ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Kedatangan Tuan Bos



"Maaf, karena tiba-tiba ada gangguan," ucap Luzi.


"Tidak apa, nak." Jawab Wanita itu.


"Jadi, ada perlu apa Bibi dan Paman datang kemari?" Tanya Luzi.


"Kami mencari Pak Rendi, nak." Jawab pria itu, "apa kami bisa menemuinya?"


Luzi melirik Gino dan Bima yang berdiri dibelakangnya supaya ikut membantu dirinya memberi jawaban kepada kedua orang tua itu.


"Mungkin dia sudah ada diruangannya," Timbal Gino.


"Mari saya antar." Ucap Luzi dan mempersilahkan kedua orang tua itu untuk jalan didepannya.


"Terimakasih, nak." Ucap kedua orang tua itu dan berjalan duluan diikuti oleh Luzi, Gino dan juga Bima.


Beberapa langkah mereka lalui dengan membisu dibelakang sepasang suami istri yang terus-terusan memuji interior kampus sambil bersyukur karena anak mereka dapat masuk ke universitas yang cukup elit itu.


"Astaga," Luzi terhenti saat melihat jam dipergelangan tangannya.


"Kenapa?" Tanya Bima.


"Kelasku dimulai sepuluh menit lagi." Luzi sedikit panik.


"Lalu mereka?" Keluh Gino.


"Aku tidak tahu ruangannya, jadi aku mohon pada kalian supaya mengantarkan mereka." Luzi mengatupkan kedua tangannya memohon bantuan kedua pria itu.


Bima menatap Gino, "pergilah." Ucap Gini kemudian.


"Terimakasih, maaf merepotkan." Luzi segera pergi setelah pamit kepada kedua orang tua didepannya.


"Kalian jika ada urusan tidak apa, kami akan mencari ruangannya sendiri." Ujar pria tua itu.


"Tidak apa, paman. Kami akan mengantar kalian, iya kan?" Bima melirik Gino yang beberapa detik kemudian mengangguk.


"Terimakasih, ya. Kalian anak-anak yang baik." Puji wanita itu hingga membuat kedua mahasiswa pria itu tersipu.


Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ruangan dosen Rendi. Entah apa yang akan kedua orang itu lakukan, atau mungkin mereka ingin menemui anaknya yaitu dosen Rendi? Entahlah.


Gino berjalan dibelakang Bima dan kedua orang tua itu sambil memasukan tangannya kedalam saku jaket.


"Kenapa kau berhenti?" Tanya Gino yang kini juga berhenti disamping Bima.


"Aku terlambat masuk kelas, Gin." Jawab Bima.


Gino yang semula memberikan senyuman pada Bima kini perlahan memudarkannya setelah ia mendengar ucapan temannya.


"Jangan sampai kau meninggalkanku bersama mereka," bisik Gino.


"Maaf, Gin. Tapi aku harus pergi." Bima segera kabur melewati Gino dan kedua orang tua didepannya seraya berkata, "Maafkan aku karena tidak menempati janji, bibi dan paman. Kalian akan diantar oleh temanku." Ucap Bima seraya menunjuk Gino yang sudah bermuka kecut.


"CK, Gayanya sok ingin mengantar. Nyatanya aku yang harus mengantar mereka." Kesal Gino.


"Kenapa anak muda itu?" Tanya wanita tua itu.


"Oh, dia ada kelas jadi harus pergi. Kalian akan aku antar sampai sudut sana. Karena dari sana ruangannya sudah dekat." Jelas Gino.


"Untung aku hari ini tidak ada kelas, jadi mereka bisa kuantar sampai tujuan." Gumam Gino seraya mengantarkan kedua orang itu.


Didalam ruangan, seorang pria sibuk merapikan setiap inci dalam ruangan itu. Meski baru saja tiba, pria itu mengelap meja yang selalu menjadi tumpuan kakinya saat merasa pegal karena tuan bos akan segera tiba.


"Jika dia tidak teliti hal sekecil apapun, aku tidak akan membersihkan ruangan ini." Keluhnya.


Tok...


Tok...


Tok...


"Akhirnya dia datang." Pria itu bangkit dari duduknya dan segera menghampiri pintu untuk membukanya.


"Morning, tuan bos..." Sapanya.


Ketiga orang yang berdiri diluar terkejut mendengar sapaan pria itu.


"Apa maksud bapak, mereka?" Tanya Gino yang segera menggeser tubuhnya supaya dua orang dibelakangnya terlihat oleh pria itu.


"Siapa mereka?" Tanya pak Rendi.


"Bukannya mereka tuan bos, bapak?"


"Kami ada perlu dengan bapak," ucap pria itu, "mengenai anak kami, Lila." Lanjut istrinya.


Seketika raut pria berprofesi sebagai dosen itu mendadak berubah menjadi pucat hingga membuat Gino yang berdiri tak jauh dari pintu heran.


