ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Bujukan Ketua



Seorang wanita dengan gaya rambut ponytail serta kacamata hitam memasuki sebuah cafe hingga membuat orang-orang memperhatikan wanita itu.


"Vanilla latte satu." Ucap wanita itu


"Dibawa pulang atau disini?" Tanya seorang kasir.


"Disini." Wanita itu pun berjalan meninggalkan meja kasir lalu duduk didekat kaca. Karena cafe tidak terlalu banyak orang membuatnya merasa bosan dan mencoba menghilangkan rasa itu dengan memainkan ponselnya.


"Ini, maaf kau harus menunggu lama, Son." Ucap pelayan wanita lalu duduk berhadapan dengan Sona.


"Tidak masalah, maaf mengganggu jam kerjamu Aara." Ujar Sona yang kini mengambil cangkir berisi kopi.


Wanita bernama Aara itu pun menggeleng, " Kau sama sekali tidak menggangu."


Kedua wanita yang merupakan teman SMA itu berbincang-bincang setelah bertukar kabar. Ya, selama empat tahun ini mereka disibukkan dengan urusannya masing-masing. Sona yang melanjutkan sekolahnya keluar negeri dan baru kembali, Aara yang belajar menjadi seorang peracik kopi handal untuk mewujudkan impiannya membuka cafe sendiri, serta Luzi yang masuk akademi kepolisian hingga sekarang menjadi polisi wanita.


"Kau banyak berubah setelah kembali kesini," cetus Aara yang melihat penampilan Sona dengan kacamata hitamnya.


"Apanya yang berubah? Aku tetap sama seperti dulu, hanya saja mungkin aku sudah sedikit dewasa." ucap Sona sambil tertawa.


"Cih, dewasa apanya, yang ada kacamata mu semakin tebal," ledek Aara sambil tertawa.


"Aku sudah tidak menggunakan kacamata lagi, Aara." Ujar Sona hingga membuat Aara berhenti tertawa,


"Eh, Lalu itu apa dimatamu? Cermin?" Ada kembali tertawa mendengar pengakuan Sona yang begitu menggelikan baginya.


Sona memegang kacamata yang menempel diwajahnya itu, " ini karena aku terpaksa," ucap Sona hingga Aara berhenti tertawa.


"Karena mataku sakit." Sona memperlihatkan matanya yang memerah itu pada Aara.


"Astaga, Sona. Matamu," Aara terkejut melihat kondisi mata Sona yang merah dan sedikit berair itu, "Maaf aku tidak tahu jika kau sakit mata."


"Tidak apa Aara, aku juga sudah pergi untuk membeli salep tadi."


"Ohiya, apa Luzi tahu ka sakit mata?" Tanya Aara


"Jangankan tahu aku sakit mata, bertatap muka pun belum terjadi," kata Sona diikuti bibirnya yang mengkerut.


"Apa? kau belum bertemu dengan Luzi?"


Sona menggeleng, "wanita itu sangat sibuk."


Aara tertawa mendengar pengakuan temannya itu yang selalu lengket dengan Luzi dulu saat masih sekolah kini diacuhkan begitu saja. "Sepertinya memang begitu, dia bahkan sudah lama tidak kesini."


"Benarkah?" Sona tak percaya dengan ucapan Aara. pasalnya ia tahu jika Luzi selalu datang ke cafe Aara hanya untuk menikmati kopi racikan temannya itu. Bahkan jika dia memanggil temannya lewat sambungan telepon dan bertanya sedang apa maka jawabannya sama, menikmati kopi racikan Aara.


Aara menganggukan kepalanya membenarkan apa yang ia katakan tadi. "Apa kita ajak dia kesini saja? Supaya kita bisa kembali berkumpul,"


"Boleh, bagaimana kalau malam minggu?"


"Baiklah, soal mau atau tidaknya Luzi aku serahkan padamu."


"Oke." Jawab Sona diikuti jari yang ia bulatkan.




