
Gino mencengkram kedua tangan Luzi, "Apa kau mengingatnya?"
Luzi terkejut dan bingung harus menjawab apa. Karena sebenarnya orang yang berada di tempat kejadian itu bukanlah dirinya melainkan sang partner, One. "Anu...."
"Kau pasti sudah lupa."Pangkas Gino lirih seraya melonggarkam cengkraman tangannya.
Luzi menjadi bimbang, haruskah ia mengatakan pada pria itu bahwa wanita yang membawanya kerumah sakit dua tahun lalu bukanlah dirinya. Tapi melihat kondisi pria itu yang entah apa alasannya tampak putus asa.
"Bukan begitu. Tapi bagaimana aku bisa mengingatnya jika aku saja tidak ada ditempat kejadian?" Jelas Luzi mencoba meluruskan apa yang ada dipikiran pria itu.
Gino tersenyum getir, "Kau, kau pasti berbohong dan tidak mau mengakuinya jika kau sebenarnya polisi." Kekeh Gino.
"Gin dengarkan aku! Wanita yang kau cari bukan aku." Tegas Luzi.
"Lantas siapa jika bukan kau?" Bentak Gino menatap sayu bola mata Luzi.
"Dia polisi keamanan lalu lintas." Ucap Luzi. "Dan dia adalah temanku." Lanjutnya.
"Bohong! Kau pembohong!" Ucap Gino.
"Aku tidak bohong. Dia memang temanku sesama polisi dan dialah yang membawamu saat itu!" Jelas Luzi.
"Rekan sesama polisi?" Gino tersenyum, "ternyata benar kau seorang polisi. Pantas saja saat aku membuka lacimu aku melihat lencana kepolisian." Ucap Gino.
Luzi menghela napasnya panjang, "sekarang kau sudah tahu semuanya. Aku adalah seorang polisi namun bukan wanita yang menyelematkanmu!" Luzi menekannkan kalimat terakhirnya. "Jadi jangan berpikir lagi jika wanita yang kau cari dua tahun lalu itu adalah aku!"
Luzi bangkit dari duduknya hendak meninggalkan Gino yang sudah tahu semua tentang dirinya dan juga mulai tenang.
"Tidak bisakah aku beralih kepadamu?" Celetuk Gino hingga Luzi berhenti.
"Aku harus pergi karena kelasku akan segera dimulai." Ucap Luzi pura-pura tak mendengar ucapan Gino lalu meninggalkan pria itu sendirian.
Di koridor kampus, Luzi berjalan dengan arahan sebuah kertas ditangannya. Mengikuti apapun yang tertera diatas kertas putih itu,Luzi akhinya tiba didepan sebuah pintu dimana saat itu ia juga pernah berdiri disana.
Berbekal sebuah besi kecil yang sudah ia siapkan untuk membuka gembok itu, dengan hati-hati ia membukanya karena takut akan ketahuan oleh orang lain.
"Kau mau apa?" Tanya seseorang hingga Luzi terkejut setengah mati.
"Tidak-tidak ada." Jawab Luzi gugup lalu berbalik untuk melihat orang yang berdiri dibelakangnya.
"Kau? Sedang apa kau disini?" Tanya Luzi pada seorang pria yang ternyata adalah Gino. Usai ditinggalkan oleh Luzi, pria itu memilih untuk ikut pergi menuju kelasnya.
Namun saat dikoridor kampus, ia melihat Luzi berjalan kearah yang lain menuju kelasnya. Karena penasaran akhirnya pria itu memilih untuk mengikuti Luzi dan meninggalkan kelasnya.
"Kenapa kau membukanya dengan itu?" Tanya Gino yang kini melihat kedua tangan Luzi tengah memegang kunci gembok abal-abal buatannya, mencoba membukanya.
"Anu..." Luzi mencoba memikirkan alasan yang cocok untuk situasinya ini.
Gino mendekati Luzi, "Biar aku coba membukanya." Ucapnya seraya mengambil alih besi kecil dari tangan Luzi.
"Eh?"
Setelah bergulat cukup lama dengan benda kecil itu, akhinya Gino dapat membuka gembok itu. "Sudah,"
Luzi langsung menarik pintu untuk membukanya. Tak ada yang spesial didalam tempat itu. Hanya ada beberapa lemari dengan tumpukan berkas-berkas yang tersusun didalamnya saat Luzi memasukkan kepalanya.
