
Waktu menunjukan pukul sepuluh pagi. Dengan wajah yang ditekuk kesal, seorang wanita terduduk dikursi piano sambil menekan-nekan Tut's berwarna hitam dan putih secara bergantian.
Brak.. Suara pintu terbuka membuat wanita itu lantas menengok.
"Maaf, aku terlambat." Ucap pria yang kini berdiri diambang pintu dengan tubuh yang kembang-kempis ngos-ngosan.
Tak menjawab perkataan pria dengan topi itu, Wanita berambut pirang lurus kembali memunggungi pintu masuk dan menekan-nekan kembali Tut's.
"Hei, kau marah padaku?" Tanya pria itu seraya meraih dagu wanita berambut pirang untuk menghadap padanya.
"Aku rela tidak mengisi kelas hanya untuk menunggumu disini." Ucap wanita itu dengan dagu yang masih diatas tangan lelaki bertopi yang masih ngos-ngosan itu.
"Agnes.... Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya." Ucap pria itu.
"Kau hanya berjanji!" Keluh wanita itu lalu menggeser dagunya dari tangan pria itu.
"Tadi aku harus bertemu pak Rendi untuk menanyakan tentang olimpiade." Jelas Pria itu.
"Jika sudah ada janji dengan orang lain, lantas mengapa kau berjanji padaku?"
"Agnes dengarkan aku. Aku ketua organisasi dikampus ini, jadi aku berbeda dengan mahasiswa lain yang bisa kemanapun mereka mau. Banyak hal yang harus aku lakukan." Tuturnya.
Mendengar apa yang dikatakan pria itu padanya membuat wanita itu sadar diri jika dirinya terlalu egois dan kekanak-kanakan. "Maafkan aku, Kak. Aku terlalu marah padamu sampai tidak memikirkan itu." Ucap Agnes dengan raut wajah menyesalnya.
Pria itu membelai wajah Agnes lalu mengecup bibir wanita yang dekat dengannya akhir-akhir ini.
"Kak Eren." Ucap Agnes setelah pria itu melepaskan kecupannya.
"Apa? Kau masih menginginkannya?" Ujar Eren dengan senyum menggodanya.
"Ih... Dasar pria." Keluh Agnes.
"Tapi kau menyukainya kan?"sindir pria itu.
Wajah putih bulat wanita itu perlahan memanas dan berubah memerah layaknya sebuah tomat yang sudah matang.
"Tidak." Kilahnya. Namun wajahnya tidak dapat berbohong.
Eren hanya tersenyum dan kembali melakukan hal serupa, mencium bibir merah Agnes. Namun kali ini ia melakukannya lebih agresif hingga mereka sesekali membentur alat musik diruangan itu. Ya, disana hanya ada alat musik dan yang lebih penting tidak ada camera atau apapun disana.
Kedua orang itu bernapas terengah-engah setelah kehabisan napas karena sama-sama enggan melepaskan. "Aku harus pergi ke kelas." Ucap Agnes yang kini merapikan dirinya yang sedikit berantakan.
"Minggu depan datanglah, aku mengadakan pesta kecil." Ucap Eren setelah memberikan sebuah kartu undangan yang sama dengan yang ia berikan kepada Gino kemarin.
"Aku pasti datang." Ucap Agnes.
"Terimakasih, lainkali aku tidak akan terlambat." Ucap Eren lalu melepas wanita yang berusia lebih muda darinya yaitu sekitar dua puluh tahun.
Selepas kepergian Agnes, Eren mengelap bibirnya dengan jari jempol lalu keluar dari ruangan itu untuk mengikuti kelas berikutnya yang akan dimulai pukul 10.49
Dilorong kampus, Luzi berjalan seorang diri dengan tangan yang sudah dibalut oleh kain kasa. Tadi sebelum ke kampus, ia bersama kedua pria itu mampir ka dokter untuk mengobati luka ditangannya yang ternyata cukup dalam hingga perlu diberi sedikit jahitan.
Dengan langkah yang sedikit malas Luzi berjalan sambil sesekali membuang napasnya kasar. "Ini alasanku kenapa tidak mau kuliah dulu. Karena aku sering merasa malas," Ucap Luzi.
"Daripada kau mengeluh, lebih baik kau bantu aku membawa buku-buku ini." Sahut Seseorang dibelakangnya.
Luzi lantas berbalik dan mendapati Gino tengah membawa setumpukan buku ditangannya hingga ia kesulitan melihat wajah pria itu. "Bukannya kelasmu pagi? Kenapa kau malah membawa tumpukan buku?"
"Kau mau membantu atau tidak?" Tanya Gino kesal karena bukannya membantu Luzi malah bertanya sedangkan tangannya sudah pegal karena membawa tumpukan buku itu. Akhirnya ia menyimpan tumpukan buku itu dilantai.
"Aku bawa sedikit saja." Ucap Luzi mengambil satu buku dari banyaknya tumpukan buku ditangan Gino.
"Itu sama sekali tidak membantu meringankannya." Kesal Gino.
"Membantu harus ikhlas. karena ikhlas ku hanya membawa satu buku jadi terimalah!" Celetuk Luzi.
Gino memasang wajah datar tanpa ekspresi mendengar ucapan Luzi. Ia menatap wanita itu hingga sebuah ide muncul dikepalanya.
"Hah? Kau mau aku menciummu sebagai imbalan karena kau membantuku?" Ucap Gino cukup keras hingga mata Luzi membesar dan panik.
"Stttt.... Apa kau berpikir dulu sebelum bicara?" Protes Luzi dengan mata yang melebar.
"Hah? Kau juga mau aku membayar satu juta untuk semalam?" Gino semakin Ngaco hingga Luzi terpaksa harus menutup mulut pria itu.
