ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Usia sebenarnya



Setelah beberapa menit pingsan, akhinya mama Lila sadar. Kini pandangan matanya kosong. Pikirannya dipenuhi akan pertanyaan yang sama, dimana putriku? terus menerus seperti itu.


Tak terlihat seperti biasanya, wanita tua itu lebih banyak diam. Ia tak lagi mengajak orang-orang yang duduk disampingnya untuk berbicara atau bergurau bersama.


"Mama, Nanti kita cari Lila lagi." Ucap sang suami yang duduk disampingnya sambil menggenggam tangannya yang mendingin itu.


Masih dalam lamunan, wanita itu tak menggubris ucapan suaminya dan fokus pada penglihatannya yang kosong.


"Mah...." Panggil pria itu lagi.


"Kemana kita akan mencarinya?" Tanya wanita itu meski masih tak memalingkan tatapannya untuk menatap sang suami.


Diam. Pria itu hanya diam ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari istrinya itu. Tak ada satu kalimat pun dalam batinnya untuk menjawab pertanyaan itu.


"Kita pulang dulu, Miko pasti sudah menunggu dirumah." Ucap laki-laki itu mencoba membujuk istrinya dengan membawa anak bungsu mereka.


Wanita itu mengangguk setelah mendengar nama anak laki-lakinya yang masih duduk dibangku sma itu. Kedua orang itu kini berjalan keluar dari hotel menerjang hujan yang cukup deras menuju pemberhentian bus yang jaraknya hanya sekitar lima puluh meter dari hotel.


Beruntung saat mereka tiba di pemberhentian bus mereka bisa langsung menumpangi kendaraan tinggi itu karena kebetulan mobil itu tengah berhenti disana.




"Jadi apa yang daritadi kalian lakukan disini?" Tanya Bima yabg sekarang bergabung bersama Gino dan Luzi.



"Duduk." Jawab Gino.



"Makan." Jawab Luzi.



Gino menatap wanita yang duduk disampingnya itu, "Mana ada. Kau daritadi berbaring disini!" Seru Gino.



"Berbaring?" Bima menatap kedua orang itu bergantian. "Kalian tidur berdua?" Teriak Bima disertai wajah yang terkejut.



*Plak*.



Gino memukul bahu temannya itu, "Sembarang! Aku pria baik-baik. Mana mungkin aku meniduri wanita yang baru lulus sma."



**plak**.



Kini giliran bahu Gino yang dipukul oleh Luzi hingga pria itu memegang bahunya seraya menatap Luzi.



"Siapa yang yang baru lulus sma?" Tanya Luzi.



"Tentu saja kau!" Seru Gino.



*Plak*. Lagi-lagi Gino mendapatkan pukulan dari Luzi, "Kenapa kau terus memukulku?" Keluh Gino.



"Berapa usiamu?" Tanya Luzi kepada kedua pria itu.



"22 tahun, memang kenapa?"



"Aku juga 22 tahun." Timbal Bima.



Luzi tertawa kecil setelah mendengar jawaban dari kedua pria itu hingga mereka keheranan.



"Kenapa dia tertawa?" Gumam Gino dan Bima dalam hati mereka masing-masing.



"Tadi mengataiku anak baru lulus sma, ternyata kalian masih muda." Luzi kini malah tertawa.



Gino dan Bima saling menatap dan berkode bertanya apa hal yang membuat wanita itu tertawa.



"Memangnya usiamu berapa?" Tanya Bima.




"Hah?" Gino dan Bima kompak terkejut.



Luzi seketika menghentikan tawanya saat mendengarkan kedua pria itu kompak. "Kenapa?" Tanya Luzi setelah tawanya terhenti.



"*Dia bercanda?" Gumam Bima*.



"*23 tahun? Tapi penampilannya seperti anak smp." Ledek Gino dalam batinnya*.



"Bercandamu tidak lucu. Cepat katakan berapa usiamu sebenarnya!" Ucap Bima yang masih tak percaya dengan ucapan Luzi.



"Siapa yang bercanda? Usiaku memang 23 tahun." Tegas Luzi.



"Tapi.. penampilanmu seperti anak smp," celetuk Bima.



"Bahkan lebih parah." Lanjut Gino hingga Bima seketika menatap kearah temannya itu.



Luzi melihat penampilannya sendiri yang dia akui memang sedikit memalukan untuk dirinya yang sudah berusia 23 tahun. Tapi apa daya, dia melakukan ini semua karena tidak sengaja. Terlebih lagi malah membuatnya menjadi bahan dirinya untuk menyamar.



"Memangnya kenapa dengan penampilanku?" Luzi berdiri dan memutar dirinya supaya kedua pria itu dapat melihat penampilan.



"Bukan pakaianmu, tapi rambutmu!" Celetuk Gino.



Luzi memegang rambutnya."Sebenarnya ini bukan penampilan rambutku yang sebenarnya." Gumam Luzi dalam hatinya.



"Memangnya kenapa rambutku?" Tanya Luzi dengan tangan yang masih menyentuh rambutnya.



"Kau.... Kau tidak punya cermin? Rambutmu itu cukup berantakan." Bima berbicara hati-hati karena takut akan menyinggung wanita yang ternyata lebih tua dari dirinya.



"Punya, tapi aku cukup suka dengan rambutku yang alami ini." Kilah Luzi. Padahal jelas-jelas wanita itu membenci penampilan rambutnya yang berantakan itu.



Gino dan Bima tercengang, "*percaya dirinya sangat tinggi." Batin kedua pria itu*.



"Lalu kenapa kau baru masuk ke universitas?" Tanya Bima penasaran.



"Kenapa kau menanyaiku seperti sedang introgasi?" Keluh Luzi.



"Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang dirimu," jawab Bima. "Tidak. bukan hanya aku, tadi kami berdua." Ralat pria itu.



"Eh? Kenapa jadi mengajakku?" Gino menatap Bima.



"Berisik. Kau juga pasti ingin tahu itu sebabnya kau diam untuk mendengarkan!" Cibir Bima.



Gino terdiam. Ternyata ia ketahuan oleh temannya sendiri jika dirinya tengah diam-diam mencerna apa yang sedang diobrolkan oleh Bima dan Luzi.



Luzi berdiri ketika menyadari bahwa hujan telah berhenti. "Aku duluan, bye." pamitnya dengan tangan yang melambai dan segera ia membuka pintu meninggalkan kedua pria yang tengah terduduk santai itu.



Luzi kembali mengeluarkan kepalanya, "Terimakasih." Ucapnya lalu kembali menarik kepalanya untuk masuk dan meninggalkan tempat itu.



"Astaga..." Gino segera bangkit, "kau tunggu disini, Aku akan segera kembali." Ucapnya kemudian.