sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Luzi sedikit terkejut mendengar jawaban Luzi. Lalu beberapa saat kemudian dia menyunggingkan senyuman kecil.


Kini saatnya mendengar jawaban yang benar dari senior pembaca kuis itu. Denyut jantung setiap orang dir ruangan itu sepertinya terdengar hingga telinga teman yang duduk di samping mereka saking menegangkannya.


Itu juga yang tengah dirasakan oleh kelompok Luzi. Antara lolos atau mendapat hukuman yang tengah menunggu mereka diakhir kuis ini. Mereka sebenarnya tidak masalah mendapat hukuman, tapi karena Luzi yang menjawab membuat mereka semua kesal dan ingin menendang perempuan kusut itu keluar dari kelompok mereka.


"Karena yang menjawab benar hanya ada satu maka mari kita hitung sama-sama di mulai dari tiga." Senior itu menginstruksikan untuk menghitung mundur.


Tiga......


Dua.......


Agnes dan Lily kompak menutup telinga mereka, Angga dan Dito lebih memilih untuk menundukkan kepala mereka sedangkan Dito dan Nita menutup wajahnya dengan jari yang sengaja mereka regangkan.


Satu.......


"Jawabnya adalah 64." Teriak senior itu lalu menyuruh seluruh calon mahasiswa untuk memberikan tepuk tangan kepada kelompok 15 karena menjadi satu-satunya yang menjawab benar.


Mendengar jawaban kelompok mereka benar semua anggota kelompok Luzi terkejut kemudian bersorak dan ikut tepuk tangan. Keinginan mereka untuk menendang Luzi si wanita kusut terlupakan karena jawaban mereka benar, lebih tepatnya satu-satunya.


Permainan Kuis tadi memerlukan waktu yang cukup lama hingga jam makan siang tiba. Semua mahasiswa yang merasa lapar pergi ke kantin kampus untuk mengisi ruang kosong diperut mereka begitupula dengan Luzi yang sudah terduduk di bangku kantin sambil menikmati makan siangnya.


Ia melihat orang-orang berjalan sambil menenteng makan siangnya mencari tempat untuk duduk.


"Bolehkan aku duduk disini?"


Luzi menoleh kearah orang itu, "Tentu." Ucapnya lalu kembali menyuapi mulutnya yang telah kosong.


Orang itu pun kini duduk berhadapan dengan Luzi. Tak ada obrolan yang terdengar diantara dua orang itu sebab mereka tidak saling mengenal.


"Anu...apakah kau mahasiswi lama?" Tanya Luzi. Ia mencoba memecah suasana hening diantara mereka sekalian mengorek suatu informasi dari wanita itu.


Wanita itupun menatap Luzi, "Mungkin, karena aku baru semester empat disini." Jawab wanita itu.


Luzi pun membulatkan mulutnya, "Lalu apa kau tahu tentang siswi yang..."


"Jangan pernah membicarakan hal itu disini!" Wanita itu langsung memotong ucapan Luzi.


"Ta-tapi.." Luzi mencoba melanjutkan ucapannya.


"permisi."ucap wanita itu lalu pergi meninggalkan Luzi.


Luzi pun terdiam. Apa yang tidak boleh dibicarakan? Padahal ia sama sekali belum selesai bicara. sikap mahasiswi tadi membuat Luzi semakin ingin mengetahui lebih dalam tentang kampus ini.


Istirahat makan siang pun telah usai. Acara kembali dilanjutkan dan Luzi harus kembali terjebak bersama anggota kelompok yang begitu menyebalkan bagi nya. Kali ini kelompok Luzi mendapat hukuman karena mereka tidak dapat menyelesaikan tugas yang diberikan yaitu mencari sebuah buku yang berjudul zoo where animals live.


Sebenarnya kelompok Luzi bisa saja bebas dari hukuman jika Luzi membantu temannya itu dengan sungguh-sungguh. Namun karena sikap mereka kepadanya begitu buruk membuatnya enggan membantu mereka lagi setelah permainan kuis. Tentu saja hasil permainan tadi berkat bantuan Luzi yang ikut berdiskusi meski tak dianggap ada diantara mereka.


Sore pun tiba, setelah menyelesaikan hukuman yang diberikan kepada kelompoknya, mmm..tidak. lebih tepatnya hukuman untuk dirinya,Luzi pun keluar area kampus. ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang merasa pegal karena bekerja sendiri lalu melihat kearah sebuah gedung yang cukup tinggi.


"sepertinya mampir menikmati senja tidak masalah," ucap Luzi lalu pergi menuju gedung tinggi itu.


Dibutuhkan waktu delapan menit untuk sampai di atap gedung itu. Luzi menarik napasnya dalam-dalam menikmati udara senja yang cukup menenangkan baginya itu.


Luzi mengambil ponselnya lalu menekan huruf demi huruf hingga menjadi sebuah kalimat yang bertuliskan


^^^semua sudut dilengkapi dengan cctv, secepat mungkin aku akan mulai memeriksanya.^^^


Luzi mengirimkan pesan singkat itu kepada atasannya sebelum akhirnya ia mengarsipkan pesan itu.


"Ckk, baru dua hari saja aku sudah muak." Teriak Luzi setelah ia merasa tempat itu sepi tidak ada siapapun.


"Mungkin kau harus merubahnya." Celetuk seorang pria yang tengah bersandar di dinding.


"Kau? Siapa kau? Dan sejak kapan kau ada disini?" Rentetan pertanyaan keluar dari Luzi.


"Kau terlalu Banyak bertanya." Pria berpostur tubuh tinggi itu menghampiri Luzi lalu duduk dipinggir gedung yang menjulang tinggi itu.


Luzi menjauhkan tubuhnya dari pria itu mendekat ke arah pintu keluar supaya ia mudah melarikan diri kalau-kalau pria itu ingin macam-macam padanya. "Kau mengikutiku?" Teriak Luzi.


"50:50,"Jawab Pria itu seraya menyunggingkan bibirnya tanpa menoleh kebelakang.


Kedua alis Luzi saling bertaut. "Apa maksudmu dengan 50:50?"


Pria itu tersenyum simpul, "Mengatai orang lain bodoh padahal nyatanya kaulah yang bodoh."


bukannya menjawab pertanyaan Luzi pria itu malah meledeknya.


Luzi mendengus kasar. "Siapa yang bodoh dan siapa yang mengatai bodoh?" Luzi menghampiri pria itu tak terima dikatai bodoh.


"Tentu saja bukan aku." Ucap pria itu setelah Luzi menarik tubuhnya untuk saling berhadapan.


Luzi hampir menampar wajah pria itu sebelum akhirnya ia menyodorkan tangannya pada Luzi.


"kenalin Gino."


"Luzi." Jawab Luzi tanpa membalas tangan Gino yang sudah menjulur.


"Seperti kita pernah beberapa kali bertemu."


"Seperti belum pernah." Jawab Luzi ketus.


" Benarkah? ternyata selain bodoh kau juga pelupa akut." Ledek Gino


°CK, sialan pria ini,°batin Luzi


"Kenapa kau diam? Aku benar ya?" Goda pria itu.


"Salah!" Luzi berjalan pergi meninggalkan pria itu.


Dengan hati yang emosi Luzi menuruni setiap anak tangga sambil menggerutu.


"Tadinya aku ingin menenangkan diri di atas gedung setelah selesai acara di kampus eh malah semakin panas gara-gara pria sialan itu."


Di atap gedung pria bernama Gino itu memperhatikan Luzi yang baru keluar dari gedung itu. "Dasar."


.


.


.


.


.