
Hari senin merupakan awal dimulainya kembali segala aktivitas pekerjaan maupun kegiatan sekolah setelah libur akhir pekan. Semangat pun menyertai siapapun yang siap melakukan rutinitas mereka masing-masing.
Begitupun dengan Luzi, ia begitu bersemangat untuk berangkat ke kampus setelah memikirkan rencana untuk masuk ke ruang monitor seharian kemarin. Wanita yang berprofesi sebagai polisi itu kini berdiri didepan cermin untuk melihat penampilannya, ia juga tak lupa dengan rambutnya yang sengaja ia acak-acak supaya penampilannya lebih berbeda.
"Maaf aku harus mengorbankan mu." ujar Luzi sambil mengelus rambutnya cukup lama. Setelah puas mengelus rambut tebal dan hitam itu Luzi kini mengambil sebuah botol parfum berwarna pink lalu menyemprotkannya ke bagian tubuhnya seperti di lekukan siku, bawah telinga dan lehar serta beberapa semprot pada pakaiannya.
Kini Luzi keluar dari rumahnya lalu berjalan menuju tempat pemberhentian bus dengan santai karena waktu baru menunjukan pukul delapan. Ia sesekali berjalan sambil melihat layar ponselnya untuk mengurus semua keperluan dirinya. Dengan pesatnya perkembangan teknologi membuat semuanya kini dapat digenggam melalu ponsel. Bekerja, menulis, Bahkan belajar cara mengemudi pun dapat dijangkau hanya menggunakan sebuah ponsel. sungguh menakjubkan perkembangan dari masa ke masa.
"Morning," sapa seseorang.
Luzi berhenti lalu mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, Seorang pria tinggi berdiri didepannya sambil memberikan sebuah senyuman. "Eh, dia baru saja menyapaku?" Gumam Luzi dalam hatinya tak percaya jika pria bertubuh tinggi itu baru saja menyapanya.
Sebuah senyuman juga Luzi berikan kepada pria itu tanpa menjawab sapaannya dan segara menghindar dari hadapan pria itu.
"Kau masih marah padaku?" Teriak pria tinggi itu yang ternyata adalah Eren. Ia lalu melangkah untuk mengikuti Luzi yang semakin mempercepat langkahnya.
"Kenapa pria itu selalu mengikutiku?" Kesal Luzi.
Bukankah seharusnya ia senang jika Eren sang ketua itu mendekatinya? Lantas mengapa Luzi malah menghindari pria dengan kuasa yang cukup di kampus itu? Entahlah, untuk saat ini wanita itu tidak suka jika pria itu mengikutinya seperti anak yang mengekori induknya.
"Hei, kau benar-benar kesal padaku?" Pria itu terus bertanya hal yang sama namun tak mendapat sebuah jawaban dari Luzi.
"Bisakah kau berhenti mengikutiku?" Teriak Luzi yang tiba-tiba berbalik menghadap pada Eren dibelakangnya.
"Eh," pria itu tersendat mendengar ucapan Luzi dan sontak menghentikan langkahnya. "Mengikutimu? Maaf nona kepala bata, kau mungkin merasa begitu karena kita memiliki tujuan yang sama, yaitu tempat pemberhentian bus. Jadi kau salah paham tentang ku yang mengikutimu!" Jelas Eren seraya menunjuk tempat yang dimaksud nya itu.
"Benarkah?" Luzi mengangkat sebelah alisnya.
"Hem." Jawab Eren disertai anggukan.
Merasa malu karena ia salah paham, akhirnya Luzi pergi begitu saja saat ia melihat sebuah bus telah berhenti dan langsung masuk kedalamnya.
"Semoga dia tertinggal..."
"Semoga dia tertinggal ..."
Luzi terus mengucapkan hal itu saat ia sudah terduduk dikursi bus. Namun ternyata doanya kali ini tidak terkabul, pria itu justru duduk tepat disampingnya, namun mereka tidak berbagi kursi.
"Malu, ya?" Ujar Eren saat melihat Luzi membuang wajahnya dan terus menatap ke depan.
"Tidak." Ketus Luzi
Eren yang dari tadi terus bicara kini terdiam. Pria itu memilih untuk melakukan hal yang sama dengan Luzi, melihat kedepan.
Dihalaman rumahnya Gino tengah memanaskan mesin motor sport hitam miliknya sebelum berangkat ke kampus.
"Tumben pagi-pagi sudah dikeluarkan," celetuk Rena yang berdiri tak jauh dari Gino.
"Bima hari ini tidak ke kampus, jadi Gino bawa motor sendiri." Jawabnya sambil terus memanaskan mesin motornya.
"Memangnya mama mau kemana?" Gino menghentikan tangannya yang sedari tadi memegang gas motor.
"Mama ada urusan diluar, Gimana mau ikut?"
Gini menggeleng, " Gino naik motor saja."
"Baiklah, hati-hati." Rena menepuk pundak putranya itu.
Gino mengangguk lalu mengenakan helm dan melajukan motornya menjauh dari tempat parkir rumahnya meninggalkan seorang ibu yang masih memperhatikan punggung putranya itu.
"Semoga kau cepat pulih." Gumam Rena lalu berjalan mengitari mobil untuk masuk kedalamnya kemudian melajukan kendaraan beroda empat itu menjauh dari rumahnya.
Dengan kecepatan sedang Gino melajukan motor sport miliknya hingga dua puluh lima menit waktu ditempuhnya dan ia tiba di parkiran universitas GAZ.
Mahasiswi-mahasiswi yang berjalan melewati tempat parkir kini berhenti sesaat untuk mengagumi sosok pria bergaya rambut comma hair yang sedang memperbaiki rambutnya yang berantakan karena memakai helm.
Seakan tak melihat para wanita yang sedang berkerumun itu, Gino berjalan lurus begitu saja melewati para mahasiswi itu menuju kelasnya karena kebetulan hari ini ia ada kelas pagi.
Berbanding terbalik dengan Gino yang mendapat perhatian dari lawan jenis karena ketampanannya, Luzi justru diperhatikan karena panampilannya yang buruk dan berantakan. Bahkan hal itu membuat Luzi kesal dan terus mengumpat didalam hatinya.
"*Ya Tuhan, ingin sekali aku memberitahu mereka semua bahwa aku adalah Zero*." Gerutunya saat ia terduduk di bangku paling belakang.
Bukan tanpa alasan Luzi berkata demikian, karena tak seorang pun yang tidak mengenal nama Zero di kota itu. Semenjak Zero dan timnya berhasil membongkar sindikat narkoba terbesar di kota itu membuat nama Zero dikenal oleh publik karena saat itu Zerolah yang memimpin pasukannya bersama sang pujaan, David.
Saat itu David menyerahkan kepemimpinannya kepada Luzi supaya komandan mereka yakin untuk memberikan sebuah promosi kepada Luzi. Namun dibalik kepopuleran itu semua tak seorang pun dari mereka yang mengetahui jika seorang wanitalah yang ada dibalik nama Zero.
Setelah beberapa saat mengumpat kini tak terasa bahwa Luzi telah memasuki kelasnya dan tak lama akhirnya dosen datang ke dalam ruangan kelas Luzi dan kelas pertama pun akan dimulai.