ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Tidak ada tuntutan waktu



Pagi kembali datang setelah gelapnya malam berakhir. Tak seperti kemarin, hari ini cuaca cukup dingin dengan langit yang memutih karena terhalang oleh awan.


Dengan keadaan seperti ini tampaknya semua orang enggan untuk meninggalkan tempat tidurnya yang penuh akan kehangatan. Itu juga yang dirasakan oleh Luzi, wanita itu hanya menggeliat dan kembali mengeratkan selimut pada tubuhnya.


Kring,........


Kring.........


Bunyi alarm terdengar menggema diseluruh ruangan itu namun sang pemilik membiarkannya. Bukannya berhenti, suara itu malah semakin melengking ditelinga Luzi hingga wanita itu bangkit untuk membunuh benda itu.


"Kau berisik." Luzi melempar alarm itu dan menggusur tubuhnya untuk turun dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi.


Sekitar lima menit waktu yang dibutuhkan wanita itu untuk mandi. Kini ia berdiri didepan cermin dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.


"Sialan wanita itu, bisa-bisanya di sudah membawa gunting." Kesal Luzi. Ia kini memegang rambutnya yang belum disisir itu.


"Haruskah aku potong dirimu?" Luzi bertanya pada dirinya sendiri yang terpantul di cermin.


Saat asik bercermin, tiba-tiba ia ingat bahwa Gino kemarin datang dan bilang ingin menemuinya. "Kenapa dia Menemuiku?" Herannya.


"Tunggu dulu, kemarin dia tidak mengenaliku kan?" Panik Luzi. "Astaga, apa yang harus aku katakan padanya tentang diriku yang kemarin? Haruskan aku bilang dia adalah kakakku? Sepupu? Atau...... "


"Ah, sial. Memikirkan semua yang terjadi aku jadi pusing." Luzi mengacak-acak rambutnya.


Dirumah besar dengan suasana sepi, seorang pria baru saja selesai membersihkan dirinya. Dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut, serta tubuh yang masih meninggalkan jejak air membuat pria yang hendak membuka lemari itu begitu keren.


Deretan pakain yang digantung rapi perlahan ia geser untuk menemukan pakaian yang akan ia kenakan. Kaos putih dan kemeja berwarna light grey menjadi pilihan pria itu hari ini.


Setelah mengenakan pakaian, kini pria itu berdiri didepan cermin untuk merapikan rambutnya yang berwarna hitam lurus dengan gaya comma hair. Tak lupa juga ia semprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya untuk menambah kesan pria dewasa.


Kini pria itu berjalan keluar menuju meja makan untuk menyantap hidangan yang disiapkan oleh mamanya seperti biasa.


"Pagi, mah." Sapa Gino kepada mamanya.


"Pagi, sayang." Balas wanita yang masih sibuk di dapur itu.


Gino menarik kursi sebelum akhirnya ia duduk diatasnya. Kini pria itu sibuk dengan ponsel di genggamannya. Ia membuka aplikasi chat untuk melihat siapa saja yang memberinya pesan.


Jari jempol pria itu perlahan bergerak ke atas dan bawah seraya membaca pesan-pesan yang masuk ke ponselnya. Namun ia terkejut saat satu pemberitahuan pesan baru masuk ke ponselnya.


^^^*Aku dengar kemarin kau ingin Menemuiku, ada apa?" *^^^


Gino segera mengetik sebuah balasan.


^^^*Kita bertemu di^^^


^^^pemberhentian bus.*^^^


Pria itu lantas bangkit setelah mengirim pesan, dan hendak meninggalkan meja makan sebelum mamanya siap.


"Gino, kau akan berangkat sekarang?" Teriak mamanya saat mendengar suara kursi.


"Iya, aku ada urusan." Jawab Gino yang berlari kearah kamarnya untuk mengambil jaket yang cukup tebal karena diluar cuaca sepertinya lumayan dingin.


"Tapi mama belum menyiapkan sarapan untukmu, sayang." Mama Rena mencoba menahan putranya itu.


"Tak apa, mah. Aku akan makan dikampus," Gino berkata saat ia keluar dari kamarnya seraya meninggalkan mamanya yang berdiri tak jauh dari ruang makan.


Dibagasi, Gino membuka lemari yang berisi beberapa helm miliknya. Ia mengambil dua helm berwarna hitam dan merah kemudian memakai salah satu helm itu sebelum akhinya pria itu menunggangi kuda besi miliknya. Suara knalpot motor yang semula menggema di bagasi itu perlahan menjauh dari saat Gino melajukannya.




*One message*...



Luzi mengambil ponselnya dan mendapat balasan dari Gino. Setelah cukup keras tadi ia berpikir untuk apa pria itu menemuinya, akhinya ia memberanikan diri untuk bertanya dengan cara mengirim sebuah pesan.



Setelah membaca pesan dari Gino, Luzi melihat kearah jam yang menunjukan waktu masih cukup pagi. Lagipula pria itu juga tidak menentukan kapan waktu mereka akan bertemu. Ia berpikir bahwa pria itu akan mengirimi dirinya lagi untuk waktunya.



Ia kembali ke awal kegiatannya yang sedang beres-beres dirumah dan merubah sedikit penampilan rumahnya.




Satu ikat bayam dan beberapa buah wortel tergeletak didalamnya. Luzi pun segera mengambil sayur itu dan mencucinya sebelum memotong-motong dan mengolahnya menjadi sup.



Tok....



Tok.....



Tok.....



Tok.....



Tok......



"Siapa yang bertamu pagi-pagi?" Gerutu Luzi seraya membasuh tangannya dan berjalan untuk membukakan pintu.



"Siapa?" Tanya Luzi saat pintu terbuka. "Kau? Kenapa kau ada disini? Bukannya kita bertemu didekat pemberhentian bus?" Rencetan pertanyaan itu keluar dari mulut Luzi.



Gino memperhatikan penampilan Luzi dari atas sampai bawah. Berbeda, sungguh berbeda dengan wanita yang keluar dari rumah itu kemarin.



"Hei? Kenapa kau disini?" Teriak Luzi dan membuyarkan lamunan pria itu.



"Aku sudah menunggumu lama di pemberhentian bus, tapi kau belum juga tiba. Ternyata kau masih dirumah," keluh Gino.



"Itu salahmu sendiri karena tidak menentukan waktunya kapan," cibir Luzi.



Gino terdiam. Memang benar ucapan Luzi, bahwa dirinya tidak menentukan kapan akan bertemu. Tadi dirinya malah langsung berangkat karena takut terlambat dan membuat wanita kusut itu menunggu lama.



"Katakan? Kenapa kau ingin Menemuiku?" Tanya Luzi.



"Aku—" Baru mengatakan *aku* tiba-tiba suara perut kelaparan terdengar hingga membuat Gino dan Luzi menatap perutnya.



"Kau belum sarapan?" Tebak Luzi.



Gino menggeleng, "Baiklah, masuk dan duduklah. Kebetulan aku sedang memasak," Ajak Luzi.



Gino pun melangkahkan kakinya kedalam rumah Luzi untuk yang ke sekian kalinya. Namun kali ini isinya berbeda, ada beberapa barang yang diletakan secara berbeda dari sebelumnya.



"Duduklah dulu." Luzi mempersilahkan Gino untuk duduk terlebih dahulu sedangkan dirinya akan kembali ke dapur untuk lanjut memasak.