ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Mimpi buruk menyeramkan



Pagi kembali datang dengan malu-malu. Susana hari ini lumayan hangat karena tidak turun hujan seperti kemarin.


Sesuai rencana yang sudah ia pikirkan sebelumnya, kali ini Luzi memberanikan diri untuk memanggil Gino terlebih dahulu. Ia merogoh ranselnya untuk mengambil benda pipih yang biasa ia bawa.


Namun sebelum sempat ia mencari nama pria itu, tiba-tiba ponselnya bergetar dan menyertakan nama.


"Halo..."ucap Luzi setelah menerima panggilan itu.


"Kau dimana?" Tanya orang itu dari balik telepon.


"Aku di bus," jawab Luzi karena memang saat ini wanita itu tengah duduk dikursi bagian belakang bus.


"Kenapa kau berangkat duluan?" Kesalnya.


"Memangnya kenapa? Terserah diriku mau berangkat kapan!"


"Yasudah, tunggu aku diparkiran kampus!" Ujarnya lalu memutus sambungan telepon.


"Hei! Gino.... Gino.." panggil Luzi hingga orang-orang yang duduk didepan melihat kearah dirinya.


"Maaf, " ucap Luzi kemudian.


Orang-orang itu kembali memutar tubuh mereka kearah depan bus setslah mendengar permintaan maaf Luzi. Namun ada juga satu orang wanita tua yang malah menegurnya karena telah mengganggu kenyamanan umum.


Sepuluh menit berlalu, kini Luzi telah menginjakkan kakinya diparkiran kampus seperti permintaan pria yang tadi meneleponnya.


Suara mesin mobil perlahan masuk ke area parkiran hingga Luzi yang semula berjongkok kini berdiri. "Ternyata mereka berdua." Gumam Luzi.


Kedua pria yang berada didalam mobil kini keluar dan menghampiri Luzi. Berbeda dengan Bima yang menyapanya dengan senyuman, Gino malah memperhatikan Luzi dari atas sampai bawah lalu perlahan mendekat pada Luzi.


Wanita itu hanya menatap Gino yang berjalan kearahnya hingga pria tinggi itu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya dan memeluk Luzi.


Kedua mata Luzi terbelalak dengan tindakan Gino, begitupun dengan Bima. Rasanya ia tengah bermimpi dipagi hari hanya karena melihat Gino memeluk Luzi, bahkan ia beberapa kali menepuk wajahnya pelan.


"Ternyata aku tidak bermimpi."Ucap Bima.


"Gino, kau kenapa? Lepaskan aku!" Luzi mencoba melepaskan pelukan pria itu darinya.


"Semalam mimpiku buruk sekali, tolong biarkan aku memelukmu sebentar." Pinta pria itu lirih seraya memejamkan matanya.


Luzi tak membalas ucapan Gino, ia kini menatap ke arah Bima untuk mencari sebuah penjelasan untuk semua yang terjadi. Bukannya menjawab, Bima malah menggidikkan bahunya lalu melambaikan tangannya meninggalkan kedua orang itu karena kelasnya akan segera dimulai.


"Anu... Bisakah kau melepaskan pelukanmu? Ini area kampus tidak enak dilihat mahasiswa yang lewat." Luzi berkata sedikit gugup karena takut pria itu tersinggung.


Gino melepaskan pelukannya, " maaf, tidak seharusnya aku begini." Ucap pria itu dengan wajahnya yang sedih.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Luzi sedikit khawatir menlihat wajah Gino yang tanpa ekspresi. Meskipun memang biasanya pria itu memasang wajah datar, namun kali ini ia tampak berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya wajah pria itu lebih kaku.


Gino hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkan Luzi yang mematung ditempatnya. "Terimakasih..." Ucapnya kemudian.


Luzi menatap punggung pria yang sepertinya tengah bersedih itu lalu berlari menghampirinya."Ikut aku!"


"Kemana?" Tanya Gino


Luzi menarik tangan Gino untuk ikut kemanapun langkah kakinya melangkah, "Ketempat siapapun tidak bisa datang!" Ujarnya.


Gino yang biasanya banyak bertanya kini hany pasrah dengan Luzi yang menuntunnya entah kemana. Lagipula kebetulan karena hari ini dia hanya memiliki satu kelas untuk ia ikuti.


Beberapa langkah kedua orang itu akan meninggalkan area kampus menuju sebuah tempat yang dimaksud oleh Luzi.


"Kenapa kita ke apartemenku?" Celetuk Gino yang benar bahwa gedung yang biasa mereka datangi adalah milik ibunya, yang berarti miliknya juga.


Luzi yang mendengar hal itu hanya tertawa karena berpikir jika ucapan pria itu hanya lelucon belaka. "Jangan mimpi! Kau bahkan selalu berangkat bersama Bima." Ledek Luzi.


"Itu karena—"


"Sampai!" Ucap Luzi setelah beberapa anak tangga mereka lalui sambil berpegangan tangan.


"Kenapa kesini?" Heran Gino.


Luzi memutar bola matanya, "Ayo duduk disana." Gino menuruti apa yang dikatakan oleh Luzi padanya


"Kau bisa ceritakan semuanya disini tanpa khawatir ada siapapun yang akan mendengarnya selain aku." Ucap Luzi seraya menatap sembarang arah.


Gino hanya menatap Luzi dari samping, ia benar-benar yakin jika wanita dua tahun lalu adalah Luzi, bukan orang lain.


"Kau kenapa?" Tanya Luzi kemudian.


