ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Undangan makan malam



"Akhirnya kau datang juga." Ucap seorang pria yang tengah terduduk di lantai.


"Kau minum bersama klien?" Tanya wanita itu saat ia menghampiri pria yang memang hidup dibawah satu atap bersama dirinya itu.


Rendi menggeleng. "Lalu kau minum sendiri?" Tanya wanita itu lagi.


Lagi-lagi Rendi menggelengkan kepalanya hingga wanita dihadapannya itu penasaran akan sosok yang minum bersama dengan Rendi tadi.


"Aku minum bersama Bos." Ucapnya kemudian.


"Bukannya dia sedang ada urusan makanya menyuruhmu untuk menggantikannya?" Heran Ann.


Kini wanita itu meraih tangan Rendi kemudian menyimpannya di atas pundaknya untuk membantu pria yang sudah setengah sadar itu berjalan.


Rendi tak menjawab. Sudah terlalu banyak minuman dengan kadar alkohol yang tinggi dalam tubuh pria itu hingga untuk bicara pun ia sudah tak sanggup.


Kedua orang itu pun lantas keluar dari ruangan tempat makan yang menggunakan tema lesehan itu.


"Kau sangat berat ternyata." Keluh Ann karena ia berjalan dengan repot karena Rendi menuntunnya berjalan sempoyongan.


Rendi tiba-tiba menghentikan langkahnya dan segera membungkuk untuk memuntahkan semua isi yang sudah tercerna oleh perutnya.


Ann bergidik jijik melihat muntahan Rendi yang jelas-jelas terlihat oleh kdua matanya itu. "Sebenarnya kau minum berapa botol?"


Rendi mengangkat tangannya dan menjentikan setiap jari mencoba menghitung berapa banyak minuman yang ia habiskan.


"Tiga." Ucapnya kemudian.


"Lalu bagaimana dengan si bos? Apa dia juga mabuk berat? Jika benar, dengan siapa dia pulang?" Rencetan pertanyaan keluar dari mulut Ann.


Jujur saja, sebenarnya ia datang ke tempat itu bukan semata-mata hanya untuk menjemput Rendi. Melainkan karena ia juga penasaran dan ingin melihat sang rekan bisnis, namun ternyata sang bos yang dikatakan lebih muda dari Rendi juga ada disana. Tapi malang, ia tidak memiliki kesempatan untuk menemui sang bos.


"Dia hanya minum satu gelas. Jadi bisa pulang sendiri." Tutur pria itu.


Bagaiama bisa pria itu hanya minum satu gelas wine sedangkan Pria yang ia bantu untuk berjalan telah menghabiskan tiga botol wine. Hal itu membuat Ann semakin penasaran dengan sosok bos muda yang selalu Rendi ceritakan padanya.


Bagaimana tidak penasaran, semenjak ia ikut bekerja dengan Rendi, Ia tidak pernah sekali pun melihat bosnya itu. Bahkan namanya saja ia tidak tahu, ia hanya membayangkan sosok bosnya itu melalui imajinasinya sendiri.


Tak jarang rasa penasarannya itu selalu membuatnya memaksa untuk ikut rendi saat akan menemui sang bos. Namun selalu saja permintaannya itu ditolak oleh Rendi.


"Dimana mobilmu?" Tanya Ann setelah mereka tiba di parkiran.


Rendi merogoh saku jasnya lalu memberikannya pada Ann. "Astaga, Dia sungguh menyusahkan." Gerutu Ann.


Wanita itu kemudian menekan sebuah tombol hingga sebuah mobil yang tak jauh dari dirinya berbunyi. Ann pun lantas menarik Rendi untuk masuk ke dalam mobil.


Usia memasangkan seatbelt pada pria itu, Ann pun berjalan melintasi mobil itu lalu masuk kedalam untuk melajukan kendaraan beroda empat itu. Untung saja tadi ia datang ke tempat itu menggunakan transportasi umum. Karena hal yang ia pikirkan ternyata benar, Rendi terkapar dalam keadaan mabuk berat dan tidak dapat mengemudi.




Luzi berjalan seorang diri menyusuri trotoar jalan karena dirinya dan Aara berpisah sejak keluar dari toko parfum tadi disebabkan jalan menuju rumah mereka berbeda arah.



Dengan masker yang terpasang di wajahnya membuat Luzi sedikit leluasa melakukan apapun karena saat itu tidak ada seorang pun yang akan mengenali dirinya.



*Check messages*!



Dering ponsel milik Luzi membuat wanita itu menghentikan langkahnya untuk mengecek alasan mengapa benda itu berbunyi.



Ternyata sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselnya.



^^^**°perilaku tadi siang aku tidak bermaksud ^^^


^^^melakukan hal ^^^


^^^yang kurang ajar.^^^


^^^ Kau salah paham.°**^^^



Setelah membaca pesan itu, Luzi pun lantas mengetik sebuah balasan.



