ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Kedatangan Tuan Bos pt2



Mendengar suara pintu yang hendak dibuka membuat seseorang yang tengah berdiri menunggu didepan pintu segera bersembunyi.


Hantaman pintu yang ditutup membuat tubuhnya terhenyak karena kaget. Tangannya kini memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat karena hal itu. "Untung aku tidak ada kelainan jantung," Gumamnya.


"Apa sebaiknya kita melaporkan ini pada polisi?" Tanya ibu Lila.


Suaminya menggeleng, "tidak usah, kita akan bertemu Lila hari ini."


"Bagaimana jika tidak?" Tanyanya sambil berjalan pelan menjauh dari ruangan tempat dimana mereka cekcok bersama Rendi.


"Sttt.. kita pasti akan bertemu dengannya, yakinlah." Ucap pria yang sudah mendampingi separuh hidupnya itu.


Mendengar ucapan dari sang suami membuat hatinya merasa lega dan kembali berpikir positif tentang putrinya.


Selepas kepergian sepasang suami istri itu, pria yang tadi bersembunyi perlahan keluar dan mendekati pintu ruangan dosen Rendi kemudian masuk untuk menemui pria itu.


"Morning," sapanya.


"Oh.... pagi, bos." Balas Rendi yang segera berdiri saat menyadari seorang pria baru saja masuk ke dalam ruangannya.


Pria itu pun segera mendaratkan tubuhnya disalah satu kursi yang ada disana seraya menyilangkan kakinya dan melempar ransel yang berada di punggungnya ke samping dirinya.


"Bagaimana jika mereka memanggil polisi?" Tanya Rendi yang kini ikut mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Itu urusanmu. Kau kan pintar mengelabui mereka, bahkan selalu lolos." Ujar pria itu. "Lalu bagaimana dengan putri mereka itu?" Tanya bosnya Rendi.


Pria itu memang sudah mendengar semua yang telah terjadi diruangan itu melalui ponselnya. Ya, saat Rendi membalikkan ponselnya tadi saat itulah ia menerima panggilan dari tuan bos dan membiarkan dia mendengar semua yang terjadi di dalam ruangannya.


"Seperti yang sudah aku katakan, dia berangsur pulih. Dan sepertinya dia dapat beraktivitas seperti biasanya." Jelas Rendi.


"Oh.."


"Kedatanganku kesini bukan untuk menanyakan soal wanita itu. Aku hanya ingin kau datang menemui klienku sebagai diriku." Jelas pria itu.


Rendi menatap wajah bosnya sebagai tanpa bahwa dia memerlukan penjelasan lebih. " Maksudku temui klienku malam ini sebagai diriku, Bukan dirimu. Aku tidak bisa menemuinya karena ada urusan." Tutur pria dengan jam berwarna hitam bergaris merah dan putih itu.


"Baik, tuan. Dimana aku harus menemuinya?"


"Aku akan mengirimkan lokasinya padamu nanti. "Pria itu mengambil ranselnya dan kembali memasangkannya pada bahunya, "aku harus pergi sekarang karena ada kelas." Ucapnya lalu bangkit dari duduknya dan berjalan untuk meninggalkan ruangan itu.


"Huh.." Rendi menghempaskan napasnya kasar. "Apalagi yang akan aku hadapi kali ini?" Keluh pria itu yang kini menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi seraya menutup kedua matanya.




Usai sudah kunjungan Luzi ke setiap sudut kampus untuk ke sekian kalinya. Kali ini ia membawa sebuah kertas kosong untuk membuat denah tempat-tempat yang sudah ia lalui.



Sebenarnya, hari ini Luzi tidak memiliki kelas apapun. Namun karena Gino tiba-tiba datang kerumahnya dan mengajaknya untuk berangkat bersama membuat Luzi berpikir bahwa ia tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Sekalian, ia juga ingin lebih dekat dengan pria itu supaya dapat dengan mudah mengorek informasi darinya.



Ia juga dengan sengaja pergi meninggalkan kedua orang tua tadi untuk menghindari Gino. Karena ia yakin jika pria itu akan mengikutinya dan membuatnya kesulitan untuk menjalankan misi.



Luzi memperhatikan hasil gambar yang bahkan tidak seperti denah sedikitpun itu. "Astaga, Jelek sekali gambarku." Ucap Luzi yang tengah terduduk dikursi.



Corekan pulpen yang tergores begitu saja tanpa sebuah seni membuatnya seperti gambar anak sekolah dasar yang baru mulai berimajinasi. Bahkan mungkin gambar mereka lebih bagus dan mudah dipahami dari pada gambar milik Luzi.



"Tunggu, aku tidak tahu ini ruangan apa?"




Ternyata benar, ruangan itu bahkan tidak dapat ia ingat meski hanya sebuah tulisannya saja.



"Aku akan memeriksanya lagi." Wanita itu lantas bangkit dan berjalan sesuai denah yang sudah ia gambar.



Sambil berjalan kedua matanya tak lepas dari kertas itu hingga ia sesekali hampir menabrak tembok saat akan berbelok.



"Nah, sepertinya ini ruangannya." Ucap Luzi saat tiba didepan sebuah pintu.



"Pantas saja aku tidak mengingat tempat ini." Ucap Luzi. Ia mencoba membuka pintu itu namun ternyata pintunya dikunci.



Wanita itu kemudian mencoba mengintip kedalam dari jendela yang tertutup rapat oleh gorden itu karena di pintu tidak terdapat keterangan ataupun tulisan seperti pintu-pintu ruangan lainnya hingga membuat wanita itu semakin penasaran akan isi didalamnya.



"Ruangan apa ini?" Tanya Luzi yang tidak dapat menebak isi ruangan itu.



"Aku akan menandainya." Luzi memberi sebuah lingkaran pada kertas denah yang ia buat untuk memudahkan dirinya kembali ke tempat itu.



Usai dari tempat yang ia tandai, Luzi kini berjalan menuju gedung di samping kampus untuk mencari udara alami dari atap gedung tinggi itu.



Sebelum ke gedung tujuannya, Luzi terlebih dulu mampir ke supermarket disebrang gedung itu untuk membeli beberapa jenis camilan.



Dengan keranjang ukuran kecil ditangannya, Luzi mulai berkeliling di sudut yang terdapat banyak makanan ringan kaya akan rasa. Seperti makanan rasa cokelat, keju, jagung panggang dan masih banyak lagi.



Luzi mengambil dua makanan ringan rasa keju dan barbeque. Tak lupa juga ia mengambil makanan dengan rasa manis. Dirasa cukup, ia kini berjalan menuju kasir untuk membayarnya.



"Ini juga jangan lupa." Ucap Luzi saat dirinya melewati lemari pendingin yang berisi berbagai jenis minuman. Ia membawa air mineral dan satu kaleng soda.



Keranjang yang semula ditangannya kini ia letakan diatas meja kasir untuk dihitung.



"Semuanya 500, " ujar kasir itu seraya memberikan kantong kresek berisi barang milik Luzi.



"Terimakasih," ucap Luzi setelah membayar.