"Kenapa dia berubah jadi panik?" Batin Gino.


"Silahkan masuk," Ajak Rendi


Sepasang suami istri itu kemudian masuk kedalam ruangan itu diikuti oleh Gino dibelakangnya.


"Kau mau kemana?" Cegah Rendi saat Gino melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam.


"Masuk, memangnya tidak boleh?" Tanya Gino polos.


"Tentu saja tidak boleh. Memangnya kau siapanya mereka? Walinya?" Ledek Rendi.


"Tentu saja bukan." Sanggah Gino dan seketika pintu itu tertutup rapat tanpa celah untuk dirinya mengintip.


"CK, dasar. Kau buta ya, jelas-jelas aku lebih muda dari mereka!" Kesal Gino.


Dengan langkah yang kesal ia melangkahkan kakinya untuk pergi dari depan pintu ruangan dosen yang tidak ia sukai itu.


"Kau mau kemana?" Tanya Gino saat melihat seorang pria bertopi memutar badannya.


Pria itu berhenti, "aku ada urusan dengan pak Rendi, tapi sepertinya dia sedang ada tamu." Ujarnya.


"Oh, masalah olimpiade biologi tingkat nasional ya?" Tebak Gino.


"Kau benar, " jawab pria itu lalu membalikkan tubuhnya menghadap Gino.


"Siapa yang akan mewakili kampus ini?"


"Belum ditentukan. Makanya aku bertanya padanya hari ini, tapi dia malah kedatangan tamu." Tutur Eren.


"Semoga berhasil memilih perwakilan untuk kampus ini." Ucap Gino dan pergi melewati Eren begitu saja.


Eren mengiringi kepergian Gino, lalu pergi berlawanan arah dengan pria itu menuju ruangan Rendi. Tak ada celah untuk dirinya menguping hingga kini ia mengeluarkan ponsel pintarnya dan segera mengetik beberapa angka untuk menelpon dosen itu.


Dring......


Dring......


Dring.......


Rendi melihat layar ponselnya yang bertuliskan nama yang tak asing baginya. Kemudian membalikkan ponsel itu setelah ia menekan tombol supaya bends itu berhenti berdering.


"Maaf, silahkan kembali dilanjut." Rendi mempersilahkan kembali wanita tua itu melanjutkan ceritanya.


"Setelah hari itu sampai hari ini, saya tidak pernah melihat lagi putri saya. Kemanakah dia, pak?" Berang wania itu.


"Saya tidak tahu dimana keberadaan putri anda. Saya hanya menawarkan pekerjaan karena saat itu saya pernah mendengar keluhan tentang keluarganya, maaf yang kurang mampu untuk membiyayai keperluannya." Jelas Rendi.


"Setelah memberi alamat tempatnya akan bekerja saya tidak pernah bertemu dengannya lagi," Lanjut dosen Rendi.


"Lalu kemana putriku?.." Ucap wanita itu disertai cairan yang perlahan keluar dari sudut matanya.


"Entahlah, seperti yang sudah saya katakan. saya tidan tahu!"


"Jika memang begitu kenapa tidak anda berikan alamatnya kepada kami?" Timbal Suami yang tengah berusaha menenangkan istrinya yang menangis.


"Begini, Tuan. Mungkin Lila terlalu lelah bekerja hingga lupa memberi kabar kepada kalian," Rendi mencoba menenangkan sepasang suami istri itu.


"Tidak mungkin! Aku tahu anakku! Dia tidak akan melupakan keluarganya, kecuali....." Wanita itu tak sanggup melanjutkan ucapannya dan malah menggantinya dengan tangisan.


"Kita tidak tahu kapan manusia akan berubah, mungkin Lila sudah berubah dan menjadi orang sibuk yang Bahkan lupa dimana meletakkan ia ponselnya." Kekeh Rendi. Ia berusaha meyakinkan kedua orang tua itu.


"Tidak mungkin! Anakku tidak begitu!' pria itu berdiri dan mencengkram kerah leher Rendi.


"Jika kau tidak memberikan alamat itu sekarang aku akan berteriak di setiap sudut kampus ini dengan mengatakan bahwa kau tidak mau bertanggung jawab atas putriku!" Tegas Pria itu.


Rahangnya kian mengeras disertai otot-otot yang mengencang bahkan wajahnya kini memerah karena memendam amarah.


Rendi mengambil secarik kertas yang sama seperti yang ia berikan pada Lila waktu itu kepada pria itu.


"Bu, sekarang kita temui Lila ditempatnya bekerja." Ajak pria itu.


Kedua orang tua itu pun meninggalkan Rendi dengan kerah yang masih berantakan diruangan itu dan ditutup dengan hantaman pintu yang ditutup dengan keras.


"CK, kau pikir kau akan bertemu dengannya disana?"