
Setelah menjauh dari ruangan tempat party berlangsung, Luzi segera berjalan ke toilet wanita dan menguncinya. Ia lalu memasang beberapa alat bantuan berupa sebuah earphone dan satu senjata api yang ia simpan dipaha bagian dalam.
"Semua siap?" Tanya Luzi setelah earphone nya terpasang.
"Siap." Jawab tim aplomb serentak yang memang sudah diposisi masing-masing seperti yang telah direncanakan kemarin.
Ya, kemarin saat Luzi hendak mengirimi six pesan bahwa dirinya memiliki salinan rekaman cctv ia ganti dengan undangan untuk mengajak semua tim aplom datang kerumahnya sore hari. Tentu saja ia meminta supaya hanya tim aplomb saja yang tahu mengenai undangan yang Luzi kirimkan pada six.
Usai berkumpul dan menyaksikan semua kejadian dirumah Luzi, mereka menjadi sedikit curiga pada David yang tiba-tiba berperilaku aneh saat berada diruangan rapat tadi. Bahkan mereka juga menyangka bahwa David lah yang membuang rekaman cctv di kantor karena ia juga salah satu orang yang tau keberadaan rekaman itu setelah komandan Jo dan Areksa.
"Baiklah, mari kita mulai." Seru three yang memang sudah berada di gedung yang sama dengan Luzi.
"Maaf David, tapi kali ini aku sendiri yang akan memborgolmu." Ucap Luzi dalam hatinya.
"Siap?" Tanya six yang berada diruangan monitor bersama five. Sedangkan nine menyamar sebagai seorang mahasiswa dengan wig merah menyala dan kulit yang sengaja ia udah menjadi sedikit lebih gelap dari warna asli kulitnya. Tentu saja ia harus melakukan itu supaya David tidak dapat mengenalinya.
Setelah tina dipodium dan bersanding bersama sang adik, tak lupa David pun menyapa para tamu dan berterima kasih atas kehadiran mereka.
"Baiklah, karena kakak ku sudah berada di sampingku maka marilah kita mulai melihat Poto Masa kecil kami." Papar Eren dan ruangan pun kini menjadi gelap.
Semua Poto masa kecil David dan Eren dipampang jelas dilayar. Mulai dari saat mereka masih balita, hingga beranjak masuk sekolah semuanya terlihat di layar.
"Dan itulah setengah kisah masa kecil kami..." Ucap Eren dan kembali menatap layar yang masih hidup dan sepertinya akan menampilkan kembali Poto terakhir mereka. "Ternyata masih ada yang lainnya." ucap Eren.
Ternyata dugaannya salah. Bukannya Poto masa kecil dirinya dan David yang ditampilkan melainkan rekaman cctv kampus yang mereka berdua tau sudah hilang. "apa ini?" Teriak Eren dengan wajah panik dan lantas melihat kearah David meminta penjelasan atas semuanya.
"Astaga, Ren.."lirih seorang wanita yang segera menggenggam tangan pria yang tak lain adalah Rendi.
Sorot mata Eren yang semula melihat layar kini beralih pada David yang berdiri disampingnya "Kau bilang rekaman itu sudah tiada, lantas apa itu?" Kesal Eren dengan suara yang menggelegar hingga semua tamu melihat kearahnya dan mulai bertanya-tanya akan kejadian yang tak terduga itu.
David mematung dan hanya menjawab pertanyaan adiknya melalui gelengan kepala saja hingga membuat Eren semakin marah dan mencengkram kerah bajunya. "Apa kau menjebakku karena tidak mau menuruti ucapanmu?" Sindir Eren dengan mata yang menahan amarah serta rahang yang mengeras.
"Apa kita akan berakhir disini?" Ucap Ann seraya mengeratkan pegangan tangannya dan memegang perut rampingnya yang berisi janin.
Rendi menatap Ann yang tengah melamun, "tidak. Kita tidak akan berakhir disini!" Tegas Rendi dan segera menarik Ann menjauh dari tempat itu.
Perkelahian antara kakak beradik pun tak terelakkan hingga kini Luzi memanggil rekannya untuk masuk dan membantunya mengurus keadaan.
"Jangan bergerak! Kami polisi." Tegas six seraya menodongkan senjata api pada kedua pria yang tengah saling memukul di atas podium itu. Sementara para tamu dievakuasi oleh Nine ke ruangan sebelah.
Eren dan David perlahan bangkit dengan kedua tangan yang diletakan dibelakang kepalanya lalu duduk bersimpuh. Segera Luzi pun mendekat dan memborgol tangan David. "Aku tak percaya akan memborgol tangan seorang polisi." Celetuk Luzi hingga pria itu mendengarkannya.
Namun Eren yang melihat sebuah pistol yang terselip dipinggang Luzi lantas mengambilnya dan menyandera Luzi dengan pistol yang diarahkan ke pelipisnya. "Jangan bergerak atau aku akan menembaknya!" Ancam Eren.
