ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Private Party



Setelah menguping pembicaraan seorang pria yang ia temui dikampus dengan seorang polisi, Luzi pun lantas bergegas pulang ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motornya.


Pikiran dan hatinya saat ini saling bertolak belakang. Dipikirannya ia merasa bersalah dan memikirkan perasaan Five yang kehilangan One karena dirinya. Sedangkan hatinya merasa senang karena setelah beberapa bulan tak bertemu akhinya ia kembali bersama anggota tim Alpomb.


Lampu merah yang menyala sekitar satu menit kini telah berubah menjadi hijau. Saatnya semua kendaraan melaju kembali setelah berhenti sesaat. Luzi yang baru saja melajukam motornya tiba-tiba berhenti hingga ia merasa heran.


"Kenapa tiba-tiba berhenti?" Ucapnya heran.


Ia mengecek isi bensin motor itu yang ternyata bukan alasan mengapa motor itu berhenti. Entah apa yang terjadi dengan kendaraan itu. Mungkin karena jarang digunakan sehingga membuat mesinnya cepat rusak.


Luzi turun dari motornya lalu mulai mendorong kendaraan itu menuju bengkel terdekat.


Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk Luzi tiba di bengkel. Ia lalu menyetandarkan motor itu kemudian berjalan menuju sebuah minimarket disamping bengkel itu untuk membeli minuman dingin.


"Motornya kenapa?" Tanya seorang montir.


"Aku tidak tahu, dia tiba-tiba mati." Ujar Luzi setelah ia kembali dari minimarket.


"Aku akan melihatnya, tunggulah di sana." Ucap Montir itu menunjuk sebuah meja di bagian dalam.


"Aku sepertinya punya teman di daerah sini." Gumam Luzi dan melihat-lihat sekeliling tempat itu.




Dikampus Gino berjalan bersama temannya Bima menuju kantin untuk makan siang karena mereka masih ada kelas jadi kedua pria itu memutuskan untuk makan di kampus.



Seperti biasa, cara memesan makanan dikantin adalah dengan cara prasmanan. Banyak pilihan makanan yang berbeda disetiap harinya hingga para mahasiswa tidak cepat bosan dengan menu yang itu-itu saja.



Bima mengambil mangkuk karena ia kebetulan ingin makan sayuran dan berkuah, sedangkan Gino mengambil piring dengan dua lauk yang menemani nasinya.



"Nanti malam kau mau ikut denganku tidak?" Tanya Bima setelah mereka berdua menemukan tempat untuk duduk.



"Aku sudah ada janji. Jadi lainkali saja," Jawab Gino seraya memasukkan sendok ke dalam mulutnya.



"Dengan siapa?"



"Orang." Ketus Gino.



"Aku tanya dengan siapa, bukan dengan apa." Kesal Bima.



"Seseorang." Jawab Gino disela-sela ia mengunyah makanannya.



"Mmm, Pasti ibumu." Ledek Bima. Gino hanya menatap rekannya itu dan kembali menikmati makan siangnya.



Usia menyantap makan siangnya, kedua pria itu berjalan bersama untuk kembali ke kelasnya masing-masing.



"Bim, duluan." Ucap Gino pamit lalu masuk ke kelasnya karena memang jarak kelas Gino dan kantin lebih dekat daripada kantin dengan kelas Bima.



"Gino!" Panggil seseorang.



Gino pun berbalik lalu menatap seorang pria yang berjalan ke arahnya. "Ini undangan untukmu!" Ucap pria bertopi yang merupakan ketua organisasi di kampus itu.



Gino mengambil secarik kertas yang diberikan Eren padanya lalu membacanya. "Kau akan mengadakan party?"



"Hem." Jawab Eren disertai anggukan kepalanya, "jangan lupa datang!" Tegas Eren Lalu pergi menuju kursi duduk tempatnya biasa berada.



"*Private party*?" Gumam Gino. Ia tak memperdulikan undangan itu dan memasukannya ke dalam saku tasnya lalu berjalan menuju tempatnya duduk.



Sekitar dua puluh menit para mahasiswa berada dikelas tanpa melakukan pembelajaran karena sang dosen belum juga tiba.



