ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Hilangnya kartu as



Hari kini telah berganti. Seperti biasa Luzi terbangun berkat bantuan alarm dan kini ia sudah siap untuk berangkat ke kampus.


Diruang tamu sambil menenteng sebuah roti berselai madu Luzi mengangkat wajahnya untuk melihat jam yang Ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh lewat.


Dengan segala kebutuhan yang sudah ia siapkan sebelumnya, kini Luzi mengambil ransel dan beberapa map berisikan tugas-tugas kampus kemudian membuka pintu rumahnya.


"Hai!" Sapa seorang pria dengan senyuman ramah yang belum pernah ia tampakkan sebelumnya.


"Ada apa?" Tanya Luzi yang masih mematung didalam rumah.


" Menjemputmu, mari berangkat bersama." Ajak Gino


"Tidak perlu, aku sudah ada janji dengan orang lain." Jawab Luzi.


"Benarkah? Siapa dia?" Tanya Gino. "Apa dia akan datang kemari?"


"Tentu saja," cetus Luzi. "Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, coba panggil dia. Jika dia tidak datang dalam lima menit kau berangkat denganku!" Ucap Gino sedikit memaksa.


"Kenapa kau memaksa?"


"Aku tidak memaksa, hanya saja jika dia tidak datang kau akan rugi karena menolakku." Kilah Gino.


Luzi menghembuskan napasnya kasar lalu mengambil ponselnya dan menekan nomor temannya.


"Halo, kau akan tiba jam berapa?" Tanya Luzi pada orang yang berbicara dibalik telepon itu.


"Aku sudah didepan rumahmu," jawabnya.


"Benarkah?" Luzi mengedarkan pandangannya ke setiap sudut dekat rumahnya. "Dimana kau?"tanya Luzi saat ia tak kunjung juga melihat temannya itu.


"Aku didalam mobil berwarna putih." Lanjutnya memberikan petunjuk.


Luzi menatap kearah jalan yang terdapat sebuah mobil putih terparkir disana. Dan ya ia tahu betul siapa pemilik mobil itu. Luzi melirik kearah Gino sebelum akhirnya ia mendekati mobil putih itu begitupun dengan Gino yang ikut berjalan mendekati mobil itu.


"Kau dimana?" Tanya Luzi lagi setelah ia berdiri disamping mobil putih itu.


"Aku disini." Jawabnya seraya membuka kaca mobil berwarna putih yang tak lain adalah milik Bima.


Luzi begitu terkejut melihat wajah temannya yang keluar dari mobil Bima. "Aara, apa yang kau lakukan disini?" Bisik Luzi.


"Aku kan sudah bilang akan menemanimu hari ini," jawab Aara tersenyum.


"Lalu kenapa kau bisa didalam sana? Dan bagaimana kau bisa mengenal mereka?" Luzi bertanya sambil berbisik.


"Karena dia kekasih Bima." Celetuk Gino.


"Eh?" Luzi melihat kearah Gino dan Aara bergantian. "Kenapa dia lebih dulu tau?" Kesal Luzi.


"Sebenarnya saat itu aku ingin bercerita padamu, namun kau malah meninggalkan ponselmu dan aku terpaksa bercerita hanya pada Sona." Jelas Aara menceritakan kejadian saat mereka melakukan video call.


"Kenapa bisa kebetulan?" Heran Luzi.


"Apanya yang kebetulan?" Timbal Bima yang kini ikut mengeluarkan kepalanya seperti Aara. "Apa kalian juga sepasang kekasih sekarang?" tebak Bima.


"Eh?" Kaget Luzi. " Ti-tidak. Aku dan dia bukan kekasih!"


"Menjadi kekasih juga bukan masalah bukan?" Seru Gino


"Tentu saja masalah!" Sergah Luzi.


"Kenapa kau marah, Zi?" Tanya Aara. "Ayo masuklah." Ajak Aara.


Drtttttt...


Ponsel Luzi tiba-tiba berdering. Segera ia geser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan benda itu ke daun telinganya.


