ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Hilang kesadaran



Hujan yang lumayan deras membuat Gino yang duduk disamping Luzi kini juga merasa kedinginan. Ia lalu menatap Luzi yang belum juga sadar setelah kurang lebih sekitar tujuh menit pingsan.


"Kau itu pingsan atau tidur? " Celetuk Gino sambil menatap Luzi yang masih bernapas dengan tenang.


Ia lalu mengambil kresek milik wanita itu yang terdapat beberapa makanan ringan dan air yang tadi ia ambil bersama ranselnya.


"Kau memang niat berdiam disini, ya?" Tebak Gino saat ia melihat isi bawaan wanita itu.


Dingin kian menusuk kedalam tulangnya karena kini angin juga ikut datang bersama dengan hujan. Keberadaan mereka yang berada diatap gedung malah semakin membuat tubuhnya kedinginan.


Gino bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Luzi yang masih belum sadar juga untuk mencari sesuatu yang dapat menghangatkan tubuh.


Tok...


Tok...


Tok...


"Siapa?" Tanya sang pemilik rumah yang pintunya diketuk.


"Ada perlu ada?" Lanjutnya


"Anu, bisakah saya meminjam selimut? Temannya sedang sakit dan saat ini ia kedinginan." Ucap Gino sopan.


"Tunggu sebentar," ucap pemilik rumah yang ternyata seorang perempuan.


Gino mengangguk dan menunggu perempuan itu kembali didepan pintu rumahnya. Beruntung mamanya adalah pemilik gedung yang merupakan apartemen itu. Ia juga yang meminta mamanya untuk membuat atap gedung menjadi rooftop yang nyaman untuk ia gunakan kalau-kalau ia bosan berada di kampus.


Lalu mengapa Luzi dapat masuk? Itu karena tema rooftop yang diusung adalah untuk umum. Jadi siapapun dapat menikmatinya tanpa dipungut biaya.


"Ini selimutnya," perempuan tadi memberi sebuah selimut yang agak besar pada Gino. "Dan ini berikan pada temanmu yang sakit itu." Lanjutnya seraya memberikan beberapa obat.


"Terimakasih," ucap Gino. Ia lalu merogoh sakunya untuk mengambil beberapa lembar uang lalu memberikannya pada orang yang itu.


"Apa ini?" Tanya perempuan itu dengan tangan yang menolak pemberian Gino.


"Ini uang,"


"Aku tahu itu uang, tapi untuk apa?" Perempuan itu memperjelas.


"Aku takut lupa mengembalikan selimut ini, jadi anggap saja aku membelinya." Jelas Gino. "Aku mohon terimalah," lanjutnya.


Perempuan itu mematung memikirkan apakah ia harus menerimanya atau menolaknya, "baiklah aku akan menerimanya, terimakasih dan semoga temanmu cepat sembuh." Ucap perempuan itu.


"Terimakasih." Jawab Gino.


Pria itu pun segera kembali ke atap gedung untuk menemui Luzi. Masih dengan posisi yang sama, Luzi terbaring dengan dua jaket yang membalut tubuhnya.


"Dia masih belum sadar?" Gino melangkahkan kakinya untuk mengambil jaketnya dan menggantikannya dengan selimut yang ia bawa.


Gino mengenakan kembali jaketnya kemudian mendaratkan tubuhnya disamping Luzi.


"Kau sebenarnya kenapa?" Pria itu kebingungan karena Luzi tiba-tiba tak sadarkan diri saat dipangkuannya.


"Apa kau sakit?" Gino memegang dahi Luzi untuk menyamakan suhu tubuh dirinya dan wanita itu yang ternyata tidak jauh berbeda.


Penasaran, ia lantas membuka ponselnya untuk mencaritahu apa yang terjadi dengan wanita itu. Gino mencoba mengetik beberapa kata mengenai ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu hingga muncul beberapa artikel diantara adalah


Takut terhadap kucing? Ini cara menanganinya...


Kenapa bisa takut ketinggian? Simak selengkapnya...


Kenapa seseorang bisa takut sesuatu?


Gino menekan salah satu yang menarik perhatiannya yaitu, alasan mengapa takut pada kucing.


Setelah membaca dengan teliti, ia kemudian menatap Luzi dan membandingkan antara dirinya yang takut kucing dan Luzi yang menurut dugaannya takut laba-laba.


"Aku juga takut saat melihat kucing, tapi tidak sampai pingsan. Lalu kenapa dia bisa sampai begini?" Gino menggaruk kepalanya yang tidak merasa gatal karena pusing.


Bukannya mereda hujan malah semakin menjadi. Bahkan jika Gino tak melihat jam pada ponselnya ia tidak akan tahu jika hari sudah menunjukan waktunya untuk makan siang.




Dilobi sebuah hotel, sepasang suami istri tengah duduk menunggu seseorang memberikan kabar pada mereka.



Kedua orang itu adalah orang tua Lila, mereka datang ke hotel setelah dari kampus karena tidak sabar untuk bertemu putri sulung mereka.



"Permisi," ucap seorang resepsionis kepada kedua orang tua itu.



Orang tua Lila lantas segera mendekat pada meja resepsionis itu. "Bagaimana? Apa ada anak kami yang bekerja disini?" Tanya ibu Lila.



"Maaf, nama yang kalian katakan tidak terdaftar sebagai pegawai di hotel kami." Jelas resepsionis itu.



*Deg*...



Seketika denyut jantung wanit tua itu terasa berhenti berdetak saat mendengar penjelasan resepsionis itu. Tubuhnya tiba-tiba lemas dan ia tidak kuat lagi untuk berdiri.



"Mama..." Teriak sang suami ketika istri hampir terjatuh. Beruntung ia dapat segera menangkap tubuhnya.



"Coba periksa sekali lagi, mungkin kalian kurang teliti!" Perintah pria itu.



"Maaf, tuan. Tapi kami sudah memeriksa beberapa kali dan hasilnya tetap sama, nama itu tidak terdaftar di hotel kami." Jelas Resepsionis itu.



"Pah, Lila....." Rintih wanita tua itu sebelum akhirnya tak sadarkan diri.



Semua orang di hotel itu panik dan segera membantu pria itu untuk membawa istrinya ke tempat yang layak digunakan untuk beristirahat.