ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Gagal Romantis



Beep....


Beep....


Gino menekan klakson mobil Bima supaya orang itu kembali masuk kedalam mobil. Namun sudah berkali-kali ia melakukan itu tetap saja pria itu berdiri disamping jalan yang Tak jauh dari tempat mobil berhenti.


"Terserah jika dia mau meninggalkanku, pokoknya aku tidak mau satu mobil dengan mayat." Bima tak peduli dengan bunyi klakson yang ditujukan padanya itu.


"Hei, Bima. Cepat kau kembali!" Teriak Gino setelah membuka kaca mobil. Namun temannya itu tak peduli dan tetap berdiam diri dipinggir jalan.


"Sial," Gino akhirnya turun untuk


menghampiri temannya itu.


"Ayo cepat masuk mobil," Gino menarik lengan Bima untuk mengikutinya.


"Aku tidak mau!" Bima meronta-ronta mencoba melepaskan tangannya dari teman harimaunya itu. Ia bahkan hampir berpegangan pada tiang lampu jalan namun tidak sempat dilakukan karena Gino tak membiarkannya. Gino tak menggubris apa yang terus keluar dari mulut Bima dan terus menarik pria itu untuk kembali masuk kedalam mobil.


"Duduk dengan tenang oke, jika kau keluar dari disini, aku akan menghancurkan mobilmu!" Ancam Gino lalu membanting pintu mobil kemudian berjalan untuk ikut masuk kedalam.


"Kita sekarang kemana? Ke makam atau tetap ke rumah sakit?" Tanya Bima yang sudah memegang kemudi siap untuk menyetir kembali.


"Kita cari air mineral, sepertinya wanita itu dehidrasi." Ucap Gino.


Disuatu ruangan seorang pria berdiri sambil memegang ponselnya. Ia menekan angka Nol lalu muncul sebuah nomor dan pria itu langsung menghubunginya.


Namun lagi-lagi nomor yang ia tuju tidak dapat menerima panggilan. Sudah kesekian kalinya pria itu memanggil orang yang sama namun tak ada jawaban yang pasti.


"Kenapa kau sulit sekali dihubungi disaat seperti ini?" pria itu menyimpan kembali ponsel itu kedalam saku celananya.


Tok...tok....


Seorang pria masuk kedalam ruangan setelah dipersilakan oleh komandan. Dengan seragam lengkap dan badan yang tegap serta rambut cepak yang rapi membuat penampilan pria itu begitu indah untuk dilihat.


"Apa komandan memanggil saya?" Tanya pria itu.


Pria yang hampir pensiun itu menganggukan kepalanya. "Apa Zero sudah melaporkan sesuatu kepadamu?"


"Siap belum. Mungkin dia masih sibuk dengan acara awal kampus, dan baru akan memulainya setelah selesai." Jelas pria bernama David itu.


"Oh, baiklah kau boleh kembali. Laporkan apapun yang kau tau padaku." Ujar pria berpangkat komandan itu.


"Siap, komandan." Ucap David lalu pamit undur diri.


"Ini airnya," Bima menyodorkan sebotol air mineral pada Luzi dari kursi depan.


Luzipun mengambil air itu, "Terimakasih,"ucapnya pelan.


"Sama-sama." Balas Bima yang kini duduk dibelakang kemudi sambil memainkan ponselnya disertai earphone yang menempel di telinganya.


Dengan tubuhnya yang masih lemas, Luzi mencoba membuka tutup botol namun tak bisa hingga ia kehilangan kesabaran dan terus mengumpat dalam hatinya.


"Cepatlah terbuka aku sangat haus," jerit Luzi dalam hatinya.


Masih terus berusaha membuka tutup botol, tiba-tiba tubuh Luzi terjungkal saat pintu mobil dibuka oleh Gino hingga membuat Luzi hampir terjatuh ke lantai. Untungnya Gino dengan sigap menopang tubuh kecil dan lemah gadis itu.


Luzi menatap retina mata hitam milik Gino yang sama-sama sedang melihat kearahnya. Bagaikan adegan romantis di sebuah film kedua orang itu masih terus bertatap tanpa tahu isi hati masing-masing yang saling mengumpat.


"Dasar bodoh. Sudah tau aku bersandar dipintu mobil tapi orang ini tetap saja membukanya." Batin Luzi.


"Sampai kapan kau akan menggunakan kakiku sebagai bantal?" Keluh Gino yang sudah merasakan pegal dikakinya karena menopang tubuh Luzi serta tanganya memegang pintu mobil.


Luzi berpegangan pada kursi yang diduduki Bima lalu perlahan bangkit untuk duduk dengan wajah yang kesal karena Gino membuka pintu mobil tiba-tiba padahal tahu jika dirinya tengah bersandar. Bukan itu saja, pria itu juga menopang tubuhnya bukan dengan tangannya melainkan dengan kakinya.


"Apa Bima tidak membukakannya untukmu?" Gino tiba-tiba mengambil botol air minum itu lalu membukakannya.


"Astaga, Dia masuk lewat pintu yang lain? Kenapa tidak tadi saja kau masuk lewat pintu itu," Batin Luzi yang tengah meratapi kebodohan Gino. Ingin sekali rasanya wanita itu mengumpat pada kedua pria yang saat ini bersamanya itu.


Luzi menggeleng, lalu mengucapkan terimakasih dengan suara yang kecil. Bima yang duduk didepan membalikan tubuhnya kebelakang saat Gino menendang kursi itu dan menyuruh Bima melepas earphonenya. "Maaf, aku pikir kau akan lebih kuat setelah hidup kembali." Ucap Bima disertai senyuman yang meledek.


"Jadi dia pikir aku sudah mati?" Batin Luzi sambil meneguk air itu perlahan.


"Ini obati luka dikeningmu!" Gino menyodorkan sebuah kotak pertolongan pertama pada Luzi.


Luzi pun mengambilnya lalu membuka kotak itu dan mulai mengobati lukanya sendiri.


.


.


.


.