
Luzi menatap pria tinggi itu, "akhirnya jalan lain menuju promosiku terbuka." Ia berbicara dalam hatinya dan merasa senang akhirnya menemukan jalan lain setelah memikirkan banyak cara agar tetap masuk ke universitas itu.
"Aku sudah mencoba mengadukan keluhanku dengan baik-baik padamu tadi, tapi kau... kau malah memarahiku didepan banyak orang." ucap Luzi dengan sedih.
Pria itu terdiam. Ia tak mampu menjawab perkataan Luzi yang seratus persen benar itu.
"Sekarang apa? Semua orang menggunjingku karena telah berani kepadamu." Luzi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku hanya ingin bertanya mengenai namaku yang tidak tercantum di papan pengumuman, itu saja. Tapi yang kudapatkan sangat menyakitkan." Luzi berbicara terbata-bata karena ia ternyata menangis di balik kedua tangannya.
"Astaga, jadi hanya karena namanya tidak tercantum di papan pengumuman dia sampai begitu?" Ia tak habis pikir dengan Luzi. Namun dia masih memakluminya karena berpikir bahwa Luzi masih memiliki perasaan masa SMA.
"Maaf untuk apa yang telah terjadi padamu." pria itu mengatupkan kedua tangannya simbol permintaan maaf.
"Jadi begini anak baik, aku hanya ketua organisasi disini, ingat hanya ketua. dan aku juga tidak punya hak untuk menentukan diterima atau tidaknya mahasiswa." Jelas pria itu yang kini ikut berjongkok, "Jadi alasan namamu tidak tercantum mungkin terlewat karena begitu banyak mahasiswa baru di universitas ini." Lanjut nya
Luzi mengangkat wajahnya, untuk melihat raut wajah pria bernama Eren itu. "Benarkah begitu?"
"Hem," pria itu mengangguk, "baiklah sekarang semua sudah jelas, jadi aku harus kembali ke lapangan." Pamit pria itu lalu meninggalkan Luzi yang terduduk dilantai.
"Akhirnya rencanaku masih sama seperti awal," ujar Luzi yang kini menyeka air matanya yang susah payah ia keluarkan demi mendapatkan simpati Eren sang ketua. Bukan tanpa alasan dirinya bersikap begitu, melihat Eren yang memiliki kuasa pasti akan lebih memudahkan dirinya untuk menguak fakta di universitas GAZ.
~~~~~~~~~~
Hari mulai petang dan suhu udara pun berubah yang tadinya panas kini menjadi dingin karena hujan turun sangat lebat. Jalanan yang biasanya ramai akan orang-orang yang beraktivitas kini sepi bagai tempat yang tak pernah dihuni. Hanya lampu-lampu yang tetap setia menerangi jalanan meski cuaca berubah.
Saat cuaca dingin seperti ini, biasanya orang-orang akan menikmati makanan atau minuman hangat untuk membuat tubuh mereka menghangat. Sama halnya dengan Luzi yang kini menatap keluar dari balik jendela rumahnya ditemani segelas kopi hangat racikannya sendiri. Meski tak seenak racikan temannya Aara, namun Luzi sangat menikmati kopi itu.
Sepi dan sunyi, begitulah yang dirasakan oleh Luzi sejak ia masuk akademi kepolisian, tepatnya empat tahun yang lalu. Ia memutuskan untuk tinggal seorang diri karena tidak mau jika orang tuanya terus khawatir saat ia akan berangkat bertugas.
Tring...
Pandangannya kini teralihkan pada layar ponsel yang menampilkan sebuah pesan.
^^^ *Luzi bisakah kau datang ke kantor sebagai saksi pencurian yang terjadi kemarin?*^^^
^^^ *tentu. Besok pagi aku akan kesana.* Balas Luzi.^^^
Karena kopinya telah habis, Luzi pun menyimpan cangkir itu lalu pergi ke kamarnya. Setibanya dikamar, Luzi mengambil sebuah kertas besar yang ia simpan dikoong tempat tidurnya. Ia pun membuka kertas besar yang berisi tulisan-tulisan yang ia buat diatas lantai.Coretan-coretan itu tak lain adalah rincian kasus mengenai universitas GAZ yang tengah ditangani olehnya.
