
Semerbak wangi parfum mengisi seluruh kamar Luzi saat wanita itu menyemprotkan cairan berwangi itu ke beberapa titik pada tubuhnya. Hari ini hari kedua dirinya untuk mencari hal yang sama, yaitu keberadaan ruang monitor. Setelah rencana pertamanya mengitari seluruh sudut gedung kampus gagal karena terlalu banyak hingga membuat dirinya bingung, kali ini Luzi akan menggunakan cara yang kedua.
Dengan segelas susu kotak ditangannya, Luzi pun mengunci pintu rumahnya sebelum ia berangkat ke kampus. Seperti biasa ia harus pergi ke pemberhentian bus sebelum bisa sampai di kampus karena itu satu-satunya transfortasi yang lebih mudah.
Raut wajah yang bahagia mengiringi setiap langkah Luzi saat menuju kelasnya. Alasannya singkat, karena tadi tidak ada sang ketua yang mengganggu perjalanannya menuju kampus. Luzi membuka pintu lalu masuk kedalam kelasnya, kali ini ia memiliki dua kelas yang harus diikutinya.
Ditempat yang sama disebuah ruangan seorang pria tengah duduk menanti kedatangan seseorang yang telah ia nanti-nantikan kedatangannya sejak lama. Jemari-jemari tangannya silih berganti mengetuk-ngetuk kaca meja sebelum akhirnya terhenti saat pintu terbuka.
"Permisi," ucap seorang wanita berambut pendek dengan kacamata hitam yang terpasang diantara matanya.
"Duduklah." Titah pria itu dan kini mereka berdua saling berhadapan.
"Ada apa bapak memanggil saya?" Tanya wanita yang sudah memasuki semester tiga itu.
"Maaf atas kelancanganku, sebenarnya aku ingin menanyakan pembayaran yang belum kau selesaikan." Jelas Dosen itu.
"Mmm.. bukankah bapak bukan bagian dari administrasi? Lalu kenapa menanyakan hal itu?"
Pria itu terdiam dengan kedua mata yang menatap wanita itu, "Begini Lila, aku hanya ingin membantu meringankan bebanmu dengan menawarkan sebuah pekerjaan paruh waktu untukmu,"
"Pekerjaan seperti apa?"
"Kau bisa melamar menjadi pegawai hotel ditempat saudaraku, kebetulan mereka sedang memerlukan seorang karyawan." Jelasnya.
"Benarkah itu pak?" Wanita berkacamata itu begitu antusias.
"Hem." Jawab pria itu disertai anggukan," jika kau bersedia aku akan memberitahu saudaraku, dan kau bisa datang ke hotel itu besok."
"Aku bersedia, terimakasih banyak atas tawarannya pak." Wanita itu terus menundukan kepalanya, "Kalau begitu saya permisi." Pamitnya
"Silahkan," ucap pria itu dengan kedua mata yang mengekori kepergian wanita itu lalu sebuah senyuman terukir diwajah pria itu.
Lila terkejut setelah menutup pintu ruangan karena seseorang berdiri tepat didepannya.
"Apa yang kau lakukan didalam?" Tanya seorang wanita yang penasaran kenapa Lila bisa keluar dari ruangan itu.
"Ah... Aku baru saja memberikan tugasku pada Pak Rendi." Jawab Lila. Entah apa alasan wanita berkacamata itu hingga harus berbohong.
"Oh, Yasudah aku duluan." Ucap wanita itu lalu berlalu pergi meninggalkan Lila.
Dibalik pintu yang ditutup oleh Lila pria itu memegang ponselnya menunggu seseorang yang ia panggil untuk berbicara.
"Dia akan datang besok. " Ucap Pak Rendi setelah mendengar jawaban dari orang yang ia hubungi.
"Baiklah, aku akan menunggu." Jawab seseorang dibalik telepon itu.
