
Diatap gedung, keempat orang tadi kini pokus pada gadget yang ada ditangan mereka. Setelah tugas yang sedang mereka kerjakan sudah setengah jalan, Gino kini memilih untuk melihat website mencari lanjutan untuk tugasnya.
Sedang Bima dan Aara, kedua orang itu tengah melihat desain-desain baru untuk Caffe milik Aara. Dan Luzi tengah membaca laporan-laporan yang tengah terjadi di kantor polisi. Tanpa diketahui oleh teman-temannya. Termasuk hilangnya rekaman cctv akibat dicuri seseorang yang wajahnya tidak terekam oleh cctv.
Luzi mengetik sebuah pesan pada six ingin mengatakan bahwa ia memiliki salinan dari rekaman cctv kampus yang hilang. Namun setelah ia mengetik panjang dan lebar, tiba-tiba hatinya tersentuh supaya kembali menghapus pesan itu dan cukup menyimpan salinan itu sendirian.
"Luzi, kau mau apa? Aku dan Bima akan membeli camilan." Tanya Aara tiba-tiba hingga membuat Luzi terkejut.
"Mmmm, aku cukup makanan rasa jagung dan sebuah coffee." Jawab Luzi.
"Baiklah."
Bima dan Aara pun pergi meninggalkan atap gedung yang tinggi itu untuk pergi ke sebuah supermarket yang letaknya tak jauh dari gedung.
Sepeninggalan Bima dan Aara, kini hanya tersisa dua orang yakni Gino dan Luzi. Keduanya masih sama-sama sibuk dengan ponsel yang ada ditangan mereka tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
"Apa kau mendapat undangan private party dari Eren?" Tanya Gino yang kini sudah menyimpan ponselnya.
"Private party?" Ucap Luzi dengan alis yang terangkat sebelah. "Kapan itu?"
"Rabu setelah Selasa,"jawab Gino.
Luzi memutar bola matanya, "aku tahu Rabu itu setelah Selasa." Kesal Luzi. Ia merasa ucapan Gino itu sebuah jebakan untuk menguji kepintarannya. "Beritahu aku kapan acara itu diadakan!"
"Kau sangat ingin tahu, apa jangan-jangan kau menyukai Eren?" Tebak Gino.
"Menyukainya?" Luzi tersenyum sebelah, "Dia bukan tipeku." Tegas Luzi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Luzi lantas membuat Gino menggiring tubuhnya untuk mendekat pada wanita itu."Bagaimana tipemu itu?" Tanya Gino. "Apa tipemu itu.....aku?"
"Buk—"
"Kenapa dia tiba-tiba dibelakangku?" Heran Luzi dalam hatinya. "Dan kenapa dia begitu dekat?"
"Bagaimana? Apa aku ini tipemu?" Tanya Gino lagi.
Luzi segera menyadarkan dirinya dari lamunan, "ke-kenapa kau disini?" Tanya Luzi gugup dan menjauhkan tubuhnya dari pria yang pernah berciuman dengannya itu.
"Kenapa kau gugup begitu?" Tanya Gino yang semakin mendekatkan wajahnya pada wanita bertubuh pendek itu.
"Benar. Kenapa aku gugup? Dan ini, kenapa jantungku berdetak begitu cepat ketika aku hanya mematung? Bukannya detak jantung berpacu lebih cepat saat kau melakukan sesuatu yang berat?" Luzi bertanya dalam hatinya.
"Aku harus pergi, kelasku akan dimulai sebentar lagi." Kilah Luzi dan segera menghindari Gino dengan berlari.
Namun tiba-tiba tangannya ditarik hingga Luzi kembali berada didekat Gino. "Aku sekarang adalah kekasihmu!" Bisik Gino hingga kedua mata Luzi terbuka lebar.
"Apa?"Gumam Luzi dalam hatinya.
"Lepaskan! Aku akan terlambat jika kau memegang tanganku." Ucap Luzi mengalihkan pembicaraan.
"Silahkan berangkat," Ucap Gino melepaskan genggaman tangannya dari tangan Luzi Hingga wanita itu kembali berjalan dengan cepat menjauh dari Gino karena perasaannya kali ini tak karuan.
Diambang pintu atap, Luzi berpapasan dengan Bima dan Aara yang baru tiba dari supermarket membeli makanan ringan.
"Luzi kau mau kemana?" Tanya Aara. Namun bukannya menjawab, Luzi semakin mempercepat langkahnya dengan bibir yang terus bergerak seperti tengah membaca mantra. Alias mengumpat.
" Kenapa dia?" Tanya Aara pada Bima.