"Kau membuka mulutmu lagi, aku akan membunuhmu!" Ancam Luzi.
"Coba saja. Aku akan melaporkannya kepada polisi sebelum kau melakukan itu." Seru Gino tak mau kalah.
"Coba saja laporkan. Yang ada aku tidak akan masuk penjara dan kau sudah mati." Sahut Luzi diakhiri dengan bibir yang mencemooh pria itu.
Alis Gino bertautan, "Kenapa begitu?"
"Lalu apa mereka akan percaya itu?" Sindir Gino.
"Tentu saja. Aku hanya tinggal membuatmu menyentuh tubuhku dan beberapa barang dirumahku. Setelah itu aku akan membereskan sisanya supaya tidak akan ada sidik jari lain yang akan mengacaukan semuanya." Jelas Luzi.
"Apa mereka tidak akan melakukan rekonstruksi?"
"Tentu saja akan. Tapi aku bisa melakukannya dengan rapi karena—"
"Karena kau polisi divisi perlindungan terhadap anak yang mengalami kekerasan." Bisik Gino hingga Luzi tertegun akan tebakan pria itu.
"Yang pastinya sering melihat rekonstruksi dan mengintrogasi mereka, aku benarkan?" Lanjut pria itu.
"Bagaimana dia tahu?" Batin Luzi.
"A-apa ma-maksudmu, aku hanya menjelaskan seperti yang ada di drama." Kilah Luzi.
"Tidak perlu berbohong, aku sudah tahu dari seragammu yang ada di kamar mandi dirimahmu tadi. "Papar Gino.
"Itu-itu.... Itu seragam milik temanku," ucap Luzi.
"Benarkah?"
"Benar. Jika kau tidak percaya temui saja—"
Drtttttt...
"Halo...." Ucap Luzi setelah mengangkat panggilan.
"Aku akan kesana sekarang." Ucapnya kemudian menutup panggilan itu.
Tanpa berkata apapun Luzi segera berlari meninggalkan Gino untuk memenuhi panggilan yang ternyata dari kantor dan menyuruhnya untuk segera datang ke sana.
"Kau mau kemana?" Tanya Gino. Namun Luzi tak menjawabnya dan berlari semakin jauh dari dirinya.
"Katanya mau membantu, ternyata dia malah pergi." Gerutu Gino saat ia mengangkat kembali tumpukan buku itu ke pangkuannya untuk dibawa ke perpustakaan.
Usai menempuh waktu yang cukup singkat dari kampus menuju kantor yang jaraknya jauh menggunakan kereta, Luzi segera memasuki gedung tempat berkumpulnya para polisi.
"Siang," sapa beberapa polisi ketika ia memasuki gedung.
"Siang, Apa David sudah ada di ruangan komandan Jo?" Tanya Luzi pada seorang polisi pria.
"Iya, mereka berdua sudah berada didalam. Sedangkan yang lain diruangan itu," tunjuk orang itu pada sebuah ruangan disebrang tempat mereka berdiri.
"Baiklah, terimakasih." Ucap Luzi
"Sama-sama." Jawab pria itu.
Luzi mengetuk pintu ruangan komandan Jo lalu membukanya setelah terdengar suara menyuruhnya untuk masuk.
"Lapor. —"
"Duduklah." Ucap komandan Jo memotong Laporan Luzi.
Luzi yang merasa bingung segera menuruti perintah atasannya untuk duduk.
Brak!
Tamparan keras sebuah kertas pada meja langsung membuat tubuh Luzi terhenyak.
"Lihat! Kita sudah kecolongan." Tegas Komandan Jo menunjuk sepucuk kertas berisi laporan tentang hilangnya seorang mahasiswi dari universitas GAZ.
"Kenapa bisa begini? Sebenarnya kau itu melakukan apa saja disana?" Ucap Komandan Jo kepada Luzi.
Luzi terdiam. Ia lupa jika hari ini dirinya akan menyelidiki hilangnya perempuan itu sebelum laporan itu sampai ditangan komandan Jo. Namun karena semalam Gino datang kerumahnya dan minum sedikit alkohol ia jadi melupakan kasus itu. Apalagi kejadian tadi pagi saat pria itu tiba-tiba mencium dirinya.
Ia seakan kehilangan sepotong dirinya sebagai seorang polisi yang bertugas hanya karena sebuah perlakuan dari seorang pria.
"Jawab! Apa yang selama ini kau lakukan? Apa hanya mencari ruangan monitor cctv? Kenapa tidak ada perkembangan?" Rentetan pertanyaan komandan Jo tertuju pada Luzi yang menundukan kepalanya karena ia merasa semua kesalahannya.
"Tegakkan kepalamu!" Perintah Komandan Jo setelah beberapa saat menunggu Wanita itu menjawab pertanyaannya.
Luzi langsung menegakkan kepalanya seperti yang diperintahkan oleh atasannya itu. "Lapor! Saya Luzi Riana sudah melakukan semua yang saya mampu untuk mengungkapkan kasus itu. Dan atas bertambahnya korban, saya akan bertanggung jawab dan siap melakukan semua sanksi yang diberikan." Ucap Luzi dengan suara lantang.
Komandan Jo menghela napas panjang lalu berdiri. "Lanjutkan penyelidikanmu bersama......" Luzi memandang ke arah David berharap dirinya akan bertugas bersama pria itu seperti saat mereka melakukan penyergapan besar-besaran bandar narkoba beberapa Minggu yang lalu.
"Tim aplomb!" Lanjut Komandan Jo.
Luzi yang mendengar perintah atasnya itu lantas melihat kearahnya, entah senang atau sedih namun tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca. "Siap. Laksanakan!" Jawab Luzi diakhiri sebuah hormat lalu pergi meninggalkan ruangan itu.