ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
sebuah perbedaan



Cahaya mentari samar-samar terlihat dari balik tirai yang masih menutupi jendela kamar Luzi. Wanita itu masih menutup matanya dengan selimut yang setia menempel ditubuhnya. Hingga suara dering alarm membuat Luzi perlahan membuka matanya. Tangannya meraba-raba mencari benda berisik itu untuk menghentikan suara yang dihasilkannya.


"Sudah pagi saja, padahal semalam rasanya belum begitu lama." Luzi mencoba bangkit dari tidurnya dengan rasa sakit disekujur tubuhnya.


Masih enggan meninggalkan ranjang, Luzi mengambil ponselnya yang sudah ia isi dayanya semalam diatas nakas. Wanita itu menekan tombol power untuk menghidupkan benda persegi panjang berwarna hitam itu. Beberapa detik kemudian benda itu pun hidup.


Ia kemudian memeriksa apakah terdapat hal pemberitahuan penting atau tidak yang ia lewatkan kemarin. Ternyata kosong, tak ada apapun yang tertera dilayar ponselnya itu selain beberapa pesan dari Sona.


^^^"Jika bisa, malam Minggu aku akan menjemputmu." ^^^


^^^Pesan Dari Sona^^^


Setelah melihat pesan dari Sona, Luzi pun kembali menyimpan ponselnya lalu memegangi seluruh badannya yang merasa sakit. "Sialan pencuri itu, bisa-bisanya aku bertemu dengannya lagi dalam keadaan emosi begitu. Untung aku tidak jadi mati."


Puas meratapi rasa sakit ditubuhnya Luzi pun bergegas membersihkan dirinya sebelum pergi ke kampus.


Berbanding terbalik dari apa yang dialami oleh Luzi, Gino terbangun dengan begitu segar. Ia begitu menikmati bunga mimpi yang menemaninya semalam Sampai ia hampir lupa untuk bangun. Untungnya ia dibangunkan oleh mamanya, meskipun dengan cara yang kasar. Apalagi jika bukan dengan menggedor pintu hingga benda itu seakan mau lepas dari tempatnya.


Gino terduduk seorang diri dimeja makan sambil menunggu sarapan menghampiri untuk ia nikmati. Segelas susu serta semangkuk sup buatan mamanya siap dijadikan santapannya kali ini. Sebelum anggota keluarganya yang lain berkumpul untuk sarapan, Gino sudah selesai dan bergegas untuk berangkat.


"Aku berangkat, Ma." Pamit Gino


"Eh, sarapannya tidak kau habiskan?" Tanya mamanya yang masih melihat sisa makanan di mangkuk.


"Tidak, aku sudah kenyang." Teriak Gino yang sudah menjauh dari ruang makan.


"Pagi-pagi sudah teriak, kenapa?" Tanya papa Gino yang kini menarik kursi untuk duduk.


"Itu Gino, seperti biasa selalu buru-buru dan tidak menghabiskan makanannya." Jelas mama Gino seraya ikut duduk menemani suaminya untuk sarapan.


"Mengapa dia selalu berangkat sangat pagi? Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir makan bersamanya." Ucap Papa Gino.


Diluar rumah, Gino duduk diatas kap mobil milik papanya menunggu temannya lewat untuk ikut berangkat ke kampus bersama. Seraya menunggunya ia memainkan ponselnya melihat hal yang sedang terjadi didunia Maya itu.


BIP.. BIP ...


Bunyi klakson membuat Gino mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Gino pun turun lalu menghampiri mobil itu yang tak lain adalah Bima kemudian masuk.





Enam menit berlalu dan akhirnya bus yang mereka tunggu muncul. Semua orang yang tadi menunggu kini berdiri berbaris dan silih berganti untuk masuk kedalam bus. Kondisi bus yang penuh membuat Luzi harus berdiri sambil berpegangan pada tempatnya. Meski harus menahan pegal di kaki dan tangannya luzi tetap memperlihatkan senyumnya kepada orang-orang dalam bus.



"*Apakah di anak kuliahan? Tapi ko penampilannya berantakan*?" Bisik seseorang dibelakang Luzi.



"*Entahlah, mungkin dia anak sekolah menengah pertama yang baru belajar tentang penampilan*,"



Cemoohan-cemoohan itu terdengar bergitu jelas ditelinga Luzi hingga ia mengeratkan kepalannya pada alat untuk berpegangan untuk melampiaskan kekesalannya pada orang-orang itu. Semakin dan semakin erat hingga bus itu berhenti lalu ibu-ibu yang tadi menggunjingnya keluar.



Bus kembali melaju dan kini Luzi beralih duduk menempati tempat ibu-ibu tadi. Ia menyandarkan kepalanya ke jendela bus seraya memejamkan matanya sesekali, merasakan rasa sakit yang masih mendera diseluruh tubuhnya.



Kendaraan kini mulai mengantri menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Begitupun dengan mobil Bima yang bersebelahan dengan sebuah bus yang sama-sama berhenti.



Bosan akan pemandangan didepan yang hanya menunjukan nomor kendaraan, Gino mengalihkan pandangannya ke jendela samping untuk melihat sesuatu yang mungkin menarik. Namun ternyata ia salah, pemandangan disampingnya itu bahkan lebih buruk karena terhalang oleh bus.



Akhirnya lampu berubah menjadi hijau dan semua orang perlahan-lahan kembali melajukan kendaraan mereka. Begitupun dengan bus disamping Gino, ia melajukan kendaraan panjangnya itu perlahan hingga Gino melihat sekilas seseorang yang tak asing bagi dirinya.