Panggilan singkat itu kini berakhir dan pak Rendi bangkit dari duduknya lalu mengambil beberapa keperluan untuk ia bawa ke kelas. Dengan tubuh yang cukup ideal layaknya pria yang masih muda membuat setiap langkah pak Rendi begitu berkarisma hingga tak jarang membuat para mahasiswi terpesona akan dirinya.
"Selamat siang," sapa pak Rendi saat tiba diruangan tempatnya akan mengajar.
"Siang." Seluruh mahasiswa diruangan itu menjawab serentak, kecuali Bima. Pria itu tidak membuka mulutnya sama sekali dan hanya melihat kedepan namun fokusnya bukan pada orang yang berbicara, melainkan pada papan berwarna putih yang terpanjang di depan.
Ia menghela nafasnya panjang karena merasa muak dengan kelasnya hari ini. Belum lagi ia hari ini berangkat sendiri karena Gino sedang ada urusan. Tangannya kini menutup mulutnya yang terbuka karena menguap. Untungnya Bima duduk dibagian tengah karena menurutnya disitulah tempat paling nyaman.
Lain halnya dengan Bima yang malas memulai kelas, Luzi kini tengah menikmati saat-saat menjadi seorang mahasiswa. Mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut dosen dan mencatat hal yang perlu serta mengerjakan hal yang disuruh membuatnya sesaat lupa jika ia sedang bertugas. Meskipun dulu ia pernah merasakannya saat dibangku sekolah menengah atas, namun rasanya duduk diruangan sebagai mahasiswa rasanya agak berbeda bagi Luzi.
Setelah lulus sekolah menengah atas tidak pernah terpikirkan olehnya untuk masuk ke sebuah universitas karena dari dulu ambisinya hanya satu, menuntas hal yang merugikan orang lain dan mengumpulkan uang seperti pekerjaannya sekarang. Meski sempat ditentang oleh orangtuanya untuk masuk akademi kepolisian, namun tekadnya yang disertai dengan nekat membuatnya kini sampai menjadi polisi wanita dan akan segara mendapat promosi untuk naik jabatan.
Dosen pun pamit undur diri saat apa yang harus disampaikannya telah selesai dan pergi meninggalkan kelas. Para mahasiswa yang sudah membereskan peralatannya pun satu persatu mengikuti dosen itu keluar dari ruangan. Namun Luzi masih terduduk di kursinya sambil memikirkan tempat yang cocok untuk ia memulai pencarian.
Setelah beberapa saat berpikir, Luzi pun bangkit dan berjalan keluar menuju tempat para wanita berkumpul dan memperbaiki penampilannya yaitu, toilet. Kedua tangannya menyatu untuk menampung air yang mengalir diatas wastafel lalu ia basuhkan ke wajahnya. Setelah merasa wajahnya cukup segar, Luzi kembali keluar pun keluar dari toilet.
Namun saat ia berbelok tiba-tiba seseorang menarik ranselnya dan menghempaskannya ke tembok. Sosok wanita berambut panjang serta dua temannya kini berdiri didepannya.
"Siapa kalian?" Tanya Luzi yang tidak mengenali satu pun dari mereka bertiga.
"Siapa kami kau tidak perlu tahu!" Ucap wanita yang berdiri dibelakang Abel.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak dekat-dekat dengan Gino, tapi kau malah semakin mendekatinya." Tegas Abel yang sudah meradang dari kemarin.
"Kapan itu? Aku bahkan baru pertama kali bertemu kalian." Jawab Luzi hingga membuat Abel semakin kesal. Namun sayangnya Luzi benar karena memang ini pertama kalinya mereka bertatap muka dan Luzi tidak tahu bahwa Abel-lah yang menguncinya diruang penyimpanan alat olahraga saat itu.
"Ini pertama dan terakhir kalinya aku memperingatkanmu, jauhi Gino!" Tegas Abel lalu pergi meninggalkan Luzi diikuti oleh kedua temannya.
"Cih, bahkan dia bukan tipeku." Celetuk Luzi yang memperhatikan kepergian tiga orang itu.