"Rekaman cctv kampus kemarin telah hilang." Ucapnya.


"Apa?" kaget Luzi kemudian menjauhkan dirinya dari orang-orang yang berada di sana.


"Kau tidak bercanda kan? Mengapa bisa hilang?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Luzi.


"Entahlah, tapi disni sekarang sedang ricuh mencari rekaman itu." Jelasnya.


"Apa tidak ada salinannya?" Tanya Luzi.


"Justru itu baru akan dilakukan hari ini."


"CK." Kesal Luzi. "Apa kau sudah melaporkannya pada komandan?" Tanya Luzi.


"Sudah. Dan dia menyuruhku supaya menghubungimu menanyakan apakah kau menyalin rekaman itu atau tidak." Paparnya.


"Aku tidak sempat melakukan itu kemarin."


"Lantas bagaimana?" Tanya lawan bicara Luzi. "Apa selanjutnya?"


"Lakukan pencarian diseluruh tempat dikantor!" Perintah Luzi. "Dan jangan lupa, cek juga rekaman cctv kantor!" Luzi menutup panggilan itu lalu.


"Kenapa bisa hilang? " Batin Luzi seraya kembali mendekati mobil berwarna putih yang terparkir. "Tidak mungkin. Pasti itu disengaja." Pikir Luzi yakin.


"Siapa yang memanggilmu, Zi?" Tanya Gino yang masih berdiri di luar.


"Zi?" Bima begitu terkejut mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulut temannya itu. Pasalnya ia tidak pernah mendengar Gino menyebut nama Luzi, tapi sekarang tiba-tiba pria itu memanggilnya seperti sudah begitu lama mengenal Luzi seperti Aara.


Begitupun dengan Luzi, ia menatap Gino dengan raut wajah aneh. "Dia memanggilku apa? Zi? Kupikir dia lupa namaku." Gumam Luzi dalam hatinya.


"Sejak kapan kau memanggil namanya?" Ledek Bima.


"Ingin tahu urusan orang saja kau." Celetuk Gino pada Bima. "Masuklah!" Ucap Gino dan dilakukan oleh Luzi.


"Memangnya Gino selalu memanggil Luzi apa?" Tanya Aara penasaran.


"Kadang dia memanggilnya si—"


"Jangan banyak bicara." Gino menutup mulut temannya itu. "Kau mau berangkat sekarang atau aku yang menggantikan mu menyetir?" Lanjut Gino.


"Ba-baiklah, kita berangkat sekarang."


Keempat orang itu kini menuju apartemen yang ada didekat universitas GAZ. Tempat yang pemiliknya adalah ibu dari salah satu diantara mereka.


Selain itu, dikantor polisi semua orang tengah kebingungan karena rekaman yang merupakan kartu as bagi mereka kini lenyap secara tiba-tiba.


"Apa kau menemukannya?" Tanya seorang polisi kepada rekannya.


"Tidak, aku tidak menemukannya diruangan tempat menyimpan berkas-berkas." Jawab seorang polisi.


"Aku sudah bertanya pada semua orang yang telibat kemarin, mereka tidak mengetahuinya." Jawab polisi lain yang baru menghampiri mereka.


"CK, bagaimana ini?" Gumam polisi yang lain. "Haruskan kita kehilangan bukti terkuat ini?"


Kepanikan tergurat pada setiap wajah polisi karena tidak dapat menemukan rekaman cctv yang begitu penting itu. Namun sebuah hembusan napas yang berarti keberhasilan terhembus dari lubang hidung Seorang polisi yang tengah bersandar pada dinding.


"Tidak ada bukti, maka semua sudah aman." Ucapnya lalu berjalan menghampiri para polisi yang tengah berkumpul itu.


"Bagaimana?" Tanya David pada Five yang baru tiba pada kerumunan para polisi bersamaan dengan dirinya.


Five menggeleng, "padahal tinggal selangkah maka semuanya akan terbuka." Ucapnya.


"Kita cari lagi ketempat yang lain di gedung ini." Ajak David.


"Siap."