ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Hadirnya Seluruh Anggota



Usai dari ruangan komandan Jo, Luzi kini berjalan menuju ruangan yang terdapat anggota tim Aplomb didalamnya.


Mengingat kejadian kemarin saat rapat kedua, Luzi merasa sedikit gentar untuk menemui rekan timnya itu. Terlebih lagi untuk bertemu dengan Aidan, alias Five.


Luzi menguatkan dirinya dengan beberapa kali menghirup napas panjang kemudian memegang knop pintu lalu masuk ke dalamnya.


"Kenapa lama sekali? Kau tahu kita tidak suka menunggu." Celetuk Three yang tengah duduk diujung meja.


"Eril benar, kenapa kau sangat lama?" Tambah Six.


"Aku harus menemui komandan Jo sebelum kalian." Jawab Luzi gugup.


"Kenapa tidak menemui kami dulu?" Sahut One.


"Aku tidak tahu kalian menungguku, jadi aku pikir menemui komandan Jo adalah alasan aku datang ke sini." Tutur Luzi.


"Tentu saja kami menunggumu, David bilang kita akan bersatu kembali sebagai tim, Kan?" Seru Three kepada Five yang ada disampingnya terduduk sambil menatap ke arah Luzi.


Ditatap Five saat ini membuat wanita yang masih berdiri didekat pintu itu sedikit gugup. Bukan karena ia ada rasa pada pria itu, melainkan karena ia takut jika five akan menolak kembalinya tim aplomb seperti kemarin karena dirinya.


"Hem." Jawab Five singkat.


Wajahnya yang semula terdapat raut khawatir kini perlahan cerah dengan mulainya sebuah lengkungan senyum tergores diwajah Luzi. "Apa kalian sudah tahu alasannya kenapa semua dikumpulkan?" Tanya Luzi kemudian.


"Tentu saja. Kami akan membantumu menyelesaikan kasus itu!" Seru Nine yang kini menghampiri Luzi.


Luzi menatap semua wajah anggota tim Aplomb satu persatu. Saat mereka saling menatap para anggota tersenyum dengan anggukan tanda bahwa mereka setuju dengan keputusan komandan Jo untuk membawa kembali tim aplomb setelah beberapa purnama berhenti.


Namun saat ia menatap Five, pria itu malah memalingkan wajahnya hingga Luzi yang perlahan nyalinya siap maju kini kembali mundur.


"Aku Juga." Ucap Five kemudian.


Luzi yang mendengar ucapan Five merasa tidak percaya dan mencoba bertanya kepada rekannya dengan tatapan penuh tanya.


"Aku sudah bicara padanya, jadi kau tenang saja." Bisik Three.


"Terimakasih, Ril." Ucap Luzi dan dibalas anggukan.


"Kapan kita akan mulai diskusi? Aku sudah tidak ingin duduk lebih lama lagi." Gerutu Five.


"Yasudah kita mulai sekarang." Sahut Six yang hanya menyaksikan suasana yang kembali membaik itu.


Diskusi antara anggota kini dimulai. Karena Luzi yang lebih tahu tentang kasus ini jadi dia yang harus menjelaskan semuanya menggantikan nine yang biasanya menjelaskan kasus yang akan mereka tangani.


"Jadi kau sekarang mahasiswa?" Ucap Three dengan nada mengejek.


"Ya begitulah," jawab Luzi malu-malu onta.


"Kenapa kau menandai tempat ini? Apa ini ruang monitor itu?" Tanya Five yang memperhatikan denah jelek buatan Luzi.


"Entahlah, aku belum pernah masuk kesana karena pintunya terkunci. Dan sepertinya tempat itu memang benar tempat monitor." Papar Luzi.


"Apa hanya dia seorang yang kau curigai?" Sahut Six.


"Sejauh ini iya. Tapi aku juga belum tahu banyak tentangnya karena sulit bagiku melakukan semuanya seorang diri." Jawab Luzi.


Kurang lebih dua jam diskusi diruangan itu diadakan. Kini semua anggota telah tahu seluk beluk kampus itu dan siap memulai semuanya. "Baiklah, untuk diskusi kali ini cukup sekian. " Ucap Six menutup diskusi pertama tim aplomb dikasus ini setelah lama tidak melakukannya.




