ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Jauh dari harapan



Setelah beberapa saat pingsan, akhirnya Lila siuman. Meski dengan penglihatan yang masih samar-samar karena kesadarannya belum benar-benar pulih, wanita itu mencoba mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang sangat berbeda dari ruangan sebelumnya saat ia masih sadar.


"Kenapa aku disini?" gumam Lila dalam hatinya.


Dua orang wanita dan pria tengah berdiri memunggunginya dengan berseragam couple yaitu pakaian berwarna hijau tua. Entah apa yang tengah dilakukan oleh kedua orang itu, mereka bicara cukup keras namun Lila tidak dapat mendengarnya dengan jelas karena mereka menggunakan masker. Ia mencoba memicingkan kedua matanya untuk melihat dengan jelas siapa kedua orang itu hingga sekilas ia menangkap wajah Ann dengan masker di dagunya.


"Nona Ann, dimana aku?" Lirih Lila yang tengah mencoba bangkit namun kembali terbaring lemah diatas ranjang karena tubuhnya tidak kuat.


Ann berbalik saat mendengar suara Lila dan segera menghampirinya,"Ternyata kau sudah sadar," sambut Ann dengan senyuman.


"Aku dimana?" Lirih wanita yang baru memulai semester ketiganya itu.


"Kau masih di hotel tadi, tenang saja kau tidak aku bawa kemana-mana." Ucapnya berusaha menenangkan Lila yang mencoba untuk bangkit.


"Benarkah?" Lila sedikit tidak percaya dengan ucapan wanita itu karena penglihatannya menunjukan bahwa ruangan itu seperti ruangan operasi. Ya meskipun ia tidak pernah tahu bagaimana keadaan dalam ruangan itu, tapi keadaan ruangan yang sedang ia tempati sama persis seperti ruangan operasi dalam drama-drama yang ia lihat di televisi.


"Hem," Ann mengangguk.


"Ann, siapkan semuanya! Kita akan mulai." Suara seorang pria membuat Ann segera mengangguk dan menjauh dari Lila.


Pria yanng memanggil Ann memberikan sebuah jarum suntik yang telah diisi sebuah cairan anestesi dan menyuruhnya untuk menyuntikan cairan itu pada Lila.


"Nona Ann, kumohon jangan..." Lila menggeleng menyuruh wanita itu untuk segera menghentikannya. Namun wanita itu tetap saja melakukannya hingga Lila perlahan-lahan kembali kehilangan kesadarannya.


"Maaf, kau lebih baik tidur." Ucap Ann dan masih dapat Lila dengar.


Kedua orang itu kini mulai melakukan tugasnya, yakni melakukan operasi pengangkatan salah satu organ milik Lila. Tak ada dokter khusus bedah diantara mereka berdua, Ann hanyalah mantan suster yang berhenti karena ia bosan dengan gaji yang menurutnya sedikit dan tidak pernah naik meskipun ia bekerja keras dari pagi sampai malam. Sedang rekan prianya hanyalah seorang lulusan Biologi dan kini bekerja sebagai dosen.


Kasihan, sungguh kasihan sekali nasib Lila. Pertama kalinya ia menjalani operasi tetapi ia malah ditangani orang medis amatiran. Entah apa yang akan terjadi padanya setelah operasi itu selesai.


Setelah menghabiskan waktu hampir empat jam, akhinya kedua orang itu berhasil mengangkat salah satu ginjal Lila dan kabar baiknya lagi, Lila masih hidup dan bahkan berangsur membaik. Kejadian itu sangat jarang terjadi setelah mereka melakukan operasi, karena kebanyakan dari mereka semua tidak kembali sadar bahkan meninggal ditengah operasi.


"Kau harus segera pindah dan mengganti identitasmu karena dia masih hidup," tutur Rendi, dosen di universitas GAZ sekaligus orang yang merekomendasikan tempat itu pada Lila.


"Bagaimana denganmu?" Tanya wanita yang berusia sekitar 37 tahun itu seraya bergelantung manja Pada Rendi yang dua tahun lebih muda darinya.


"Baiklah, untuk beberapa pekan aku akan pindah ke kota H," ucap Ann dan ikut membuka seragam yang senada dengan Rendi.


"Hem, sebaiknya begitu. Setelah ini biar aku yang mengurusnya." Tegas Rendi pada rekannya itu.


"Hem." Ann mengangguk menyetujui rekannya yang sudah sekitar dua tahun bersamanya.


"Aku akan mengabari tuan bos jika operasinya sudah selesai. Kau urus dulu dia!" Rendi meninggalkan ruangan yang terdapat Lila dan Ann itu menuju tempat sepi untuk memanggil bosnya yang selama ini menjadi sumber cuannya.


"Halo..." Sapa Rendi.


"Bagaimana?"


"Berjalan seperti biasa. Hanya saja kondisi wanita itu membaik." Tutur Rendi menjelaskan kondisi Lila yang memang mengejutkan bagi dirinya dan sang bos.


"Benarkah?" Pria dari balik telepon itu terperangah mendengar kabar yang tidak pernah terjadi itu. "Biarkan saja, tapi sebaiknya kurung dia supaya suasana tidak menjadi kacau!" Perintah Pria dengan kaos berwarna putih itu serta jam tangan berwarna hitam bergaris putih dan merah seperti tanda X yang melekat di tangannya .


"Baik, semua akan saya urus." Rendi menutup panggilannya.


~~~~~~~~~~~~~~~


Setelah diantar sampai rumah oleh Bima dan Gino, kini Luzi kembali membuka kertas yang lebar dan panjang itu untuk melihat rangkaian rencana yang selanjutnya akan ia lakukan setelah mendekati Gino.


Mengenai tentang Gino, Luzi tiba-tiba teringat kejadian tadi saat ia tidak sengaja mencium pipi mulus Gino. Kulit putih bersih yang begitu mulus layaknya seorang actor itu membuatnya sedikit iri karena kulitnya tak sebagus milik Gino. Ia bahkan tidak sadar jika kini dirinya tengah mengelus-elus pipinya sendiri.


"CK, kenapa semua yang ada padanya begitu bagus?" Heran Luzi. Karena darimana pun ia melihat Gino sepertinya pria itu begitu sempurna. Kaya, tampan, dan sepertinya dia cukup pintar.


"Bisa juga ternyata kehidupan seseorang begitu sempurna." Celetuk Luzi setelah membayangkan betapa indahnya hidup Gino, yang bahkan tak ia ketahui kebenarannya.


Luzi mencoba mengambil laptop miliknya yang berada dibawah kasurnya. Kenapa dibawah kasur? Karena menurutnya saat sebuah rumah dibobol seorang pencuri hanya bantal dan lemari saja yang akan diporak-porandakan tapi tidak dengan kasur. Pikir wanita berprofesi sebagai polisi itu.


Kini laptop sudah berada digenggaman Luzi, wanita itu membuka sosial medianya dan membaca beberapa artikel tentang kejadian di kota itu. Mulai dari perampokan bank, tertangkapnya mucikari yang menjual anak-anak dibawah umur, transaksi narkoba, dan kecelakaan lalu lintas. Sungguh banyak sekali hal yang terjadi hari itu, bahkan hampir semua kejahatan absen dilayar laptop Luzi.


"Wah, sepertinya polisi berhasil menguak semuanya." Luzi tersenyum bangga karena dirinya merupakan bagian dari mereka.