
Gino dan Bima menghampiri keempat wanita itu. "Kenapa kau melakukan sampai sejauh ini?" Bentak Gino hingga suaranya mengema ditelinga mereka semua.
"Aku-aku... hanya..." Abel mencoba menjawab meski seluruh tubuhnya kini gemetar. Ia tak menyangka aksinya itu dilihat oleh orang yang ia cintai.
"Hanya apa?" Gino mendekati Abel hingga kini wanita itu bergabung bersama kedua rekannya. "Tindakan kalian itu sungguh kekanak-kanakan! Apa kalian merasa berkuasa disini?"
Mereka bertiga serentak menggeleng dan menyangkal semua ucapan Gino. Kepalanya tertunduk dengan mata yang kini hanya melihat lantai, sungguh tak sanggup bagi mereka untuk mengangkat kepalanya.
"Dengarkan ini baik-baik! jika kalian melakukan hal seperti tadi, baik itu kepadanya ataupun mahasiswa yang lain, aku akan menjebloskan kalian ke penjara!" Tegas Gino. Ia memperingati ketiga orang itu karena sudah sangat keterlaluan.
Ya meskipun itu sering mereka bertiga lakukan kepada mahasiswa lain, tapi itu hanya sebatas mengancam tidak sampai tindakan seperti yang tadi mereka lakukan pada Luzi. Sehingga jelas Gino langsung menegur mereka bertiga saat itu juga.
Ketiga orang itu tak lagi berkata sepatah katapun, hanya kepala mereka yang menjawab semua pertanyaan Gino, entah itu menggeleng ataupun mengangguk.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum semuanya memburuk!" Tambah Bima yang berdiri dibelakang Gino.
Sedangkan Luzi, wanita itu tiba-tiba menghilang dari tempat kejadian dan tidak sempat melihat Gino menceramahi Abel dan teman-temannya.
Ia kini berjalan cepat mengejar seseorang yang tak sengaja ia lihat disudut parkiran tengah memperhatikan kearahnya namun segera berlari begitu Luzi melihat balik orang itu.
"Kemana orang itu?" Luzi mengitari seluruh lorong yang terdapat cabang jalan yang membuatnya bingung.
Sedangkan orang yang Luzi kejar kini berjalan seperti biasa setelah bayangan wanita itu tidak lagi terlihat tengah mengejarnya.
"Kau darimana?" Sapa seorang mahasiswa kepadanya.
"Aku dari parkiran." Jawab orang itu jujur dan berjalan santai seperti tidak pernah menyaksikan hal yang terjadi di tempat parkir.
Namun tiba-tiba seseorang memegang tangannya dan langsung menguncinya kebelakang punggung dan mendaratkan pipinya ke dinding.
"Aku menangkapmu!" Ucap orang yang mengunci tangannya itu yang tak lain adalah Luzi.
"Kenapa kau menyegelku? Memangnya aku salah apa?" Tanya pria bertopi itu.
"Kau menyaksikan semua yang terjadi ditempat parkir dan bertanya apa salahmu?" Luzi memutar bola matanya, "Kau itu ketua! Ketua organisasi kampus ini!"
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan?" Ucap Eren. Ternyata sepasang mata bertopi diparkiran itu adalah Eren. Tapi kenapa di tidak peduli dengan kekerasan yang terjadi itu?
"Astaga," Luzi terkejut mendengar perkataan Eren.
"Kau kan bisa melerainya tadi," Ujar Luzi, Ia tak habis pikir dengan orang itu.
"Oh, jadi kau ingin aku yang melerai bukan mereka berdua?" Sindir Eren disertai bibir yang melengkung.
"Seharusnya begitu karena kau lebih dulu tiba disana!" Ujar Luzi dan kini melepaskan tangan Eren yang ia kunci kebelakang.
"Kenapa kau tahu aku sudah lama disana?" Tanya Eren yang kini memegangi pergelangan tangannya yang sedikit merasakan panas itu.
"Karena kau tidak menyangkal saat aku bilang kau menyaksikan semuanya." Ucap Luzi yang kini duduk dikursi besi.
"Ternyata kau teliti." Puji Eren. Kini pria itu melihat jam berwarna hitam yang melekat ditangannya.