Gino menarik dalam-dalam napasnya sebelum akhirnya ia mulai berbicara. "Sebagai seorang polisi, apa kau akan menangkap pelaku kriminal?" Tanya Gino hingga Luzi terkejut setengah mati.


"Si-siapa ma-maksudmu yang seorang polisi?" Tanya Luzi gugup.


"Temanmu, memangnya siapa lagi. Kau? Kau tidak pantas jadi polisi," celetuk Gino hingga Luzi diam-diam mengumpat dalam hatinya.


"Kau ceroboh, mundur saja kemarin kau sampai terluka. Bagaimana mungkin seorang polisi bisa ceroboh seperti dirimu itu." Papar Gino.


Luzi tersenyum getir, "ceritanya panjang." Batinnya.


Tawa Luzi membuat Gino menatap ke arahnya,"kenapa kau tertawa?"


"Kau benar, aku tidak cocok jadi polisi." Jawab Luzi kemudian.


"Tapi kau seorang polisi bukan?" Kekeh Gino.


"Bukan. Sudah kau katakan bukan, bahwa aku tidak cocok jadi polisi," kilah Luzi.


"Aku malah yakin jika —"


"Memangnya kau mau apa jika aku polisi?" Pangkas Luzi.


Gino terdiam. Apa sudah waktunya dia menceritakan kejadian dua tahu lalu pada wanita didepannya, yang dia yakini bahwa dia adalah polisi wanita yang ikut bersamanya dalam ambulans saat itu.


"Hei," Luzi menjentikan jarinya untuk menyadarkan Gino.


"Apa?"


"Kenapa kau memelukku tadi?" Tanya Luzi berpikir bahwa Gino telah melupakan pembahasan tentang dirinya seorang polisi.


"Mimpiku semalam sangat buruk." Jawab Gino mengalihakan pandangannya lurus ke depan.


"Maukah kau menceritakannya padaku?"


Gino menatap Luzi dengan begitu dalamnya, "Semalam aku bermimpi masuk ke penjara dan disiksa begitu kasarnya oleh napi yang lain. Hingga setelah cukup lama merasakan sakit, aku akhirnya sekarat dan ditertawakan oleh seorang gadis yang aku...."


Luzi menatap lekat wajah Gino menanti kelanjutan cerita pria itu. "Yang kau apakan?" Tanyanya kemudian setelah cukup lama Gino terdiam tak melanjutkan ucapannya.


Gino menunduk dalam-dalam kepalanya sambil meremas rambutnya, ia masih takut untuk mengatakan semua yang telah terjadi dimasa lalu akibat ulahnya.


Luzi memegang punggung tangan Gino, "Lanjutkan saja, aku akan mendengarnya sampai akhir." Ucapnya menenangkan.


Gino menatap Luzi, "Yang aku bunuh." Lanjutnya hingaa membuat Luzi terkejut hingga melepaskan pegangan tangannya dari tangan Gino kemudian menutup mulutnya yang terbuka.


"Ka-kau membunuh si-siapa?"


Gino menatap Luzi lalu memalingkan pandangannya, "Seorang gadis kecil." Jawab Gino kemudian.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Luzi penasaran. Ia tak menyangka bahwa Gino pernah membunuh seorang gadis.


"Apa kau ingat kejadian dua tahun lalu? Saat seorang siswa SMA telibat kecelakaan hebat dan menewaskan satu orang gadis ?" Tanya Gino kemudian.


Luzi terdiam. Ia tak mengingat apapun mengenai kecelakaan yang dimaksud oleh Gino, namun karena penasaran ia memilih untuk menganggukkan kepalanya berpura-pura mengingat kejadian itu.


"Siswa itu adalah aku. Aku yang menyebabkan gadis itu tewas, tapi aku tidak dihukum karena ayahku menyelesaikannya secara kekeluargaan." Gino semakin menundukkan kepalanya dan perlahan menggigil hingga air mata keluar dari matanya. "Dan kau juga ada disana!" Lanjut Gino.


"Apa? Aku?" Batin Luzi.


"Gin.." Ucap Luzi mencoba menenangkan pria itu dengan cara memeluknya.


"Kau, kau yang membawaku ke rumah sakit saat itu hingga saat ini aku masih hidup." Lirih Gino. "Tapi hidupku tidak seperti dulu lagi, aku terus diikuti rasa bersalah dan khawatir. "


"Bisakah kau katakan kejadian detailnya? Dan bagaimana cara kau membunuhnya?" Luzi mencoba bertanya.


"Aku menabraknya." Jawab Gino terbata karena pria itu tengah menahan tangisnya.


"Saat aku sadar dan mencari keberadaanmu, semua orang menggeleng tidak tahu wanita yang ku maksud." Papar Gino menatap lekat bola mata wanita yang berada didepannya itu.


"Untuk apa mencariku?" Heran Luzi.


Bukannya menjawab Gino malah menunduk dalam-dalam.


^^^"Cari file kecelakaan seorang siswa dua tahun lalu!" ^^^


Luzi mengetik sebuah pesan yang ia kirimkan kepada rekannya di kantor.


"Kau pernah kecelakaan. tapi kau mengendarai motor seperti mengajak mati!" Batin Luzi kesal.


✍️Note


* Semua cerita yang disajikan bukan merupakan fakta ya, jadi jika kalian ingin lebih tahu tentang salah satu hal yang dijelaskan, bisa cari dari sumber lain ok..


Tidak ada kata lain selain terimakasih yang dapat saya sampaikan kepada para pembaca semuanya... Jika kalian menyukai karyaku, jangan lupa tinggalkan jejak! terimakasih 🤗


pokonya kalo gak ninggalin jejak aku bakalan rayu kalian buat balik lagi keatas🤣