ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Ternyata pencuri



"Jika tidak percaya kenapa bertanya!" Kesal Gino yang kini mengutuki ponselnya.


"Bima?" Tebak Luzi.


Gino mengangguk lalu mengambil kantung keresek yang berisi makanan. Ia mengambil makanan ringan rasa barbeque lalu membukanya.


"Kamu mau?" Tawar Gino seraya menyodorkan makanan itu pada Luzi.


Luzi mengambil beberapa potongan berbentuk segitiga itu lalu memakannya, "kau pasti membeli ini sebelum hujan," tebaknya.


"Memangnya kenapa?"


"Karena supermarket ada disebrang gedung ini, jadi kau pasti memerlukan payung. Sedangkan disini tidak ada payung," Jelas Luzi setelah mata berkeliling untuk mencari payung yang masih basah.


Gino menggeleng, "aku tidak membeli ini."


Luzi yang asik memakan makanan itu seketika berhenti, "kau mencuri? Kupikir kau kan orang kaya, karena pernah mentraktirku makan siang."


"Mentraktimu? Kapan?" Tanya Gino heran. Karena setahunya ia tidak pernah mentraktir Wanita didepannya itu.


Luzi seketika panik karena ia baru saja keceplosan mengenai dirinya yang berpenampilan berbeda saat bertemu Gino di restoran waktu itu.


"Mmm.... Saat... pulang dari kampus. Ya, waktu itu kau kan mentraktirku." Ucap Luzi yang kini tersenyum pada Gino.


"Itu bukan aku, tapi Bima."


"Ah, sama saja kan?" Kilah Luzi.


Gino menatap Luzi yang terus mengambil makanan ringan dari tangannya. "Dia belum sadar jika ini makanannya," Batin Gino


"Tunggu dulu," Luzi mengambil makanan ringan dari tangan Gino ketika ia melihat sebuah kresek berisi makanan manis yang tak asing bagi dirinya.


"Ini milikku!" Teriak Luzi dan segera menutup rapat makanan itu. Tak lupa juga ia amakan sisa makanan yang masih ada didalam kresek.


"Kau ternyata perncuri!" Teriak Luzi namun teriakannya masih kalah dengan Suara hujan.


"Sembarang. Aku anak baik-baik!" Sargah Gino. Ia tak terima dicap pencuri oleh wanita kusut itu.


"Buktinya kau mengambil makananku." Seru Luzi tak mau kalah.


"Harusnya kau berterimakasih karena makanannya tidak aku tinggalkan disana." Gino menunjuk pada bangku yang sudah basah dimana itu merupakan tempat terakhir makanan itu berada.


Luzi terdiam sebelum kemudian berkata, "baiklah, terima kasih." Ucapnya seraya memakan makanan ringan itu.


"Aku tidak butuh terimakasih, aku mau itu." Gino menghampiri Luzi dan berusaha untuk merebut makanan ringan itu dari tangan Luzi.


"Eits.... Jika kau mau, beli sana!" Cetus Luzi yang memasukan makanan ringan itu perlahan ke dalam mulutnya supaya Gino semakin ngiler.


Gino membuang wajahnya dan perlahan melangkahkan kakinya menjauh dari Luzi.


"Dapat." Ucap Gino setelah ia berhasil mengelabui Luzi dan merebut makanan itu.


Luzi segera berdiri untuk merebut makanan miliknya dari tangan Gino yang sengaja pria itu angkat supaya ia kesulitan menggapainya.


"Kembalikan makananku!" Teriak Luzi yang melompat-lompat mencoba menggapai tangan Gino yang bahkan jauh dari tangannya.


"Ambillah jika bisa." Ledek Gino.


Tak putus asa, Luzi masih terus berusaha untuk mencapai tangan Gino tanpa ia sadari bahwa pria itu tengah memperhatikan wajahnya.


"Ehem... Pantas saja kau tidak kutemukan di kampus, ternyata kalian sedang berkencan." Ucap Bima yang sudah beberapa menit berdiri dipintu atap melihat mereka berdua.


"Kami tidak berkencan!" Tegas Gino menatap Bima hingga membuat Luzi mendapatkan kesempatan untuk mengambil kembali makanannya.


"Dapat!" Seru Luzi.




Selang infus yang semula melekat ditangannya kini telah dilepas beberapa saat yang lalu oleh Ann. Kali ini Lila sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa.



Tak jauh dari hari-hari sebelumnya, Lila masih belum bisa keluar dari ruangan itu semaunya karena Ann selalu menguncinya dari luar.



Lila berjalan mendekati cermin di dalam kamar mandi. Menatap malang pada dirinya sendiri sambil memegang cermin itu ia berkata, "Mama, ayah, aku kangen kalian..." lirih Lila dengan mata yang mulai berair kemudian mengalir begitu saja saat ia tak lagi kuat membendung.



"Kalian pasti sekarang sedang mencari-cari aku." Lila semakin tak kuat menahan air matanya lagi. Ia segera mengunci pintu kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya.




Lila memeluk lututnya untuk ia jadikan tumpuan kepalanya. Namun ia urungkan saat baru beberapa derajat ia angkat lututnya, ia langsung meringis kesakitan karena bekas operasinya masih belum benar-benar kering.



"Aw..." Lila kini beralih berselonjor dan menyandarkan kepalanya pada lemari yang ada dibawah wastafel.



Di luar kamar mandi, seorang wanita baru saja tiba disana dengan membawa nampan yang bersisi makanan untuk Lila.



"Kemana dia?" Ucapnya saat ia tidak dapat melihat wanita muda itu setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.



Pintu kamar mandi yang tertutup rapat membuat wanita itu tersenyum lalu menghampirinya.



Brugh...



Ann menendang pintu kamar mandi itu begitu keras. "Keluar!" Teriaknya.



Lila yang duduk dibalik pintu langsung meringis kesakitan karena tendangan Ann langsung sampai pada punggungnya. "Aww.... dasar wanita jahanam!"



Sambil menahan rasa sakit Lila mencoba berdiri lalu mengusap wajahnya yang masih meninggalkan bekas kesedihan diwajahnya.



Untuk menyamarkan bahwa dirinya tengah menangis, Lila membasuh wajahnya dengan air sebelum akhirnya membuka pintu.



"Kupikir kau kabur." Ucap Ann saat Lila membuka pintu.



Tak menggubris ucapan Ann, Lila memilih berjalan melewati wanita itu menuju tempat tidurnya.



Brak..



Ann melemparkan nampan yang ia bawa tadi ke lantai hingga semua makanan kini berserakan dilantai. Wanita itu berjalan mendekati Lila kemudian menjambak rambut wanita itu.



"Kau anak tidak tahu sopan santun! Aku susah payah menyiapkan semua itu tapi kau malah acuh kepadaku." Geramnya.



Lila hanya memegangi rambutnya supaya jambakan wanita tua itu tidak terlalu menyakitkan bagi dirinya. Lagi, Lila melakukan itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.



"Kau masih tidak mau bicara?" Teriak Ann yang kasabarannya sudah diambang menuju puncak.



Sikap Ann yang semakin ganas dan berani bertindak kasar, membuat Lila semakin enggan berkata dengan wanita itu karena ia sudah melihat sisi buruk dari wanita yang pernah ia anggap baik itu.



"Jika bukan Rendi yang menyuruhku untuk melayanimu, aku tidak akan mau!" Tegas Ann yang kini melepaskan rambut Lila dan pergi meninggalkan ruangan yang berantakan itu.



Lila tertegun saat mendengar nama yang tak asing baginya. "*Apa Rendi yabg dia maksud adalah orang yang aku kenal*?"