ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Kehilangan Jejak



"Kau sedang apa disitu?"


Luzi menoleh dengan mulut yang penuh, "Makan." Jawabnya singkat setelah makanan didalam mulutnya hilang masuk kedalam perutnya.


Gino terdiam sesaat dengan kedua mata menatap pemilik rambut kusut itu tengah makan dengan tenang. "Duduklah," titah Gino lalu kembali duduk untuk menikmati makanannya.


"Eh?" Luzi berdiri didepan Gino dengan mulut yang masih mengunyah.


"Kau boleh duduk bersamaku," jelas Gino.


Luzi pun segera mendaratkan tubuhnya didepan pria yang sedang melahap makanannya dengan tenang itu. Ia lalu kembali melanjutkan menyantap makan siangnya bersama Gino.


Disudut berbeda kantin sekelompok wanita tengah berkumpul menikmati makan siang mereka sambil mengobrol ringan. Tak ada hal yang aneh diantara mereka sampai salah seorang diantara mereka menumpahkan segelas minuman.


"Maaf, Abel. Aku tidak sengaja," wanita yang menumpahkan minuman itu lantas mengambil beberapa helai tisu untuk mengeringkan pakaian Abel yang tertumpah itu.


"Dasar kau ini, untung itu es, coba kalau kopi? Bisa kepanasan aku." ucap Abel yang juga mengambil beberapa tisu.


"Kau mungkin akan kepanasan saat melihat ini." Celetuk Lia yang duduk bersama Mereka berdua.


Abel dan Rima serentak menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Lia. "Apa maksudmu?" Tanya Rima yang gagal menangkap maksud dari ucapan Lia.


Sedangkan Abel menggertakan giginya kesal saat matanya menangkap pemandangan di meja belakang Gino dan Luzi yang sedang makan siang satu meja dan saling berhadapan. Bahkan ia melihat kedua orang itu seperti sedang mengobrol layaknya orang yang sudah sangat dekat.


Berlawanan dari apa yang dilihat oleh Abel dan teman-temannya, Gino dan Luzi justru tengah berdebat ringan dimeja itu. Mereka seperti seorang raja yang tengah berebut kawasan kekuasaan.


"Kenapa ke tumpahkan itu kearahku?" Gino tak terima saat makanan Luzi sedikit tumpah disamping tangannya. Padahal tumpahan itu bahkan tidak mengenai pakaiannya sama sekali.


"Maaf, aku tidak sengaja. Nanti aku bersihkan." Ucap Luzi dan hendak pergi untuk mengambil air minum karena ia tidak sengaja memakan cabe. Namun Gino tiba-tiba memegang tangan Luzi menahan wanita itu untuk pergi.


"Apa lagi?" Luzi berkata sambil menahan rasa terbakar pada mulutnya.


"Bersihkan dulu ini!" Perintah Gino.


"Baiklah aku akan bersihkan, tapi setelah aku mengambil minuman." Luzi mencoba berlari namun kakinya malah terbentuk meja dan ia kembali ditahan oleh Gino.


"Kau kan bisa menggeser tubuhmu untuk menghindari tumpahan itu, nanti biar aku—"


"Minumlah, jika kau tidak kuat makan pedas jangan sekali-kali mencobanya." Ucap Gino dan masih diposisi yang sama, disamping tumpahan kuah makanan Luzi.


Luzi pun mengambil botol itu lalu duduk dan meminum air pemberian Gino itu. "Terimakasih," ucap Luzi setelah meneguk air dan meredakan rasa pedasnya itu.


"Hem."


Luzi kini mengambil beberapa lembar tisu dan beralih ke samping Gino untuk membersihkan tumpahan kuah makanannya. Dengan perlahan ia membersihkan tumpahan itu hingga bersih mengkilap, bahkan ia juga meneteskan air dari botol tadi supaya tidak meninggalkan bekas minyak dimeja.


Gino yang terdiam seperti patung disamping Luzi perlahan-lahan menghirup udara segar serta wangi yang timbul dari aroma seseorang yang duduk disampingnya itu dalam-dalam. Entahlah, ia tidak tau alasannya mengapa melakukan itu. Yang ia tahu saat itu wangi wanita berambut kusut itu berbeda dari wangi-wangian yang biasa dipakai kebanyakan wanita.


"Sudah." Luzi kini kembali ke tempatnya semula.


Melihat semua yang terjadi diantara dua orang itu membuat Abel mendidih bagaikan air yang dipanaskan. Ia mengepalkan tangannya sambil menatap punggung wanita dengan rambut berantakan itu.


Setelah kenyang mengisi perutnya, Gino pergi entah kemana setelah dari kantin sedangkan Luzi kini kembali mengelilingi kampus untuk mencari ruang monitor cctv. Dengan mata yang terus berkeliling Luzi berjalan seorang diri tanpa arah tujuan yang jelas selain mencari letak dari ruang monitor cctv.


Ditengah jalan Luzi berhenti saat matanya menangkap seorang wanita berambut pirang yang tak asing baginya itu tengah berbincang dengan sorang pria tinggi bertopi. Mereka sepertinya sedang terlibat sebuah pembicaraan yang cukup serius. Karena hal itu dapat terlihat dari raut wajah Agnes sang wanita berambut pirang.


Pria bertopi itu kemudian mengajak Agnes untuk ikut pergi bersamanya.


"Eren?" Gumam Luzi saat melihat wajah pria itu ketika berbalik arah.


Dengan segudang penasaran, Luzi pun kini mengikuti kedua orang itu.


Luzi membuka ranselnya lalu mengambil sebuah buku untuk dijadikan penutup wajah kalau-kalau mereka berdua tiba-tiba berbalik. Melihat dua orang itu sudah tidak lagi didepannya setelah ia mengenakan kembali ranselnya Luzi pun bergegas lari menghampiri tempat terakhir dirinya melihat Agnes dan Eren.


"Tempat apa ini?" Ucap Luzi saat langkahnya terhenti didepan sebuah pintu. Mata besar wanita berambut kusut itu berkeliling mendeteksi sesuatu yang mungkin saja bisa terjadi terutama dari arah belakangnya.


Langkah demi langkah yang sangat hati-hati dan Pelan hingga tak menimbulkan suara perlahan mendekati Luzi yang tengah berdiri didepan pintu sebuah ruangan yang seluruh jendelanya ditutupi oleh tirai.


"Ya ampun, kenapa aku terus tersesat!" Rengek Luzi lalu berbalik hingga seseorang yang hendak mendekatinya itu langsung bersembunyi.


Dengan langkah yang sedikit dipercepat Luzi pun meninggalkan tempat itu sambil bersenandung kecil.


Seseorang dengan sepatu hitam itu bersembunyi di sudut ruangan yang cukup sulit untuk terlihat jika tidak teliti. Matanya kini mengikuti Luzi yang berjalan menjauhi tempat itu hingga kini tubuhnya keluar dari sudut tadi untuk melihat Luzi yang semakin menjauh.