"Tutup pintunya." Ucap Luzi setelah ia masuk begitupun dengan Gino.
"Tempat apa ini? "Ucap Gino.
"Kau tidak tahu?" Tanya Luzi dan dijawab gelengan kepala pria itu. "Lebih baik cari tahu sendiri," gumam Luzi dan segera berkeliling ruangan yang cukup luas itu.
Semakin dalam kedua orang itu masuk kedalam ruangan hingga tiba disebuah sudut dimana terdapat beberapa komputer yang menyala tanpa ada seorang pun yang duduk dihadapannya.
Luzi segera mendekati komputer yang menyala itu. Ia mengutak-atik benda itu untuk melihat lebih jelas. Ternyata beberapa komputer itu menampilkan kejadian dari setiap sudut.
"Akhirnya aku menemukanmu." Gumam Luzi dan melihat siaran beberapa hari kebelakang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Gino saat melihat Luzi mengutak-atik komputer itu.
Segera Luzi mengambil ponsel pintarnya lalu memanggil seseorang yang memang ahli dalam bidang seperti ini.
"Apa kau siap bersama Aidan?" Tanya Luzi pada Six.
"Sudah." Jawabnya yang memang tengah berdiri didepan komputer bersama Five menunggu aba-aba dari Luzi.
"Baiklah, aku akan mulai." Ujar Luzi lalu segera menyambungkan kabel USB pada alat itu supaya berpindah pada ponsel lain yang sengaja ia bawa untuk memindahkan data dari komputer itu.
"Hei! sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Gino lagi.
"Lihat dan amati pintu masuk, jika ada orang yang masuk kita bisa mati." Ucap Luzi yang kini mendaratkan tubuhnya dikursi didepan komputer itu.
Tak menjawab Luzi, Gino kini melakukan apa yang diperintahkan oleh wanita itu. Meski kadang-kadang ia sesekali menatap Luzi.
"Eh? Dia? Kenapa dia ada disana?" Gumam Luzi.
"Seseorang Sepertinya akan kesini." Ucap Gino yang dapat melihat bayangan seorang pria datang menuju tempat mereka.
"Apa bisa lebih cepat?" Luzi berkata pada orang yang masih dalam panggilan bersamanya.
"Tinggal sepuluh persen lagi, Tunggu sebentar!" Ucap Five berteriak.
"Kita tidak punya banyak waktu, cepatlah!" Resah Luzi.
"Satu, dua, tiga..." Gino segera menarik Luzi untuk bersembunyi disudut lain ruangan itu yang terhalang oleh lemari.
"Siapa yang datang?" Tanya Luzi segera menengadahkan kepalanya.
Gino mengintip sedikit untuk melihat sosok pria yang datang itu. "Dosen menyebalkan, Rendi." Jawabnya kemudian.
"Sedang apa dia disini?" Luzi berbisik sambil menengadahkan kepalanya.
Gino menunduk untuk melihat Luzi yang memiliki tinggi setinggi dadanya itu. Ia lalu kembali mengintip mengikuti kemana arah pria berprofesi dosen itu menuju.
"Dia mendekati meja komputer." Ucap Gino pelan.
"Apa?" Luzi terkejut mendengarnya, karena ia baru tersadar bahwa benda yang begitu penting baginya malah tertinggal dimeja komputer.
"Pelankan suaramu!" Tegas Gino sambil berbisik.
"Ponselku tertinggal dimeja itu," Ucap Luzi dengan wajah yang mulai panik.
Ia takut jika ponselnya itu akan ditemukan oleh dosen Rendi dan mereka berdua akan ketahuan.
"Apa aku lupa mengunci pintu ruangan ini?" Ucap Rendi lalu mendaratkan tubuhnya didepan komputer itu. Ia lalu memutar beberapa rekaman yang berkaitan dengan Lila. Termasuk saat wanita itu masuk ke ruangannya.
"Apa dia akan menemukan kita dari rekaman itu?" Tanya Gino.
