
Bima berlari kecil menghampiri Gino yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya didada, "kau ini lama sekali." Ketus Gino seraya meminta kunci ruangan itu dari Gino.
"Maaf, tadi aku ke toilet dulu." Ucap Bima seraya memperlihatkan deretan giginya.
Gino pun membuka kuncinya lalu membawa box itu kedalam ruangan. Ia memperhatikan seluruh ruangan itu untuk menemukan alat olahraga lain.
"Hei Bima, ayo simpan disana!" Ajak Gino.
Bima yang sedari tadi berdiri dibelakang Gino mengikuti pria itu yang berjalan memasuki ruangan itu lebih dalam. Dua box itu mereka letakan diatas meja tennis.
"Ahh, tanganku." Bima meregangkan tangannya yang merasa pegal.
"Bawa barang segitu aja udah ngeluh, dasar lemah kau!" Ledek Gino.
Setelah menyimpan box itu, mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu untuk kembali melanjutkan rencana mereka yaitu jalan-jalan sambil pulang.
Sebelum mereka pergi Gino terlebih dahulu mengunci pintu ruangan itu. Lalu berjalan untuk menemui pak Hendra, mengembalikan kunci ruangan tempat menyimpan alat olahraga.
Baru beberapa langkah, Bima tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Dimana kunci mobilku?"dia meraba-raba setiap saku ditubuhnya.
"Mungkin didalam tas," tebak Gino.
"Tidak mungkin, aku tadi sudah mengambilnya."
"Coba periksa lagi!" Gino memberi saran.
Bima pun menuruti kata Gino membuka tasnya dan memeriksa isi tas itu namun tak menemukan kunci mobilnya. Beberapa saat kemudian pria itu berhenti mencari lalu menatap temannya itu seraya menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada?" Tanya Gino, "memangnya kapan terakhir kali kau memegangnya?"
"Setelah meminta kunci ruangan itu, mungkin." jelas Bima mencoba mengingat-ingat kembali.
"Yasudah, ayo!" Ajak Gino
"Kemana?"
"Pulang!" Kesal Gino, " tentu saja mencari kunci mobilmu, bodoh!"
"Mau mencari kemana?"
"Toilet,"
"Sepertinya tidak akan ada karena aku pergi ke toilet dulu sebelum mengambil kunci itu." Jelas Bima, "Apa mungkin terjatuh didalam sana?"
"Yasudah, ayo." Gino membalikkan badannya lalu berjalan berlawanan dari tempat Bima berdiri menuju ruangan tempat menyimpan alat olahraga.
Bima pun mengikuti Gino yang berjalan didepannya.Tak butuh waktu lama kini pintu ruangan itu kembali terbuka setelah Gino membuka kuncinya.
"Cari sana!" Gino menunjuk kedalam ruangan itu dengan kepalanya.
"Kau tidak ikut, Gin?"
"Aku akan menunggu disini." Ucapnya sambil bersandar pada pintu.
Bima pun masuk kedalam ruangan itu. Suasana sepi membuat bulu kuduknya berdiri hingga ia beberapa kali melihat kebelakang hanya untuk memastikan Gino masih berada ditempatnya. Meskipun ia seorang pria namun nyatanya gender tidak menjadi alasan untuk tidak memiliki rasa takut, apalagi jika mengenai hantu, itu lebih menyeramkan bagi teman Gino itu.
Kini Bima telah berdiri didepan meja tennis tempat mereka tadi menyimpan box berisi bola. Ia mengitari seluruh bagian meja untuk mencari kunci mobilnya itu namun tak juga ketemu.
"Sialan, jika terjatuh disini seharusnya tidak jauh dari meja tennis ini." Gumam Bima, ia lalu berjongkok untuk mencari kunci itu dilantai.
"Aaaaaaaa,, " Bima tiba-tiba berteriak. Ia secepat mungkin berlari keluar untuk menghampiri temannya yang menunggu didepan pintu
Mendengar teriakan Bima membuat Gino terkejut dan akhirnya masuk kedalam. Kedua pria itu akhirnya bertemu didalam ruangan.