Acara kampus kini telah resmi berakhir, semua mahasiswa bersorak gembira dilapangan kecuali Luzi. Wanita berambut hitam itu terduduk menunduk didekat tiang memikirkan cara agar ia bisa masuk ke kampus itu selain menjadi mahasiswa.



Pusing dengan pikirannya yang lagi-lagi buntu, tiba-tiba terbesit sebuah kata ketua organisasi kampus dipikirannya.



"Tunggu dulu, dia kan hanya ketua organisasi, bukan ketua universitas." Luzi berdiri lalu meninggalkan lapangan dimana orang-orang sedang bersenang-senang.



Seorang pria yang tengah berdiri sambil melipat tangannya tak sengaja melihat Luzi menjauh dari lapangan dengan terburu-buru. Merasa ada hal yang aneh, pria itu lantas mengikuti kemana perginya wanita bertubuh 158 cm itu.



Tiba disebuah pintu dengan tulisan ruangan ketua universitas, Luzi mematung memantapkan hatinya untuk mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk kedalam.




Dari arah belakang seorang pria yang tadi mengikuti Luzi terkejut karena wanita itu berhenti di depan ruang ketua universitas. Bahkan dia dikejutkan dua kali saat Luzi mengetuk-ngetuk pintu itu.



"Astaga..." pria itu berlari menghampiri Luzi.



"Ehhh...." Luzi terkejut saat tangannya Tiba-tiba ditarik untuk menjauh dari tempat itu dan orang yang menariknya itu tak lain orang yang memarahinya tadi.



"Hei, lepaskan aku." Luzi menahan tubuhnya supaya tidak tertarik oleh pria itu. Namun nyatanya pria itu jauh lebih kuat dari dugaannya dan berhasil menarik Luzi menjauh dari pintu ruangan ketua kampus. Eren menghempaskan Luzi kehadapannya lalu melepaskan tangannya dari tangan Luzi.



"Aw..." Rintih Luzi memegangi tangannya yang sakit.



"Apa yang kau lakukan disana?"



"Tentu saja menanyakan statusku di universitas ini. Sudahlah, aku harus pergi sebelum ketua universitas itu keluar dari ruangannya." Jawab Luzi seraya beranjak pergi meninggalkan tempat itu dan kembali keruangan ketua universitas, namun ia ditahan oleh Eren dan kini pria itu memegang bahunya.



Luzi meringis kesakitan saat pria itu tidak sengaja menekan luka lebam ditangannya. Ia lalu menyingkirkan tangan besar pria itu dari bahunya.



"Jangan sekali-kali kau memegang ku!" Tegas Luzi.



"Oke, oke, maaf karena aku sudah lancang menyentuhmu, aku juga minta maaf karena sudah membuatmu jadi bahan cemoohan disini. tapi aku mohon jangan temui ketua universitas." Pinta Eren sang ketua organisasi.



"Kenapa? kau takut aku adukan padanya?" ledek Luzi.



Eren semakin pusing dengan ucapan Luzi yang menurutnya semakin ngaur. Mungkin ini efek kerena pikiran wanita itu sedang kacau.



"Begini, kepala batu aku hanya....."



"Apa kepala batu? Hei aku punya nama!" Luzi tak terima jika dirinya dipanggil kepala batu oleh pria yang bahkan tidak ia kenal.



"Oke, aku minta maaf. Jadi begini,Aku adalah ketua organisasi—"



"Iya aku tahu," potong Luzi.



Pria itu menghembuskan nafasnya kasar, "Jadi karena ini masih acara yang aku tanggung maka sebelum kau menemui ketua universitas untuk mengadukan keluhanmu kau harus menemuiku dulu." Jelas Eren.



Luzi menatap pria tinggi itu, "*akhirnya jalan lain menuju promosiku terbuka*" Luzi berbicara dalam hatinya, ia merasa senang akhirnya menemukan jalan lain setelah memikirkan banyak cara agar tetap masuk ke universitas itu.