
Setelah mendapat peringatan dari Abel membuat Luzi memikirkan kembali bagaimana dia bisa terkunci diruangan alat olahraga sedangkan diluar sangat minim sekali orang berlalu lalang, hingga menyimpulkan bahwa Abel-lah yang menguncinya didalam ruangan itu.
"Cih, Bahkan saat ia aku tidak pernah bertemu dengan Gino." Kesal Luzi. Sepertinya ia lupa bahwa dirinya penah berduaan dengan pria itu di atap gedung disamping kampus setelah acara selesai.
Berjalan-jalan mengitari gedung yang begitu besar ini seperti kemarin tampaknya akan sia-sia. Luzi pun memikirkan sesuatu yang menurutnya masuk akal jika ia menanyakan tentang ruangan monitor cctv.
"Permisi," Ucap Luzi setelah menghentikan seorang pria yang ternyata adalah orang yang waktu itu menyiramnya di toilet. Sungguh kebetulan sekali.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pria itu. sepertinya ia tidak melupakan perlakuannya pada Luzi saat itu, karena mimik wajahnya menampilkan raut yang kurang enak. mungkin ia takut.
"Hem, saya mencari ruangan—"
"Kau bisa mengambil denah kampus ini di perpustakaan untuk menemukan ruangan yang kau cari." Potong pria itu lalu kembali melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan Luzi.
"Waw.." ucap Luzi, "bahkan aku belum selesai bicara." Takjubnya dan Kini wanita itu pergi menuju ke perpustakaan.
Didepan ruangan perpustakaan Luzi membuka pintu lalu mulai masuk ke sela-sela lemari buku untuk mencari denah kampus. Beribu-ribu bahkan mungkin Sampai jutaan buku tersusun rapi di rak dengan masing-masing nama kelompok yang tertulis diatasnya untuk memudahkan saat mencari buku, meskipun terdapat tulisan keterangan tapi tetap saja membuat Luzi cukup dibuat pusing karena ternyata mencari denah tidak semudah yang ia pikirkan.
Ia bahkan tidak berpikir harus mengelilingi setiap rak buku untuk mencari denah kampus yang mungkin hanya selembaran kertas."CK, denahnya disimpan dimana sebenarnya?" Gerutu Luzi yang sudah kesal karena tidak dapat menemukan denah yang mungkin hanya satu lembar itu.
Suasana hening dalam perpustakaan semakin membuat Luzi sungkan untuk bertanya kepada mahasiswa lain karena takut menggangu aktivitas mereka. Ia hanya bisa mengandalkan kaki dan matanya untuk kembali mencari kertas denah itu di setiap rak yang mungkin saja terselip disela-sela buku itu.
"Buku apa yang sedang kau cari?" Tanya seorang pria dengan rambut ikal yang tengah berdiri didekat Luzi.
Luzi berbalik, "Mmm..... Aku sedang mencari denah kampus," Jawabnya.
Pria itu menatap Luzi dengan tatapan datar dengan mata yang melirik dirinya dari atas sampai bawah. Aneh, mungkin itulah yang dipikirkan pria berambut ikal itu.
"Oh denah kampus," pria itu meletakan kembali buku yang hendak tadi ia ambil lalu berjalan menuntun Luzi ke tempat denah itu berada.
"Kertas itu sudah lama tidak digunakan, jadi disimpan dalam kardus." Jelas pria ikal itu lalu mengambil sebuah kardus dan membukanya
Luzi hanya membulatkan mulutnya mendengar penjelasan pria itu sambil mengumpat dalam hatinya, "pantas saja aku tidak menemukannya."
"Ini, kau perlu berapa?" Pria itu menyodorkan segepok kertas denah.
Luzi yang melihat pria itu menyodorkan berlembar-lembar kertas denah kepadanya tertegun, "aku hanya perlu satu saja." Luzi mengambil kertas yang paling atas yang disodorkan oleh pria itu.
"Terimakasih," Ucap Luzi setelahnya.
"Sama-sama." Timbal pria itu dan lantas meninggalkan Luzi.
Setelah mendapat denah itu Luzi kemudian keluar dari ruangan yang penuh akan jendela dunia itu dan membaca kertas dengan nama-nama tempat yang ada di kampus sambil berjalan menjauh dari ruangan itu. Ia berjalan dengan kertas yang menjadi titik pokusnya saat ini.
Benar apa kata Eren pada Anges saat itu bahwa saat jalan, mata juga harus melihat supaya tidak mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Luzi. Terlalu pokus pada kertas membuatnya tidak melihat hal didepannya hingga ia menabrak seseorang hingga barang-barang orang itu berhamburan.
"Ma-maaf, saya tidak sengaja." Luzi segera melipat kertas denah miliknya lalu membantu orang yang ia tabrak memungut kertas-kertas yang cukup banyak dan berserakan itu.
"Kau itu bagaimana? Kalau jalan itu mata juga harus ikut melihat!" Tegas pria itu yang juga seorang dosen.
Sekilas ingatan Luzi terbuka akan ucapan Gino saat menyuruhnya supaya tidak dekat dengan pak Rendi. Yap, orang yang Luzi tabrak adalah pak Rendi yang baru keluar dari ruangan praktek sambil membawa tumpukan tugas para mahasiswa.
"Iya maaf, pak. Saya memang yang salah." Luzi mengumpulkan beberapa kertas itu lalu mengangkatnya. "Saya bantu bawakan ya, pak." Luzi menawarkan bantuan sebagai tanda maaf atas keteledorannya.
"Terimakasih, bawa keruangan saya." Pria itu berjalan duluan lalu diekori oleh Luzi.
"Simpan saja diatas meja itu!" Ucap pak Rendi dengan wajahnya karena tangannya sedang membukakan pintu untuk Luzi.
Luzi mengangguk lalu menyimpan tumpukan kertas dengan goresan-goresan tinta diatasnya itu. "Sudah, pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Luzi.
"Tunggu sebentar," teriak pak Rendi, "sebelum keluar tolong ambilkan aku Stamles didalam laci yang atas!"
Mendengar permintaan pak Rendi, Luzi pun mendekati laci itu lalu membukanya, "tidak ada Stamles dilaci atas ini pak," ucap Luzi setelah membuka-buka benda yang terdapat didalam laci itu.
"Benarkah? Coba kau cari dilaci yang lain!"
Luzi pun menutup laci yang paling atas, lalu beralih pada laci yang kedua. "Ah, ini dia." Luzi mengambil Stamles ukuran sedang namun saat ia membuka isinya ternyata kosong. Iapun mencari isian Stamles itu untuk mengisi ulangnya.
Ia membuka-buka setiap map dan kertas untuk mencari isian stemles dan akhirnya ia menemukan isian itu beserta sebuah Poto yang terselip disalah satu map.
"Agnes..." Gumam Luzi
"Hei, kau sudah menemukannya?" Teriak pak Rendi yang terduduk dikursi nya menunggu Luzi.
Ucapan pak Rendi membuat Luzi kelabakan lalu segara membereskan kembali laci itu, "Su-sudah pak." Luzi lantas menutup kembali laci itu lalu menghampiri pak Rendi untuk memberikan stemles itu.
"Tadi isinya kosong, makanya saya tadi isi dulu." Jelas Luzi lalu pamit pergi.
Setelah keluar dari ruangan pak Rendi pikirannya terus berkata hal yang sama, "mengapa ada Poto Agnes dilaci pak Rendi?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Catatan✍️
Terimakasih semua reader yang telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku yang masih banyak kekurangannya ini...
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya, karena itu semua berharga untuk aku.... 🤗