
"Eh..." Tiba-tiba sebuah tangan menarik dirinya dan membawanya kesebuah gang.
"Siapa kau?" Luzi mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman orang itu namun gagal karena orang itu terlalu kuat.
"Lepaskan aku," teriak Luzi.
Pria itu pun menghempaskan Tubuh Luzi hingga ia bersandar ditembok. Teriakan demi teriakan terus keluar dari mulut Luzi yang masih serak itu hingga pria itu Kesal dan kini semakin mendekati Luzi lalu menutup mulutnya supaya tidak bisa teriak.
"Kau tidak ingat siapa diriku?" bentak pria itu.
Luzi pun menggeleng cepat karena ia tidak bisa menjawabnya karena dibungkam. Kesal karena Luzi tak mengingatnya, Pria itu melepaskan tangannya dari mulut Luzi dan kini beralih mencengkram lengan Luzi.
"Awww .." Luzi meringis kesakitan karena luka lebamnya yang semalam dicengkram kuat oleh orang itu.
"Aku orang yang semalam kau pukuli hingga babak belur, lihat!" Pria itu menunjuk wajahnya yang terdapat luka lemban dan sudut bibirnya yang masih merah.
"Untungnya kau kecil jadi sangat mudah untuk aku hempaskan." Pria itu semakin menguatkan cengkraman tangannya pada bahu Luzi.
"Jadi dia pencuri semalam? Cih, Mereka disuruh tangkap pencuri saja tidak becus!" Umpat Luzi dalam hati.
"Jadi kau mengikutiku?"
"Mengikutimu? Cih," pria itu membuang ludahnya, "aku harus terus bersembunyi karena polisi terus berjaga semalaman. Dan sekarang semesta mendukungku untuk membalas perbuatanmu padaku semalam."
Tanpa aba-aba pencuri semalam itu langsung melambungkan tubuh kecil Luzi hingga tubuhnya membentur beberapa kotak kayu.
"Aww..." Luzi memegang pinggangnya yang terkena ujung kotak kayu itu. Ia lalu merangkak mencoba menghindari pria yang tengah mengamuk itu.
"Kenapa kau menghindar? Kemana kekuatanmu yang semalam itu?" Pria itu berjalan mendekati Luzi yang tengah berusaha menjauhinya dengan merangkak.
Luzi terus mencoba menghindar dari pria itu karena ia tidak sanggup jika harus melawannya dengan kondisi tubuhnya yang belum pulih itu. Ia terus merangkak hingga mencapai batasnya karena jalan itu buntu.
"Sial," Luzi bangkit dan kini duduk bersandar pada tembok.
Pria itu kini membawa balok kayu yang cukup besar kearah Luzi. "Kau hampir membuatku membusuk di penjara, sekarang kaulah yang akan membusuk di tempat ini!" Teriak pria itu sambil mengangkat balok kayu.
Luzi menundukkan kepalanya sambil menutup kedua matanya memohon supaya siapapun menolongnya, tapi yang dia inginkan Davidlah yang menolongnya.
"Kenapa kau menutup matamu? Kau takut?" Pria itu menurunkan kembali balok kayu itu, "tenanglah ini tidak akan sakit, " pria itu menyeringai lalu mengangkat tinggi-tinggi balok itu.
Brugh....
Luzi membuka matanya dan melihat pencuri itu sudah tersungkur didepannya.
"David ..." Lirih Luzi lalu mengangkat kepalanya untuk melihat pujaan hatinya. Namun ternyata ia salah,, orang yang sudah menolongnya itu adalah Gino.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Gino lalu melemparkan balok kayu yang ia pakai untuk memukul pencuri itu hingga pingsan.
Luzi hanya menggeleng karena masih shock memikirkan dirinya akan mati di tempat itu jika Gino tak menolongnya, lagi. Bukannya ia takut akan kematian,toh semua orang akan merasakannya. Hanya saja ia tak menyangka bahwa ia akan mati sebelum menguak fakta universitas GAZ.
"Untung aku mengikutimu tadi karena saat ku panggil kau malah terus berjalan," Lanjut Gino.
Benar, tadi saat menunggu diparkiran ia melihat Luzi keluar dari restoran namun bukannya berjalan kearah parkiran tempat Bima memarkirkan mobilnya wanita itu malah berjalan kearah berlawanan. Berpikir bahwa Luzi lupa tempat parkir mobil, Gino pun berteriak namun bukannya berbalik, wanita itu malah melirik kanan dan kiri lalu kembali berjalan.
"Untuk apa kau memanggilku?" Tanya Luzi yang masih terduduk dijalan.
"Tentu saja supaya kau ikut bersama kami,"
Mendengar ucapan Gino kening Luzi berkerut, "Ikut kalian? Kemana?"
"Maksudku, kami akan mengantarmu pulang." Ralat Gino, mendengar itu Luzi membulatkan mulutnya.
"Kemari," Gino mengulurkan tangannya untuk membantu Luzi berdiri.
Luzi pun menerima uluran tangan Gino, "terimakasih," ucapnya.
Gino hanya membalas terima kasih itu dengan sebuah anggukan. "Kau kenal orang ini?" ucapnya seraya menunjuk pencuri yang tersungkur di tanah.
"Tidak,"
Kening Gino berkerut, "tidak? Lalu kenapa tadi dia bilang akan membalas perbuatanmu semalam? Apa yang telah kau lakukan padanya?"
Luzi menggaruk wajahnya yang gatal, "semalam aku melaporkannya ke polisi karena dia seorang pencuri, tapi sepertinya para polisi sulit menemukan orang ini karena ia bersembunyi."Jelasnya
"Astaga, aku lupa harus mengembalikan tas ini," Ucap Luzi seraya mengambil tas berwarna putih itu dari ranselnya.
Gino merebut tas itu dari genggaman Luzi lalu membuka isi dari tas itu, "biar aku yang mengembalikannya untukmu." Gino memberikan tawaran.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Ketus Luzi mengambil kembali tas putih itu.
"Terserah padamu. Aku sudah menawarakan bantuan dan tidak akan menawarkannya lagi untuk yang kedua kalinya."
Luzi terdiam, ia kembali memikirkan tawaran pria itu. "Baiklah, aku titipkan tas ini padamu," ucap Luzi menyerahkan tas itu pada Gino.
"Awas jika tidak Sampai pada pemiliknya!" Ancam Luzi.
"Cerewet. Sudah merepotkan tapi tidak pernah bilang apapun."
.
.
.
.
.