"Ada apa?" Gino mencoba menenangkan temannya itu.
"Ah, serius kau, Bim?"
"Apa kau liat aku bercanda?" Bima menunjukan wajahnya yang Pucat karena shock.
Melihat wajah temannya itu Gino pun menanyakan tempat mayat itu berada.
"Di bawah meja tennis," ujar Bima.
Mereka pun pergi untuk melihat wayat itu dan begitu terkejutnya Gino saat ia menyingkirkan beberapa helai rambut untuk melihat wajah wanita itu yang disebut Bima sebagai mayat.
"Luzi..." Gumam Gino. Ia tahu betul wajah itu adalah wajah yang ia lihat saat di atap gedung beserta rambut gimbal nan berantakan yang aneh.
Penasaran dengan kondisi Luzi, Gino menempelkan telunjuknya kedepan hidung Luzi untuk mengetahui apakah dia masih hidup.
"Dia mahasiswi disini? Dan bagaimana kau mengenalnya?" Tanya Bima yang mendengar Gino memanggil nama seseorang.
"Dia masih hidup," ujar Gino tak menjawab pertanyaan Bima.
Pria itu meraih tangan Luzi untuk menggendongnya, "astaga, dia dingin sekali." Gino yang kebetulan memakai sweater langsung membukanya untuk ia pakaikan pada Luzi yang ia duga mengalami hipotermia.
"Bisakah kau membantuku memakaikannya?"
"Hah?" Bima tertegun sesaat lalu kemudian membantu Gino memasukan sweater itu ketubuh Luzi.
Dengan bersusah payah kedua pria itu memakaikan sweater pada Luzi yang tubuhnya dipegangi oleh Gino karena wanita itu tengah pingsan.
"Apakah tangannya tidak perlu dimasukkan?" Tanya Bima yang sudah memasukan sweater itu pada Luzi.
"Tidak usah, nanti kau malah memegang yang lainnya." Kata Gino dengan penuh arti.
"Maksudnya?" Bima tak mengerti ucapan bermakna dari temannya itu.
"Lupakan saja, kau lebih baik mencari kuncimu sana!" Titah Gino.
Pria dengan rambut hitam dengan potongan comma hair itu tak mau membahas maksud dari ucapannya karena ia yakin bahwa pikirannya lah yang terlalu jauh.
"Kenapa tidak bawa dia ke UKS kampus dulu? Baru mencari kunciku," Bima yang tengah berhadapan dengan Gino mencoba mamberi saran.
Gino menghela napasnya, "Bima sekarang sudah sore dan tidak ada orang lagi disini," kesalnya, "cepat kau temukan kuncimu itu! kita bawa dia ke rumah sakit."
Bima pun mengangguk lalu pergi mencari kunci mobilnya dengan terus memikirkan ucapan Gino yang tadi. "Apa maksudnya aku akan menyentuh yang lain?"
Gino duduk bersila disamping Luzi yang masih pingsan. Rambut hitam pekat nan kusut itu membuat Gino merasa bahwa ia sedang duduk bersama seorang gembel. "Saat di atap gedung dia tak seburuk ini," Gumam Gino menatap wajah Luzi.
"Gino ayo! Sudah ketemu."
Gino pun memangku Luzi membawa wanita berambut kusut itu keluar dari dalam ruangan tempat menyimpan alat olahraga.
"Astaga.."
.
.
.
.
.
Little Explanation
Hipotermia adalah kondisi darurat medis yang terjadi ketika tubuh lebih cepat kehilangan panas dibandingkan panas yang dihasilkan. Kondisi ini menyebabkan suhu tubuh menjadi sangat rendah. Suhu tubuh normal adalah 37 derajat Celcius, sementara ketika kamu mengalami hipotermia, suhu tubuh akan berada di bawah 35 derajat celcius.