ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Tahap Awal



Hari pun mulai petang orang-orang berjalan lalu lalang menuju tempat untuk istirahat dan mengumpulkan energi untuk besok kembali melakukan hal yang sama.


Diantara orang-orang yang berjalan di trotoar Zero berjalan seorang diri dengan menenteng sepatunya karena kakinya merasa tidak nyaman terlalu lama memakai sepatu yang basah.


"Kayaknya mampir untuk makan diluar bukan ide yang buruk." Zero melangkahkan kakinya menuju sebuah toko makanan cepat saji untuk memesan beberapa makanan.


"Permisi, saya pesan burger satu minumnya cola." Ucapnya lalu duduk ditempat duduk.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya pesanannya pun tiba dan Zero langsung membayar kemudian pergi. Saat akan meninggalkan toko, ia tak sengaja menabrak seorang pembeli.


"Maaf, saya tidak sengaja. Lainkali saya akan hati-hati." Ucapnya menunduk lalu pergi tanpa melihat ataupun mendengar jawaban seseorang yang merupakan seorang pria itu.


"Dia.." pria itu pun tak melanjutkan perkataannya dan kembali berjalan memasuki toko itu.


Sebelum duduk pria itu memesan makanan terlebih dahulu, "burger dengan French fries satu." Pesannya kemudian duduk disebuah meja yang menghadap jendela besar.


"Kenapa dia melepas sepatunya?" Gumam pria itu ketika melihat seorang wanita yang tadi menabrak dirinya berjalan sambil menenteng sepatu ditangan kirinya sambil memakan burger.


Pria itu terus memperhatikan wanita yang berjalan diluar yang tak lain adalah Zero dengan heran. Bagaimana tidak, seorang wanita jaman sekarang mana ada yang berani memakai pakaian seperti itu atau lebih tepatnya percaya diri. Apalagi dengan rambut berantakan seperti singa begitu.


"Silahkan tuan."


Lamun pria itu terbuyarkan oleh seorang wanita yang membawa pesanannya itu. "Terimakasih."




Setibanya dirumah Zero langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang seharian ini belum terkena air.



"Ah, akhirnya aku cantik juga setelah seharian ini seperti gembel." Ucapnya sambil bercermin dan mulai mengeringkan rambutnya.



"Tuhkan apa aku bilang, aku jauh lebih cantik daripada si cewe rese itu." Ucapnya sambil tersenyum melihat tampilan wajahnya yang cantik terpantul dicermin.



Setelah puas memuji-muji dirinya sendiri Zero alias Luzi pun keluar dari kamar mandi untuk merebahkan diri diatas ranjang. Namun ia terlebih dulu mencari benda pipih yang ia lupakan sejak dari tadi pagi.



"Sial. Ku lempar kemana tadi benda itu?" Zero menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung.



Drttt.....



Drtttt.....



"Ini dia, disini kau rupanya." Ucap Zero setelah meraba bawah tempat tidurnya.



"Astaga."



Luzi menutup mulutnya karena begitu terkejut saat mendapati yang menelpon dirinya adalah atasannya. Dan lebih terkejutnya lagi ada sekitar 20 panggilan tak terjawab dari orang yang sama.



"Ehem ehem." Luzi menstabilkan suaranya lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.



"Hello... Zero here"



"Hei! Kemana saja kau ini? Aku daritadi menghubungimu namun tak ada jawaban. Aku perlu laporanmu hari ini juga!" Teriak pria itu.



Zero yang tau akan diteriaki oleh atasnya itu lantas mendekatkan kembali ponsel miliknya yang sengaja ia jauhkan ke depan wajahnya.



"Aku tadi lupa membawa ponselku dan sekarang baru pulang." Jawabnya pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.



"Selalu saja seperti itu." Ketus pria dengan jabatan tinggi itu.



