ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Terkunci



Suasana kampus yang begitu hangat dengan senyum setiap warga kampus membuat siapapun tidak akan menyangka bahwa ada hal lain yang ditutupi oleh universitas GAZ ini.


Tak ada sedikitpun hal mencurigakan yang tertangkap oleh mata telanjang mengenai simpang siur kasus yang menyeret universitas GAZ. Hal itu yang membuat aparat penyidik menampik keterkaitan universitas GAZ dengan kasus-kasus yang menyeret mahasiswa mereka.


Namun itu tak berlaku bagi Zero, wanita yang tengah berjalan dikoridor itu sesekali mengintip setiap ruangan untuk melihat apa yang terdapat didalamnya. Sesuai dengan rencananya, setelah acara pengenalan mahasiswa baru selesai ia akan mengecek rekaman cctv dan mencari hal yang ia perlukan untuk menguak semua rahasia universitas GAZ.


Drttt....


Zero mengambil ponselnya kemudian mengecek siapa yang memanggilnya itu.


"Halo, ada apa kau memanggilku?"


Luzi kembali berjalan menuju tempat acara pengenalan mahasiswa baru setelah melihat jam ditangannya.


"Hehe, aku bosan dirumah terus, maukah kau—"


"Tidak bisa! Aku sedang sibuk!" Tolak Luzi.


Ia menghentikan langkahnya saat menemui persimpangan yang membuatnya bingung harus kearah mana. Kepalanya melihat ke kiri dan Kanan mencari seseorang yang bisa ia tanyai. Namun nihil, tak ada satu orangpun yang lewat disana.


"Ih kau ini, hobi sekali menolak ajakan orang," ledek Sona.


Luzi membuang kasar napasnya, "memangnya kau mau mengajakku kemana?"


"Ke tempat yang belum pernah kau datangi." Sona tertawa beberapa detik sebelum akhirnya panggilan itu terputus.


"Kebiasaan emang." Keluh Sona.


Ditempat berbeda Luzi masih berdiri dan bingung harus lewat mana, ia memilih menunggu seseorang yang lewat untuk bertanya karena takut nyasar.


Gbrugg.......


Suara benda jatuh yang cukup keras membuat Luzi menghampiri sumber suara itu. Sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka membuatnya penasaran dan ingin melihat apa yang baru saja jatuh.


Sebelum masuk kedalam Luzi kembali mendekatkan wajahnya kedepan kaca jendela Untuk melihat kedalam ruangan itu namun karena kaca itu dikotori oleh debu yang tebal membuatnya tidak bisa melihat apa-apa. ia pun akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam.


Disisi lain seorang mahasiswa yang tengah terburu-buru tidak sengaja melihat Luzi tengah berjalan masuk kedalam ruangan itu seorang diri.


Ia mencoba menghampiri ruangan itu lalu mengintip apa yang coba Luzi lakukan didalam. Melihat penampilan rambut Luzi yang berantakan membuatnya teringat akan seseorang yang bersama Gino diatap gedung kemarin.


Mahasiswa itu menyeringai. Ia perlahan masuk kedalam lalu menutup pintu ruangan itu diam-diam seraya menguncinya.


"Rasain, Siapa suruh dekat-dekat Gino!" Mahasiswa itupun pergi meninggalkan ruangan yang terdapat Luzi didalamnya.


Luzi terus berjalan sambil mengitari seluruh ruangan mencari sumber suara tadi. Tumpukan barang-barang yang masih bagus dan terbungkus rapi membuat rasa takut Luzi berkurang satu persen dari seratus. Ia mencoba meraba benda itu yang ternyata adalah alat olahraga yang baru.


"Syukurlah bukan mayat." Celetuk Luzi. Padahal sudah jelas dia di kampus bukan di rumah sakit yang terdapat ruang jenazah.


Pandangan Luzi kini teralihkan pada beberapa bet tenis meja yang berserakan dan sepertinya benda itulah yang tadi jatuh. Luzi pun memungut bet-bet itu lalu menyimpannya kembali ke atas meja.


Sadar bahwa dia sudah cukup lama berada diruangan itu Luzi pun berlari menuju pintu keluar. Namun saat menarik gagang pintu ia tidak bisa membukanya. Luzi pun terus berusaha membuka pintu itu tetapi tetapnya pintu itu tertutup rapat.


"Sial, aku terkunci."


Luzi mencoba berteriak meminta tolong namun nihil, tak ada seorang yang menjawabnya.


"Sepertinya acara sudah dimulai makanya tidak ada orang yang lewat sini."


Luzi mengambil ponselnya untuk mencari bantuan dari luar dengan menelepon Sona atau pemadan kebakaran sekalian. Namun karena


Sipatnya yang ceroboh membuatnya berada dalam masalah untuk yang kesekian kalinya. Bukan saat ini saja ia lupa mengisi daya ponselnya, bahkan saat sedang menjalankan misipun ia adalah orang paling sulit dihubungi karena ponselnya selalu mati disaat keadaan darurat. Makanya ketua mereka mengganti alat komunikasi dengan handy talky supaya tidak ada masalah lagi karena komunikasi.


Luzi memasukan ponsel itu kembali kedalam tas lalu berjalan menjauh dari pintu itu.


"Sial. Didobrak pun percuma karena pintu ini terbuka kedalam, bukan keluar."


Luzi mencoba menenangkan dirinya dengan duduk dilantai ia memcoba memikirkan cara agar bisa keluar dari ruangan itu.


Cara pertama yang ia pikirkan adalah dengan memecahkan kaca jendela ruangan itu. Namun ia ingat bahwa jendela itu dilapisi dengan pagar besi.


Rencana pertama pun gagal.


Rencana kedua, teriak. Jelas sudah ia lakukan dan hasilnya sama seperti namanya, Zero.


.


.


.


.


.