"Aku tidak tahu, tanyakan saja padanya." Suruh Bima seraya menunjuk Gino yang masih berdiri ditempat tadi namun dengan posisi yang berbeda. Yakni melihat kebawah gedung yang akan menampakkan seorang wanita pendek yang hendak pergi ke kampus.
"Kau apakan dia?" Tanya Bima.
"Tidak ada." Jawab Gino sambil tersenyum saat Luzi mengangkat kepalanya untuk melihat keatap gedung.
"Lalu mengapa dia pergi?" Tanya Bima sembari berdiri disamping Gino namun tak mendapat jawaban.
"Dia melambai pada siapa?" Bisik Aara pada Bima.
Bima melihat sudut pandangan Gino lalu mengikutinya hingga matanya menangkap seorang wanita tengah berdiri sambil menengadahkan kepalanya.
"Padanya." Jawab Bima seraya menunjuk ke bawah Gedung. Aara segera melihat apa yang ditunjukkan oleh Bima.
"Siapa maksudmu?" Tanya Aara seraya mengedarkan pandangannya ke bawah gedung. "Tidak ada siapapun dibawah sana." Lanjutnya.
"Benarkah?" Bima terkejut dan kembali melihat ke bawah gedung dan ternyata memang benar, tidak ada siapapun disana. "Kemana perginya dia?"
"Entahlah, memang siapa dia?" Tanya Aara masih penasaran sosok yang dimaksud oleh Bima.
"Temanmu." Jawab Bima.
"Luzi?" Tebak Aara, Bima pun menjawab dengan Anggukan kepalanya.
"Kemana dia pergi?" Kini Bima beralih bertanya pada Gino.
"Kelas."Jawab Gino singkat sambil terus memperhatikan bawah gedung yang sudah tak lagi menampakan Luzi. "Dia ada kelas jadi pergi." Lanjutnya.
Diruangan yang tertutup dengan bendera negara dan bendera kepolisian sebagai penambah kehormatan, seorang pria yang duduk dikursi memasangkan benda pipih persegi panjang ke daun telinganya setelah menekan beberapa nomor.
"Buktinya sudah hilang. Sekarang tepati janjimu padaku!" Ucap pria berwajah tampan itu.
"Aku mau secepatnya, Ren!"Tegas pria diruangan itu.
"Cepat atau lambat itu urusan nanti yang penting aku menepati janjiku, kan?" Timbalnya seraya mengakhiri panggilan tadi.
"Tapi kau bisa—" pria yang terduduk diruangan tertutup itu tak melanjutkan kembali ucapannya karena sadar bahwa lawan bicaranya tak lagi mendengarkannya. "Celaka.." lanjutnya lirih.
Disamping itu, setelah menutup panggilan secara sepihak seorang pria lantas mengetik sebuah pesan.
^^^'**Bukti sudah** ^^^
^^^**musnah. Lanjutkan**^^^
^^^ **sesuai rencana**!'^^^
^^^ Ketiknya lalu segera ia kirimkan kepada bawahannya.^^^
Segera setelah keluar dari gedung Luzi memasuki kampus dengan tergesa-gesa karena sepertinya kelas sudah mulai dan ia terlambat.
Dengan pandangan lurus kedepan membuat Luzi tak peduli dengan sekelilingnya hingga ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Aw..."
"Maaf, aku tidak sengaja." Ucap Luzi.
"Makanya jalan jangan cuma kaki yang dipakai. Matanya juga!" Geram orang yang tak sengaja Luzi tabrak.
"Benar saya yang salah, sekali lagi saya mohon maaf." Ucap Luzi lalu bergegas meninggalkan orang itu.
"Hei tunggu!" Ucap orang yang Luzi tabrak tadi.
"kenapa?" Luzi kembali menoleh.
Pria itu tiba-tiba menyodorkan sebuah kertas berbentuk persegi pada luzi, "Datanglah." Ucapnya.
Luzi mengambil kertas itu lalu membacanya, "Terimakasih sudah mengundangku, kak." Ucap Luzi.
"Kau juga mahasiswa disini, jadi kau layak untuk diundang." Jawab Eren lalu pergi meninggalkan Luzi yang kini menatap kepergian Eren yang berlawanan arah dengannya.
"Astaga," Luzi segera berlari ketika mengingat bahwa dirinya sudah terlambat masuk kelas.
Setibanya didepan kelas, Luzi mengintip jendela kelasnya dan ternyata belum ada orang yang berdiri didepan.
"Huh.." Luzi menghembuskan napasnya Lega dan segera mendaratkan tubuhnya dikursi tempatnya biasa duduk.
Menunggu kedatangan dosen membuat Luzi kembali terpikir akan kartu undangan yang diberikan oleh Eren padanya.
"Ternyata acaranya lusa," gumam Luzi setelah membaca kartu undangan itu.