ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Telat



Kokokan ayam jantan milik tetangga membuat Luzi enggan membuka matanya yang begitu lengket karena semalam ia tidur pukul 2 pagi. Pencarian dengan hasil yang selalu sama membuat Luzi terus mencoba hingga matanya lelah dan terlelap dengan posisi seperti saat membaca denah.


Bahkan wanita itu lupa kebiasaannya untuk memasang alarm hingga ia akan seperti biasanya, bangun kesiangan bahkan mungkin tidak sempat untuk mandi seperti saat pertama kali ia masuk universitas.


Luzi menggerakkan tangannya untuk mencari sesuatu yang dapat memberitahu dirinya pukul berapa sekarang. Ia menekan tombol power untuk menghidupkan ponselnya karena hanya benda itulah yang dapat ia jangkau.


"Astaga, Jam 8.16 ." Luzi segera berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menggosok gigi tanpa membasuh tubuhnya karena akan memakan waktu yang lama.


Setelah mengganti pakaian, Luzi segera mengambil ransel serta ponsel yang tersimpan di dekatnya lalu segera berlari mengenakan sepatu dan menuju tempat pemberhentian bus.


"Aku lupa memasangnya semalam." Ujar Luzi yang tengah sibuk mengikat tali sepatunya. Ia lantas mengunci pintunya lalu bergegas berangkat dengan berlari.


Hah.... Hah.... Hah...


Luzi berhenti tepat setelah ia melihat sebuah bus meninggalkan tempat pemberhentiannya. Dengan sekuat tenaga ia mengejar bus itu sambil berteriak menyuruh sang supir untuk berhenti. Namun malang nasibnya, bukannya berhenti bus itu malah semakin menjauh dari dirinya.


"Ah sial. Jika aku menunggu bus berikutnya, aku malah akan semakin terlambat." Wanita berambut kusut itu berdiri sambil berkacak pinggang dipinggir jalan Yanga dipenuhi oleh kendaraan.


Beep.......


Bunyi klakson membuat tubuh kecil Luzi terloncat untuk menyelamatkan diri. Ia kini berbalik untuk melihat sosok dibalik klakson itu. Sebuah sepeda motor tepat berada dibelakangnya, dengan pengemudi yang mengenakan helm full face membuatnya cukup sulit untuk mengenali orang itu.


Pengemudi sepeda motor itu lalu menjalankan motornya mendekati Luzi kemudian membuka kaca helmnya. "Perlu tumpangan?"


Siapa? Hanya matanya yang terlihat oleh Luzi tidak dapat membuatnya mengenali orang dibalik helm itu. "Tidak perlu, mungkin tujuan kita berbeda." Tolak Luzi halus.


"Tujuan kita sama, naiklah!" Perintah pria itu namun Luzi masih mematung di tempat. Ia takut jika pria itu malah membawanya ke tempat lain dan berbuat jahat.


Kesal karena waktu terus berjalan dan terbuang percuma, pria itu lantas membuka helmnya. "Mau naik tidak?"


Eren, ternyata pria itu sosok dibalik helm berwarna merah. Mengetahui siapa sosok dibalik helm membuat Luzi kini lantas naik setelah mengenakan helm yang diberikan padanya. Mereka pun berangkat bersama menunggangi kuda besi berwarna putih dengan kecepatan sedang.


Tak butuh waktu lama hingga mereka tiba di parkiran kampus, cukup hanya tiga puluh lima menit. Luzi segara turun dari atas motor setelah Eren menyetandarkan motornya.


"Ini, terimakasih tumpangannya." Luzi memberikan helm yang dikenakannya lalu segera berlari meninggalkan Eren yang masih terduduk di motornya.


"Kau pikir itu gratis?" Ucapnya seraya membuka helm. Sepi, tak ada teriak para wanita seperti biasanya kerena saat itu tempat parkir memang kebetulan sedang sepi. Bahkan mungkin hanya Eren seorang yang ada disana, mungkin.


Pria dengan setelan rapi itu turun dari motornya dan berjalan gagahnya meninggalkan parkiran yang sepi itu.




Dengen tergesa-gesa Luzi berlari menuju kelasnya dan ternyata sudah terdapat dosen didalam sana saat ia mengintip dari jendela.



"CK, sial. Aku keduluan." Cetus Luzi. Ia lalu berjalan menjauh dari kelasnya mencari hal lain yang bisa ia lakukan untuk menunggu kelas berikutnya dimulai.