Diruangan kecil yang kuno tanpa adanya alat elektronik apapun, seorang wanita berbaring menyamping sambil melamun. Begitu tak berguna hidupnya saat itu yang hanya rebahan tanpa melakukan apapun dan makan makanan yang sudah disiapkan Ann untuknya.



Sudah pernah Ia mencoba mencari sesuatu dalam laci nakas yang dapat dia gunakan untuk mengganti rebahannya dengan hal yang sedikit bermanfaat.



Namun disana tidak terdapat apapun. Bahkan sebuah kertas untuk dibacapun tidak ada.



"Makan siangmu!" Ucap Ann menyimpan nampan berisi sup dan nasi dengan kasar ke lantai.



"Terimakasih, " jawab Lila. Ya wanita itu kini sudah mulai berbicara pada Ann sejak kemarin.



"Jangan menanyakan hal yang aneh-aneh jika kau masih ingin seperti ini!" Tegas Ann. Ia berbicara seperti itu lantaran kemarin Lila menanyakan ponselnya dan keberadaan mereka saat ini.




Ann terdiam sejenak untuk menimbang permintaan Lila. "Kau mau buku jenis apa?" Tanyanya kemudian.



"Aku ingin detective dan action." Jawab Lila.



"Baiklah, aku akan memberikannya padamu." Ann lentas pergi setelah Lila menghabiskan makanannya.



"Terimakasih, Ann." Ucap Lila.



Usai kepergian Ann, Lila segera berdiri dan berkeliling ruangan yang cukup besar bagi Lila dibanding kamar miliknya dirumah kedua orangtuanya.



Lila meraba-raba tembok yang digambari oleh gambar Flamingo hingga ia menyentuh sesuatu yang tampak berbeda dari dinding-dinding sebelumnya.



"Kenapa ini terdengar berbeda dengan dinding yang aku ketuk tadi?" Lila mencoba membandingkan suara yang dihasilkan dinding itu dengan sudut dinding yang lain.



"Apa ada sesuatu dibalik dinding ini?" Gumam Lila.



"Aku akan mencoba mengintipnya." Ujar Lila lalu mengambil benda tajam yang dapat digunakan untuk melubangi dinding itu.



Lila mengambil sikat gigi dari kamar mandi karena memang hanya benda itu yang tajam dari semua benda yang ada diruangan itu.



Dengan rasa kurang yakin Lila mengambil ancang-ancang untuk menghancurkan dinding itu. Sebelum melakukan aksinya, Lila kembali mendekati dinding itu lalu menendangnya dengan kaki kanannya hingga timbul suara.



"Ini sepertinya lunak." Ujar Lila.



Ia lalu menusuk dinding itu dengan ujung sikat gigi sekuat tenaga.



"Eh?" Heran Lila saat mendengar sebuah robekan namun suaranya berbeda dengan kertas saat dirobek.



"Ini bukan dinding?" Ucap Lila. Ia lalu mengintip kedalam lubang yang ia buat melalui sikat gigi meski lubang itu cukup besar dari sikat gigi.



" Apa yang ada didalam?" Lila mendekatkan matanya pada lubang yang ia buat. Bukannya semakin jelas, namun keadaan dibalik dinding lunak itu malah semakin buruk karena ruangan kekurangan cahaya dan sulit dilihat oleh mata.



Suara kunci yang hendak dibuka membuat Lila segera menutupi lubang itu dan bergegas kembali ke atas tempat tidur.



"Ini buku yang kau minta." Ann melempar dua buah buku ke atas Ranjang.



Lila yang tengah duduk sambil memegangi bantal lantas mengambil buku itu, "Terimakasih." Ucapnya kemudian.



"Kembali." Jawab Ann lalu pergi meninggalkan ruangan kuno itu.



Dua buah buku berjudul detective activity dan karate and girls yang diberikan oleh Ann langsung dibuka oleh Lila untuk ia baca. Pertama ia membuka buku detective activity karena ingin tahu bagaimana cara memecahkan masalah.