ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Dugaan Bima



"Eh? Dia bilang apa?" Luzi menatap Lekat wajah Gino hingga keduanya kini saling menatap. Namun suara aungan perut yang lapar membuat pandangan mereka beralih pada perutnya masing-masing.


"Kau laper tidak?" Tanya Gino yang kini berdiri sambil memegangi perutnya.


"Mmm.. sedikit," jawab Luzi sambil menengadahkan wajahnya untuk melihat Gino.


"Apa kelasmu sudah beres? Kalo sudah kita cari makan." Saran Gino


"Sudah,"


Gino pun berjalan menjauh dari taman itu diikuti Luzi yang kini mengekor padanya.


~~~~~~~~~~~~


Di tempat parkir seorang pria tengah duduk diatas kap mobil menunggu temannya yang entah pergi kemana. Ia mencoba menekan kembali nomor temannya itu lalu menyimpan benda persegi panjang itu didekat daun telinganya.


Lagi-lagi suara seorang wanita yang menjawabnya, ia memberitahu bahwa temannya sedang tidak dapat menerima panggilan dan malah menyuruhnya untuk mengirim pesan suara.


"CK, sebenarnya ponselmu itu gunanya untuk apa?" Umpat Bima. Ia begitu kesal dengan temannya itu karena selalu mengabaikan panggilannya dan baru menjawab setelah ia memanggil lebih dari dua kali.


Ia menyimpan kembali benda itu dan kembali termangu menatap sekitar tempat parkir yang banyak orang berlalu lalang pulang dan pergi dari kampus.


"Ayo, pulang." Ucap Gino saat ia tiba didepan mobil berwarna putih milik Bima.


"Kau darimana saja? Aku cari ke kelas tapi kau tidak ada." Ucap Bima seraya loncat dari atas kap mobil.


"Maaf, tadi aku ada urusan." ucapnya seraya menggaruk punggung kepalanya.


Bima menatap kearah Gino dan tak sengaja matanya melihat ke belakang yang terdapat seorang wanita yang tak asing baginya tengah berdiri.


"Hai!" Sapa Luzi diikuti senyuman di wajahnya.


"Oh, hai." Bima membalas sapaan Luzi lalu berjalan untuk masuk kedalam mobil.


"Apa Gino mengajak wanita kusut itu bersamanya? Tumben. Apa jangan-jangan mereka berkencan?" Duga bima dalam hatinya saat ia telah duduk dibelakang kemudi.


"Tapi tunggu dulu, kenapa dia tidak mengatakannya padaku? sialan Gino, padahal dulu dia selalu cerita padaku." Bima berbicara sendiri dalam Mobilnya.


"Tidak masalah kan aku mengajaknya?" Tanya Gino yang kini berada dikursi damping Bima.


"Hem, tidak." Jawab Bima. Karena memang membawa Satu orang lagi tidaklah sulit toh dia juga hidup dan tak perlu bantuan seperti waktu itu.


"Hei, masuklah!" Teriak Gino dengan wajah yang mengintip dari jendela mobil yang ia buka setengah.


Luzi pun melangkah mendekati mobil itu dan ikut masuk kedalam. Setelah semua siap, Bima pun melajukan mobilnya keluar dari parkiran kampus.


Dalam perjalanan keheningan terasa didalam mobil hingga membuat semua orang terasa canggung. Luzi yang malu untuk memulai pembicaraan karena kedua pria itu hanya diam tak memulai obrolan apapun dan ia juga takut saat berbicara mereka malah mengabaikannya. Sedangkan Bima, pria itu berpikir bahwa diamnya kedua orang itu takut jika hubungan mereka akan terendus olehnya hingga kini tangannya semakin erat menggenggam kemudi karena kesal. Lain halnya dengan Gino, pria itu justru tidak tahu harus mengatakan apa karena saat itu otaknya sedang tidak mau berpikir apalagi mencari topik untuk obrolan.


"Sumpah ini mereka berdua setiap hari membisu begini?" Gumam Luzi dalam hatinya. Ia cukup prustasi berada dalam ruangan yang sama dengan mereka berdua yang pendiam itu.


"apa dia grogi karena ada orang baru?" pikir Bima. "mana mungkin setelah kencan masih grogi?" Batinnya terus menyimpulkan tentang hubungan kedua penumpang dalam mobilnya itu.


Bukan tanpa sebab Bima menyimpulkannya secepat itu, karena setahunya Gino tidak pernah membiarkan seseorang ikut bersamanya. Apalagi itu seorang wanita, meskipun sudah kenal sejak lama dan sangat ingin juga kekeh untuk ikut sepeti Abel saat itu, Gino tetap menolak dan memilih meninggalkannya. Namun bagaimana wanita ini bisa dengan mudahnya ikut?


"Mampir tempat biasa, Bim." Ucap Gino setelah beberapa ratus meter dari kampus.


"Oke." Bima menjawab singkat karena sudah tahu maksud dari temannya yang menyuruh supaya berhenti di restoran tempat biasa mereka mampir.


"Apa? Mampir kemana? Kenapa mereka begitu irit berbicara? Apa bicara itu mahal bagi mereka?" Luzi menangis dalam hatinya mendengar obrolan singkat yang terjadi diantara dua orang itu.


Delapan menit kemudian....


Mobil berwarna putih yang dikemudikan oleh Bima masuk kedalam parkiran sebuah restoran. Mereka lalu keluar dari mobil dan berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya masuk kedalam restoran itu.


Suasana yang tidak terlalu ramai membuat beberapa meja terlihat kosong dan membuat Ketiga orang itu mematung didepan pintu memilih-milih tempat duduk yang cocok untuk mereka. Namun Gino tiba-tiba berjalan kesamping dan duduk di sebuah meja dekat pintu masuk kemudian diikuti oleh kedua orang yang datang bersamanya.


Seorang pelayan menghampiri meja mereka setelah Bima menyuruhnya untuk mendekat. Pelayan itu memberikan daftar menu masing-masing satu kepada semua orang di meja itu.


Bima mengangkat daftar menu itu hingga menutupi wajahnya, "Kita perlu bicara!" Bisik Bima kepada Gino yang duduk disampingnya.


Gino hanya melirik dan mengangguk dengan mengedipkan matanya menyetujui permintaan temannya itu.


"Aku harus ke toilet," ucap Bima seraya mengangkat tubuhnya.


"Tapi kau belum memesan," ucap Luzi.


"Gino akan memesankannya untukku," ujar pria itu lalu pergi menuju toilet.


"Saya pesan ini satu, dan yang ini tapi jangan pakai timun." Ucap Gino seraya menunjuk gambar yang ada dalam daftar menu.


"Baik,"


"Hei, kau mau pesan apa?" Tanya Gino pada Luzi yang masih sibuk membulak-balik lembaran daftar menu.


"Entahlah, aku bingung." Ucap Luzi yang prustasi melihat gambar-gambar makanan itu.


"Pesanlah yang kau mau!"


"Aku tidak bisa memilih, kau bisa kan memesankan untukku juga?" Pinta Luzi dengan senyuman yang tergurat di wajahnya.


"CK, dasar. Katakan kau suka apa?"


"Mmm.....Aku suka semuanya, asal jangan ada kedelai ataupun wijen." Jelas Luzi.


Gino membuka kembali daftar menu yang sudah ia tutup, "dan yang ini satu, tanpa wijen." Pesan Gino karena digambar terdapat butiran biji wijen di makanan itu.


"Terimakasih," ucap Luzi.