Sebelum menentukan pelaku, Luzi melingkari sebuah tulisan bukti kuat sebagai hal pertama yang harus ia temukan di universitas GAZ. Karena tanpa bukti, seyakin apapun kita pada pelaku itu tidak akan membuatnya mengakui kejahatan yang telah ia perbuat.
"Apa alasan yang tepat supaya aku bisa masuk ke ruang monitor?" Luzi memikirkan sebuah cara supaya ia bisa menyalin rekaman-rekaman itu tanpa diketahui oleh orang lain.
Ditengah otaknya berpikir keras tiba-tiba ponsel Luzi berbunyi. " Sial, siapa sih? Nganggu orang berpikir saja." Gerutu Luzi.
"Zero here!" Ucap Luzi setelah ia mengangkat telepon itu. Wajahnya yang selalu kaku saat menelpon kini terlihat berbunga.
"Kau sedang dirumah kan? Jadi tidak usah begitu padaku." Ucap pria itu.
Mendengar hal itu lantas membuat Luzi makin dibuat salah tingkah, "maaf, tapi aku sudah terbiasa mengatakannya saat menerima telepon darimu,"
"Aku kan sudah menyuruhmu menganggilku dengan nama saja, jadi tidak usah ragu lagi." Pesan pria itu.
"Oh, David kau memang tipeku..." Hati Luzi terus mengatakan hal itu. Msekipun ia adalah wanita yang kaku dalam mengekspresikan perasaan, tapi saat bersama David hatinya yang keras itu bahkan tiba-tiba mencair seperti air yang mengalir begitu saja.
"Ohiya, aku menghubungimu karena ingin tahu keadaanmu," ujar David
Luzi yang sudah banjir karena hatinya meleleh, kini menjauhkan ponselnya karena takut jika David dapat melihat wajahnya yang memerah karena senang. Padahal mereka sedang menggunakan panggilan suara, bukan panggilan Vidio.
"Halo .. halo .." suara pria itu kembali terdengar saat Luzi tak kunjung memberikan jawaban.
"Eh, iya. Memangnya aku kenapa?"Luzi kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Aku mendengar dari divisi kriminal 3 bahwa kau menjadi korban pencurian kemarin," jelas David.
Pria itu tadi tak sengaja mendengar para polisi divisi kriminal 3 membicarakan tentang pencurian yang melibatkan Luzi sebagai saksi serta korban.
"Oh, aku tidak apa-apa. Lagipula aku juga akan ke kantor besok."
"Benarkah?"
"Hem"
"Jangan lupa temui aku setelah urusanmu selesai."
"Eh" Luzi terkejut mendengar ucapan terakhir dari David sebelum akhirnya panggilan itu terputus.
~~~~~~~~~~
Di depan meja belajar seorang pria tengah duduk sambil menopang dagunya yang melamun. Ia memikirkan hal kemarin yang bahkan ia tidak berpikir untuk melakukannya.
"Kenapa aku memikirkan si kusut itu?" Gino menggelengkan kepalanya supaya berhenti memikirkannya. Ya, wanita kusut yang dimaksud Gino adalah Luzi. Wanita dengan penampilan rambut yang berantakan seperti tidak pernah menyisir itu kini terbayang terus di pikiran Gino.
Meskipun cara berpakaiannya sama seperti mahasiswa pada umumnya, namun rambutnya yang seperti singa itu membuatnya seperti tidak pernah mandi hingga membuat orang-orang merasa jijik saat melihatnya. Tapi justru hal lain yang membuat Gino merasa ada yang berbeda dari wanita itu. Penampilannya memang buruk bahkan sangat buruk. Tetapi itu tidak berlaku saat Gino menggendong Luzi kemarin. Wangi yang timbul saat ia mencoba untuk menggendong Luzi membuatnya terkejut hingga ia harus berbohong pada Bima bahwa dirinya tersangkut sesuatu dan butuh pertolongannya. Padahal saat itu Gino bisa saja menghindar dengan mudah.
.
.