"Anu.. bisakah laporannya ku kirim lusa? Karena besok aku masih ada kegiatan pengenalan mahasiswa baru dan pasti akan sulit untuk pergi keruangan yang lain karena para senior akan mengawasiku."




Zero memutar bola matanya, "sial." Ucapnya pelan,"Lalu aku harus melaporkan apa jika penyelidikannya pun belum dilakukan?"



"Yasudah kalau begitu, tapi ingat janjimu. LUSA!" Ucap pria itu kemudian menutup telepon nya.



"Apa tidak masalah membiarkannya melakukan misi ini sendiri?" Tanya seorang pria setelah mengecap cangkir kopi miliknya.



Pria dengan usia yang hampir memasuki kepala lima itu lantas berjalan mendekati sofa lalu mendaratkan tubuhnya.



"Jika dia memerlukan bantuan, aku akan mengirimmu." Ucap pria berpangkat tinggi itu.



"Baik, komandan." Jawab pria dengan wajah rupawan dan rambut yang dicepak rapi itu sigap.



Ditempat berbeda seorang wanita dengan rambut hitam rapi sebahu itu tengah memperhatikan layar ponselnya.



"Dih, main tutup aja." Ucap Zero kesal sambil menyimpan ponselnya itu dan beralih pada laptop yang ada dimeja di samping tempat tidurnya.



Ia kemudian membuka sebuah web untuk mencari tahu mengenai hal yang terjadi di universitas GAZ tempatnya kuliah saat ini.



**Kasus universitas GAZ**


Itulah kata kunci yang tengah diketik oleh wanita dengan kode nama Zero itu. Beberapa artikel mengenai kasus di universitas itu pun mulai bermunculan mulai dari yang terdahulu sampai yang masih hangat dibicarakan.



...**Seorang siswi universitas GAZ tiba-tiba menghilang setelah dipanggil oleh pihak universitas**....


"***Beberapa Minggu yang lalu geger berita bahwa seorang siswi tiba-tiba menghilang setelah dipanggil oleh pihak universitas. Menurut orang tua korban anak mereka tidak menyebutkan dipanggil oleh siapa, ia hanya izin untuk pergi ke kampus tanpa memberitahu alasannya. Tanpa rasa curiga mereka pun mengizinkannya hingga akhirnya anak tercinta mereka tidak pernah kembali lagi setelah hari itu***."



"Jadi dia pergi ke kampus lalu menghilang? Berarti tempat yang harus diselidiki pertama adalah kampus." Gumam Zero sambil mengecap cola yang tadi ia bawa.



Zero kembali melanjutkan membaca paragraf demi paragraf hingga ia merasa ada sesuatu yang membuatnya heran.



"Kenapa polisi hanya menyimpulkan bahwa siswi itu hilang misterius daripada mengatakan kemungkinan yang terjadi pada siswa itu adalah diculik atau dibunuh?"



Zero dibuat heran dengan penyataan yang tertera di artikel itu. Ia kemudian pindah pada artikel kasus di universitas GAZ yang lain dan pernyataan dari polisi pun sama seperti sebelumnya. Tidak ada sangkut pautnya dengan universitas itu sendiri padahal sudah jelas bahwa hilangnya siswi itu saat akan ke kampus.



"Sepertinya aku harus mempertahankan penampilan ku yang tadi." Ucap Zero menyudahi pencariannya lalu mulai mempersiapkan kebutuhannya untuk besok kalau-kalau dia kesiangan lagi.



Semua kebutuhan untuk besok telah ia siapkan. Zero berjalan menuju tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya dan menutup kedua matanya yang sudah berair karena terus menguap.



"Huahhh,, seperti nya aku harus memasang dua alarm supaya tidak kembali sial seperti tadi." Ucapnya seraya mengatur alarm untuk bangun jam 05.30.



"Selamat tidur Luzi." Ucap Luzi pada dirinya sendiri hingga akhirnya ia terlelap.



.


.


.


.