Semua tim aplomb yang melihat Luzi menjadi sandera lantas bergegas mengarahkan pistol mereka pada Eren. "Aku bilang jangan mendekat!" Tegas Eren. Ia menyeret Luzi ikut bersamanya keluar dari ruangan itu.
"Ren, hentikan!" Teriak David
Eren menatap David yang telah diborgol dan tahan oleh three, "Diam!" Teriaknya. "Kau penyebab kekacauan ini! Kau hancurkan semua yang aku kerjakan selama bertahun-tahun." Eren berkata dengan amarah yang memuncak. "Sekarang apa? Kau yang selalu membanggakan pekerjaanmu yang halal itu malah dimakan oleh rekanmu dan membusuk dibalik jeruji besi." Sindir Eren.
"Aku begini karena kau!" Sahut David, "jika bukan karena dirimu aku tidak akan terlibat!" Kali ini David tampak begitu marah. Wajahnya yang selalu kalem kini tampak Seram karena didinya telah dikuasai oleh kemarahan pada adiknya.
"Kau tidak merasa kasih sayang kakakmu?" Ucap Luzi tiba-tiba. "Dia rela melakukannya demi dirimu, tapi ternyata pengorbanannya dikhianati oleh mu." Lanjut Luzi hingga Eren yang mendengar ucapannya semakin mengeratkan tangan yang berada dileher Luzi.
Brak..
Sebuah pukulan mendarat tepat dipunggung Eren hingga pria itu tersungkur dan Luzi terbebas dari sanderaan. Melihat pistol miliknya yang tak lagi ditangan Eren karena terlempar, Luzi pun segera memungutnya dan menodongkan pada Eren yang tersungkur.
Tak lupa itu juga menengok pada seseorang yang sudah membebaskan sebagai sandera yang tak lain adalah Gino. Pria itu baru saja masuk keruangan itu untuk kembali menikmati party setelah ia dari toilet. Namun ternyata ia malah disuguhkan oleh kejadian yang cukup menegangkan.
"Aku menangkap satu orang lagi." Seru Five dengan Rendi yang sudah diborgol. Ia lantas menyuruh pria berprofesi sebagai dosen itu untuk duduk bersimpuh seperti David.
"Sial." Umpat Eren dan hendak bangkit dari jatuhnya.
"Tetap diposisi itu!" Tegas Luzi. Eren pun mengikuti perintahnya dan duduk bersimpuh seperti kedua rekannya.
Tim aplomb lantas menyatukan ketiga tersangka yang merupakan dalang dari hilangnya mahasiswi di universitas GAZ yang menjadi gunjingan masyarakat.
"Hubungi kantor sekarang dan minta beberapa polisi tambahan untuk datang kemari!" Perintah Eren pada three.
"Siap." Three pun lantas mengambil ponselnya dan hendak menghubungi kantor. Namun tiba-tiba sebuah asap masuk keruangan itu hingga penglihatan semua orang menjadi kabur.
"Amankan tersangka!" Teriak Five namun semua anggota tak dapat meliaht apapun kecuali bayangan putih dari asap.
Luzi dan Gino yang berdiri berdekatan melihat sebuah pin perak yang tersorot cahaya. Mereka pun segera mengejarnya karena yakin jika itu adalah salah satu tersangka.
Dan benar saja, ketika mereka berhasil keluar dari ruangan berasap matanya melihat Eren yang tengah berlari dilorong bersama seorang gadis.
"Berhenti!" Luzi mengejar Eren dengan tangan yang memegang senjata.
Gino hanya mengikuti Luzi tanpa banyak bertanya karena ia begitu penasaran dengan pekerjaan yang dilakukan oleh wanita pujaannya itu.
Berhenti!
Berhenti!
Luzi berteriak sambil terus mengikuti kemana perginya Eren bersama seorang gadis. Terlalu lambat dirinya mengejar Eren, Gini Luzi berjalan perlahan saat dia Tina disebuah pertigaan lorong. Dengan tangan yang memegah pistol, Luzi berjalan penuh hati-hati kearah kiri.
Begitupun dengan Gino yang setia mengikuti Luzi dibelakangnya. Namun tiba-tiba ia merasakan getaran pada saku celananya, ternyata Bima sudah beberapa kali memanggilnya dan iapun lantas mengangkatnya.
"Halo?" Bisik Gino.
"Kau dimana?" Tanya Bima yang sedaritadi mencari Gino saat kericuhan terjadi diacara itu namun tak kunjung juga menemukannya.
"Aku di—"
Dor....
Suara tembakan membuat Gino berhenti bicara dan meninggalkan panggilannya begitu saja untuk menyusul Luzi. Tak ada siapapun dilorong itu kecuali Hamparan cairan berwarna merah telah menghiasi lantai dengan wanita yang tergeletak sendirian.
Gino yang melihat sudah mengenali wanita itu hanya dari pakaiannya saja langsung menghampirinya.
"Luzi..." Panggil Gino.
Dengan luka tembak dibagian perutnya Luzi mencoba melihat mata indah yang dimiliki pria itu sabelum akhirnya ia menutup kedua matanya.