"Tidak akan. Aku sudah menghapus bagian saat kita masuk," jelas Luzi. "Tapi sekarang aku bingung. Bagaimana kita akan keluar dari sini bersama ponselku sebelum orang itu keluar?" Luzi mencoba memikirkan jalan keluar dari masalah yang tengah dihadapi oleh mereka.
"Aku tahu." Seru Gino dan segera mengeluarkan sebuah batu baterai dari dalam ranselnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Luzi. "Untuk apa batu baterai itu?"
"Saat aku lemparkan baterai ini dan pria itu menghampirinya, segeralah ambil ponselmu lalu keluar dari sini, ok?" Papar Gino.
"Kita tidak bisa keluar dari tempat ini sebelum dia." Sargah Luzi.
"Mengapa?" Heran Gino
"Kita akan terlihat dari kamera cctv keluar dari ruangan ini." Jelas Luzi. "Kita tunggu sampai di keluar duluan baru kita keluar dari sini." Lanjutnya.
"Baiklah, sekarang bersiap-siaplah!" Ucap Gino.
Gino segera melakukan apa yang ia jelaskan sebelumnya pada Luzi. Seperti dugaannya, Rendi segera berdiri ketika mendengar suara pantulan yang dihasilkan oleh batu baterai saat ia melemparnya.
"Siapa disana?" Teriak Rendi dan segera berjalan menjauh dari meja komputer untuk menghampiri sumber suara.
Segera Luzi berlari menuju meja komputer yang tak jauh dari tempat persembunyian dirinya untuk mengambil ponsel yang tengah memindahkan data-data dari komputer itu.
Brak..
Karena panik takut rendi segera kembali ke meja komputer, Luzi tergesa-gesa mengambil ponselnya dan tak sengaja menjatuhkan sebuah mouse hingga Rendi yang semula menghampiri bunyi dari batu baterai bergegas kembali ke meja komputer.
"CK, sial." Umpat Gino.
Luzi yang tahu bahwa Rendi saat ini pasti tengah berjalan kearahnya segera berlari ke tempat dimana dirinya bersembunyi. "Apa yang terjadi? Apa yang terjatuh?" Tanya Gino setelah Luzi kembali.
"Maaf, aku buru-buru dan tidak sengaja menjatuhkan mousenya." Ucap Luzi.
"Kau memang ceroboh." Celetuk Gino.
"Aku tahu itu." Jawab Luzi ketus.
"Ssttt....." Gino menyuruh Luzi untuk berhenti berbicara karena ia mendengar suara sepatu berkeliaran di ruangan itu.
"Dia sedang berkeliling," Bisik Gino. "Bagaimana jika dia menemukan kita?" Lanjutnya mulai khawatir.
"Kita harus mencocokkan alasan kita berada disini," ucap Luzi. "Tapi apa?" Lanjutnya.
"Siapa disana? Keluar atau aku akan datang!" Teriak Rendi seraya mulai mendekat pada sudut tempat dimana kedua orang itu bersembunyi.
"Dia mendekat!" Ucap Gino seraya kembali menyembunyikan wajahnya setelah mengintip.
"Tidak ada cara lain, apa alibi yang cocok saat ini?" Desak Luzi menyuruh Gino untuk memikirkan alibi untuk mereka berdua.
"Mmmmm....."
"Cepat berpikir!" Luzi mendesak dirinya untuk berpikir keras.
"Astaga, dia semakin dekat." Ucap Gino.
Dengan cepat Luzi memutar tubuhnya mendekat pada dinding dan menutupi tubuhnya dengan tubuh Gino menyerupai sepasang kekasih yang sedang berciuman.
"Tundukkan kepalamu sedikit!" Bisik Luzi dan diikuti oleh Gino. Supaya lebih meyakinkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih, Luzi mengalungkan kedua tangannya pada leher Gino hingga wajah pria itu mendekat pada wajah Luzi.
"Seperti ini, bukan?" Bisik Luzi seraya mengintip Rendi yang ternyata belum menemukan mereka.
"Apa yang seperti ini?" Tanya Gino.
"Caranya? Natural tidak?" Tanya Luzi dan sesekali berjinjit untuk melihat kebelakang Gino.
"Tidak." Jawab Gino yang kini paham akan pertanyaan yang diajukan oleh Luzi.
"Lalu bagaimana caranya?"
"Apa dia tidak pernah melakukannya?" Batin Gino.
"Begini—"