^^^**°aku sudah tahu. ^^^


^^^Anggap itu tidak ^^^


^^^pernah terjadi dan^^^


^^^ lupakan!°**^^^



Luzi kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah dan segera beristirahat. Jujur saja jika tidak ada hal yang perlu ia beli, ia sangat enggan pergi keluar rumah apalagi dengan cuaca yang sulit diprediksi seperti saat ini yang bisa turun hujan kapan saja.



*Check messages*!



^^^**°Aku ingin ^^^


^^^menebusnya**. ^^^


^^^ **Datanglah ^^^


^^^besok makan ^^^


^^^malam ^^^


^^^di rumahmu! °**^^^



"Bukannya jika mengundang seseorang seharusnya dirumah yang mengundang? Kenapa dia malah mengundang diriku makan dirumahku sendiri?" Gumam Luzi.




Luzi melihat ke kiri dan kanannya sebelum akhirnya ia duduk dibangku tempat biasa orang-orang saat menunggu kedatangan bus.



Terpaan angin malam menambah rasa sejuk hingga sepertinya akan menusuk sampai rusuk jika saja seseorang tidak mengenakan mantel.



"Malam ini dingin sekali." Ucap Luzi seraya memeluk dirinya sendiri.



Ia kemudian melihat dua wanita muda duduk disampingnya dengan tujuan yang sama, yaitu menunggu bus tiba. Luzi memberanikan diri untuk menyapa para wanita itu, namun ia keduluan oleh seorang pria yang entah darimana tiba-tiba datang.



Sejenak Luzi berpikir bahwa pria itu adalah kekasih salah satu wanita muda itu. Namun ternyata dugaannya salah ketika pria itu berteriak pada mereka.



"Serahkan tas kalian!" Tegas pria yang mengenakan masker kain yang hanya menyisakan matanya saja.



Kedua wanita itu sontak berdiri begitu juga dengan Luzi yang ikut berdiri. Para Gadis itu mulai panik dan hendak berteriak namun mereka urungkan karena pria itu menodongkan senjata tajam pada mereka.



"Hentikan tindakanmu!" Tegas Luzi seraya mendekati pria perampok itu.



"Mundur! Atau aku akan melukaimu!" Ancam pria itu dengan senjata tajam yang ditodongkan bergantian kepada Luzi dan para gadis. Bukannya mundur, Luzi malah semakin mendekatkan dirinya pada sang perampok.



"Aku bilang mundur!" Perampok itu semakin panik saat beberapa orang mulai berkerumun di tempat itu karena teriakannya sendiri.



Orang-orang yang semula berlalu lalang menghentikan langkahnya sebentar lalu ikut berkerumun untuk menyaksikan keributan yang terjadi ditempat pemberhentian bus itu.



Kepanikan semakin mengguncang perampok yang beraksi seorang diri itu saat tangan yang menodongkan senjata terlihat gemetaran.



Tanpa pikir panjang ia langsung menyeret salah satu gadis yang berada didekatnya untuk dijadikan sandera. Melihat temannya menjadi sandera membuat teman wanita yang disandera berteriak sebelum akhirnya lari menjauh dari perampok itu.



"Jangan berani mendekat atau aku akan merobek lehernya!" Ancam Pria itu.



Mendengar ucapan pria itu lantas membuat wanita yang menjadi sandera panik dan menangis meminta pertolongan pada orang-orang yang berkerumun itu.



Namun bukannya menolong, orang-orang itu semakin mundur karena takut jika ancaman yang dikatakan oleh sang perampok terjadi pada gadis muda yang menjadi sandera.



"*Cepat panggil polisi*!" Teriak seseorang hingga sang perampok yang semula mulai tenang kembali panik.



"*Iya, benar*. "



"*Benar, panggil polisi supaya ini cepat selesai. Kasihan gadis muda itu*!"



Luzi yang mencoba memanfaatkan ketenangan perampok itu untuk ia melumpuhkan kembali ia urungkan karena ocehan seseorang tadi hingga membuat orang-orang ricuh.



"CK. jika ingin panggil polisi, panggil saja. Kenapa harus berteriak?" Kesal Luzi dalam hatinya.



"Jika sampai polisi tiba disini, aku pastikan leher wanita ini putus!" Tegas perampok itu hingga para warga yang semula ricuh seketika diam menghening.



"Sial. Aku bahkan tidak membawa apa-apa ditanganku." Keluh Luzi.



Wanita yang berprofesi sebagai polisi itu lantas mematung memikirkan cara yang tepat untuk menyelamatkan sandera.



Luzi pun mendekati teman wanita yang menjadi sandera itu lalu membisikan sesuatu padanya.



"Kau mau kan?" Tanya Luzi setelah berbisik.



.


.


Halo Reader... Aku LaruArun sangat Terimakasih kepada kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca karyaku.



Jika kalian menyukainya, jangan lupa tinggalkan jejak like atau comment karena itu membuat aku semakin bersemangat melanjutkan ceritanya.



sekali lagi terimakasih,❤️