
Cukup lama mereka menempuh waktu untuk tiba di parkiran kampus. Kini ketiga orang itu berjalan beriringan dilorong kampus hingga beberapa mahasiswa terkejut saat Luzi, gadis kusut ikut bersama kedua pria yang terkenal tampan itu.
"Bagaimana bisa wanita kusut itu bersama mereka?"
"Aku bahkan lebih pantas berjalan bersama mereka.."
"CK, sepertinya wanita itu menawarkan dirinya kepada kedua pria itu."
Dan masih banyak lagi gunjingan-gunjingan mengenai Luzi karena berjalan bersama Gino dan Bima yang terkenal akan ketampanannya. Namun mereka terkenal bukan karena ketampanannya saja, mereka juga terkenal sebagai penyuka sesama jenis karena hingga saat ini mereka belum pernah berjalan bersama seorang wanita.
Bahkan saat salah satu dari mereka dihampiri seorang mahasiswi, mereka selalu kedapatan sedang berduaan. Entah itu makan di kantin atau duduk-duduk ditaman kampus. Intinya Dimana ada Gino disitu juga kau akan temukan Bima. Ya meskipun mereka berbeda jurusan, namun entah kenapa mereka selalu terciduk sedang jalan bersama layaknya sepasang kekasih.
Kedua mata Luzi berkeliling dan menangkap para mahasiswa yang ia lewati menatapnya dengan tatapan jijik. Bahkan ia sulit menerjemahkan tatapan yang ditujukan untuknya itu.
"Terus jalan, biarkan saja mereka!" Ucap Gino yang berdiri dibelakangnya.
Luzi mengangguk dan terus berjalan seperti yang dikatakan oleh Gino, kini wanita itu berhenti didepan sebuah pertigaan.
"Kita berpisah disini, terimakasih tumpangannya." Ucap Luzi tersenyum dan menundukan kepalanya.
"Sama-sama, terimakasih juga sarapannya." Ucap Bima.
"Hem, sampai jumpa lagi." Luzi melambaikan tangannya dan berjalan kearah kanan.
Gino hanya diam dengan mata yang mengikuti kepergian Luzi menjauh darinya. Ia lalu kembali melangkah kearah berlawanan disusul oleh Bima dibelakangnya.
"Kenapa saat itu rumor tentang kita begitu jelek?" Celetuk Bima yang kembali mengingat saat-saat rumor tentang dirinya dan Gino yang penyuka sesama jenis.
"Itu karena kau selalu mengikutiku!" Keluh Gino yang terus melangkahkan kakinya.
"Eh? Bukannya kau yang selalu mencariku?" Bima menyangkal bahwa bukan dirinya yang selalu mencari Gino. Melainkan pria berambut comma hair itu.
"Apa kau tidak salah? Bahkan saat aku masih dikelas pun kau sudah menungguku didepan pintu." Ledek Gino hingga membuat Bima tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya.
"Apa kau? Mau menyangkalnya?" Ledek Gino saat Bima tak lagi menjawabnya.
"Hehe... Tapi sepertinya kau harus mulai mencari pasangan." Celetuk Bima.
Alis Gino terangkat mendengar ucapan temannya itu, "kau seharusnya berkaca dulu. Baru memberi saran!" Tegas Gino.
"A-aku sudah membawanya bertemu dengan orang tuaku, sekarang giliranmu!" Bima terpaksa mengatakan hal itu karena tidak mau melihat temannya itu terus sendirian.
Gino menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Bima yang juga ikut berhenti, "CK, kemarin kau marah-marah padaku soal hubungan yang aku sembunyikan, sekarang kau yang malah main rahasia-rahasia." Kesal Gino.
Gino menghembuskan napasnya kasar, "Mamamu mungkin tidak mau kau sendirian sampai tua." Ucap Gino menepuk-nepuk pundak temannya itu perlahan hingga begitu keras dan membuat Bima tersedak.
"Kau mau membunuhku ya?" Bima segera menjauh dari samping Gino.
"CK, ketahuan ya?" Gino kembali melanjutkan perjalanannya yang terhenti itu.
Kedua teman itu kini harus berpisah karena kelas mereka berbeda. Gino berjalan lurus kedepan sedangkan Bima berbelok ke kanan dan langsung tiba didepan kelasnya.
~~~~~~~~~~~~~~~
Suara sepatu seseorang yang tengah berlari begitu nyaring menghampiri kerumunan wanita dalam ruangan hingga membuat para wanita itu menoleh untuk melihatnya.
"Kau kenapa?" Tanya Rima pada seseorang yang baru saja tiba.
"Biarkan dia bernapas dulu," celetuk salah seorang dalam kerumunan itu.
Lia mendekati wanita berambut pendek dengan poni tipis menutupi keningnya itu, "katakan? Kau dikejar apa?"
"Anu... Itu... " Wanita itu berkata terbata-bata karena napasnya belum stabil sambil menunjuk keluar ruangan.
"Itu apa?" Lia berjalan keluar untuk melihat keadaan yang membuat wanita berponi itu berlari.
"Gino... Gino datang bersama wanita." Ucapnya setelah napasnya kembali teratur.
Plak..... Abel menggebrak meja hingga membuat semua orang dalam ruangan itu memegang dadanya karena terkejut.
"Apa kau bilang? Siapa wanita itu?" Teriak Abel. Ia sungguh murka karena tak terima ada wanita lain yang mampu mengalahkan dirinya untuk mendapatkan Gino.
"Aku-aku tidak tahu siapa wanita itu, yang ku dengar hanya wanita itu rambutnya berantakan." Jelas wanita itu memberitahu ciri-ciri wanita yang datang bersama Gino dan pastinya juga bersama Bima.
Abel berpikir sejenak untuk membayangkan wajah wanita yang dimaksud oleh temannya itu, "Sial. Ternyata dia tidak mendengar peringatanku kemarin." Kedua tangan Abel mengepal erat geram karena peringatannya tak dihiraukan oleh Luzi.
"Rima, Lia, kalian ikut aku sekarang!" Tegas Abel.
"Oke," Rima dan Lia berjalan dibelakang Abel siap mengekori kemanapun wanita itu pergi.
"Kalian mau kemana?" Tanya seorang dosen yang siap masuk kedalam kelas dan berpapasan dengan ketiga orang itu didepan kelas.
Ketiga orang itu pun mematung, "Anu.....tadinya kami ada perlu keluar pak, tapi karena bapak sudah tiba perlunya nanti saja." Ucap Abel lalu kembali duduk di mejanya.