"Maaf tidak membantumu tadi, tapi aku harus segera pamit karena Ada urusan, sampai jumpa." Eren meninggalkan Luzi yang kini terduduk sendirian.
"Dia berbeda." Gumam Eren dan terus melangkahkan kakinya menjauh dari tempat tadi dirinya disergap.
~~~~~~~~~
Setelah kepergian Abel dan temannya, kini Bima dan Gino mencari Luzi yang entah menghilang kemana. Kedua orang itu mengitari parkiran untuk mencari keberadaannya karena khawatir akan kondisi Luzi.
"Apa kau menemukannya?" Tanya Gino saat dirinya dan Bima bertemu.
"Aku juga," ucap Gino. Ia heran kemana perginya wanita berambut kusut itu setelah dirundung oleh Abel dan teman-temannya.
"Kau telepon saja dia." Saran Bima
Gino pun segera mengambil ponselnya dan mencari nomor Luzi. Meskipun ia tak pernah meminta langsung nomor Luzi, tapi ia dengan mudah mendapatkannya saat meminjam hairdryer dirumah Luzi.
Malam itu, saat Gino mengendus parfum Luzi ia tak sengaja melihat laci meja rias milik Luzi yang terbuka dan menampilkan secarik kertas bertuliskan nomor milik Luzi. Dengan segera ia pun menyalin nomor itu dan menyimpannya.
"Dia punya nomor wanita itu?" Gumam Bima saat melihat Gino langsung mengambil ponselnya begitu ia memberi saran.
Drtttt...
Drtttt.....
Luzi segera mengambil ponselnya yang menampilkan sebuah panggilan dimana nomor itu tidak pernah memanggilnya sebelumnya. Ya, meski nomor itu telah ia simpan diponselnya.
"Halo, Gino ada apa?" Tanya Luzi.
Dibalik ponsel Gino terkejut mendengar Luzi yang langsung tahu jika dirinya yang memanggil sedangkan ia belum bicara sepatah katapun.
"Bagaimana kau tau ini aku?" Selidik Gino.
Luzi terbelalak, ia lupa jika ia mendapatkan nomor Gino saat dirinya ditraktir di restoran khas Korea yang tidak dikenali oleh pria itu.
"Aku hanya kenal kau dan Bima di kampus ini, jadi jika bukan kau pasti Bima yang memanggil." Tutur Luzi. Ia berharap pria itu dapat mempercayai apa yang ia katakan.
"Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana kau tahu nomorku?" Balas Luzi yang penasaran kenapa Gino memiliki nomornya. Padahal seingatnya, ia tidak pernah memberikan kartu nama atau apapun itu kepada warga kampus.
"Itu tidak penting. Yang penting Sekarang kau dimana?"
"Aku? Aku dikampus, didekat... Ah dekat tempat ruangan khusus praktek." Jelas Luzi.
"Kembalilah ke parkiran. Ada hal penting yang harus aku tanyakan padamu!"
"Hal apa?" Tanya Luzi,
"Halo..? Halo..?" Ternyata panggilan itu sudah berakhir.
Gino menatap Bima yang berdiri tak jauh darinya, "Dia akan kembali kesini." Ucap Gino lalu kembali memasukan ponselnya kedalam saku.
"Kau tunggu saja dia sendiri, aku disuruh Mama supaya pulang cepat." Tutur Bima, "kau tak masalah kan?"
"Tentu. Pergilah, aku bisa pulang dengan cara terbang." Canda Gino.
"Aku pikir kau akan berenang." Jawab Bima yang menepuk pundak temannya itu. Lalu berjalan meninggalkannya yang berdiri didekat tiang.
"Aku pergi ya..." Bima menengok kebelakang.
"Hem," jawab Gino dengan anggukan.
Bima kembali berjalan, kemudian setelah beberapa langkah ia kembali berhenti dan menengok ke arah Gino.
"Aku pergi ya..." Ucap Bima lagi.
Gino mengambil sebuah traffic cone didekatnya dan siap untuk melemparkan benda itu pada Bima, "kau lakukan itu lagi, benda ini melayang ke wajahmu sebelum kau bicara!"
Bima kembali melangkah setelah mendengar ucapan Gino, "CK, dia sungguh pilih-pilih waktu untuk bercanda." Cetusnya dan segera masuk kedalam mobil dan keluar dari parkiran kampus.