Luzi mengecek ponselnya mencari informasi yang bisa dijadikan petunjuk olehnya. Ia membuka website-website dan sosial media para korban yang tertera pada beberapa artikel sambil berjalan.



"Hei!..." Teriak Luzi saat tangannya ditarik.



"Lepaskan aku!" Luzi berusaha melepaskan cengkraman wanita itu dari tangannya.



"Hei! Kau tuli ya?" Seru Luzi yang mulai kesal pada wanita yang menyeretnya itu.



"Diam dan ikutlah!" Bentak wanita itu sontak membuat Luzi tak lagi bersuara dan memilih pasrah ikut bersama wanita itu.



"*Mau dibawa kemana aku*?" Ucap Luzi dalam batinnya. Begitu asing tempat itu baginya padahal ia merasa sudah mengelilingi semua tempat di kampus itu. Kecuali tempat yang sedang ia lalui, *sepertinya*.



Tiba-tiba wanita itu berhenti seraya melepaskan tangan Luzi yang sedari tadi ia cengkram.



"Masuklah!" Perintahnya wanita berambut pendek gaya Bob itu.



"Aku?" Tanya Luzi yang bingung karena wanita itu tidak meliriknya sama sekali. Bahkan ia berpikir wanita itu bukan bicara pada dirinya.



"Tentu saja, karena hanya kita berdua disini." Jelas wanita itu yang sepertinya kesal akan pertanyaan dari Luzi.



Segaris senyuman yang menampakan gigi diberikan Luzi kepada wanita yang menyeretnya tadi. seraya memanjatkan doa dalam hatinya, Ia lalu berjalan masuk dengan hati-hati kedalam ruangan seperti apa yang diperintah oleh wanita itu.



Tak ada seorang pun didalam ruangan itu, hanya beberapa alat musik yang menanti kedatangannya. Luzi berjalan-jalan mengelilingi ruangan itu sambil memperhatikan detail setiap alat musik.




"Seperti apa katamu." Ucap wanita yang tadi menyeret Luzi.



"Terimakasih, Rumi." Jawab Pria itu seraya menepuk pundaknya.



"Hem." Jawab wanita bernama Rumi itu, lalu pamit karena kelasnya akan segera dimulai.



Setelah Rumi pergi, pria itu lalu masuk kedalam yang sudah terdapat Luzi disana. "Kau suka kesenian?" Ucap pria itu hingga membuat Luzi terkejut.



"Kau? kenapa disini? apa tidak ada kelas?" Tanya Luzi setelah berbalik menghadap pria itu.



Pria itu berjalan menghampiri Luzi yang berdiri didekat sebuah gitar. "Kelasku nanti siang." Jawabnya seraya duduk diatas sebuah piano.



"Oh begitu, ku kira kau sengaja absen padahal kau ketua organisasi." Ujar Luzi sambil tertawa.



"Memangnya ketua tidak boleh absen?" Tanya Eren.



"Menurutku, tidak." Jawab Luzi cepat.



"Lalu bagaimana denganmu? Apa kelasmu juga siang?" Tanya Eren basa-basi. Padahal pria itu tahu jika Luzi absen karena kesiangan.



"Hehe... Aku absen." Jawab Luzi disertai deretan gigi yang terlihat.



Eren menggeleng, "Kau mahasiswi baru tapi sudah absen,"



"Memangnya tidak boleh?"



"Boleh. Hanya saja kau rugi, " Eren kini beralih untuk duduk disebuah kursi.



"Bawa gitar itu kemari!" Lanjutnya disertai telunjuk yang mengarah pada gitar dibelakang Luzi.



Luzi lantas berbalik dan mengambil gitar itu, "Ini, bermainlah dengan baik!"



"Kau meremehkanku?" Kedua mata pria itu melirik ke arah Luzi.



"Tidak."



"Iringi dengan suaramu!" Titah pria itu lalu mulai memetik senar.



"A-aku tidak bisa bernyanyi." Ucap Luzi hingga pria itu berhenti bermain.



"Lalu mengapa kau kesini?" Tanya Eren.



"Aku ditarik seorang gadis untuk kesini," Tutur Luzi jujur. Karena memang Rumi tidak memberitahunya alasan mengapa ia dibawa kemari.



"Benarkah? Bisa-bisanya ada orang aneh begitu." Ucap Eren seperti terkejut. Padahal ia sendirilah yang menyuruh Rumi untuk membawa Luzi ke tempat itu.



Setelah puas mendengarkan Eren bermain gitar sekitar setengah jam, Luzi keluar dari ruangan itu untuk kembali ke kelasnya dan mengikuti kelas berikutnya.