"Kenapa Dosen killer itu belum juga tiba?" Celetuk seseorang.



"Mungkin ikat pinggangnya tidak muat." Sahut seorang lagi hingga beberapa mahasiswa terdiam karena tidak mengerti apa maksud perkataan temannya itu.



"Apa maksudmu?"



"Maksudku mungkin dia tidak bisa mengikat pinggang karena perutnya sudah sangat besar." Jelas pria tadi lalu tertawa begitupun dengan teman-temannya.



Ting!.... Ting!.... Ting!....



Seorang pria berdiri diambang pintu sambil memegang sebuah pulpen yang sengaja ia ketukan ke dinding hingga menghasilkan bunyi supaya kelas yang semula berisik menjadi sunyi.



"Siapa yang perutnya sangat besar?" Tanya pria itu.



"Dia." Ucap pria yang tadi mencemooh dosen killer itu dan lantas menunjuk seorang pria yang kebetulan memiliki tubuh yang lebih berisi.



"Oh," pria yang berdiri itu membulatkan mulutnya. Ia kemudian masuk kedalam kelas dan mulai membuka laptopnya untuk memulai pelajaran. Benar, pria yang berdiri diambang pintu adalah dosen killer yang mereka maksud.



"Maaf saya datang terlambat karena ada kepentingan." Ucap pria itu dan segeralah memukau pelajaran.



"Apa itu mengenai—" celetuk seorang pria seraya menunjuk perut besar dosen killer itu.



"Kau!" Ucap pria itu hingga seluruh mahasiswa dikelas itu tertawa.



"Sutt! Kita mulai sekarang." Ucap dosen killer itu kemudian.



Sekitar dua jam dosen killer itu berada dikelas Gino. Kini akhirnya ia memberi ucapan penutup pembelajarannya dan pergi meninggalkan kelas.



Tak sabar menunggu malam, Gino segera merapikan barang-barangnya dan pergi meninggalkan kelas menuju parkiran untuk menunggu kedatangan temannya Bima dan pulang bersama.




Luzi menutup mulutnya yang terbuka akibat menguap karena sudah sangat lama ia menunggu motornya itu selesai. Dengan seragam yang masih ia gunakan membuatnya sedikit kedinginan karena cuaca saat itu kebetulan cukup dingin dan ia menggunakan rok selutut.



"Anu... Apa masih lama?" Tanya Luzi setelah ia menghampiri montir yang mengurus motornya.



"Sepertinya kau harus mengambil motor ini besok," ujar montir itu.



"Hah?" Luzi tak percaya apa yang diucapkan montir itu. Jadi sia-sia saja dia menunggu jika motor itu haru ia ambil besok.



"Tenang saja, aku tidak akan mencurinya." Celetuk pria itu setelah melihat Luzi dari atas sampai bawah yang mengenakan seragam polisi.



"Bukan itu maksudku," Kilah Luzi.



"Lantas?" Tanya pria yang menghentikan aktivitasnya membongkar mesin motor Luzi.



"Apa kau tahu penjual pakaian disini?" Tanya Luzi mengalihkan pembicaraan awalnya.



"Ada," Jawab montir pria itu. "Lurus ke depan bengkel ini." Lanjutnya.



"Oh, terimakasih. Aku titip motorku, ya." Ucap Luzi lalu berjalan menuju tempat yang ia tanyakan tadi.



Hampir dua kilometer Luzi berjalan dari bengkel namun ia masih belum juga menemui toko pakaian yang dimaksud pria itu.



Dengan napas yang terengah-engah Luzi berkacak pinggang, "Apa montir itu benar jika disekitar sini ada toko pakaian?"



Setelah berhenti sejenak, Luzi kembali melangkah hingga ia menemukan sebuh tempat yang cukup ramai oleh anak-anak muda dan juga orang pacaran.



"Kenapa tempat ini bergitu ramai?" Gumam Luzi. Karena penasaran ia mempercepat langkahnya untuk melihat apa yang sedang terjadi.



Sebuah lapangan yang cukup besar dipenuhi oleh cahaya lampu yang warna-warni dan tenda-tenda serta beberapa wahana mainan terdapat disana. Ternyata yang dimaksud montir itu adalah pasar malam.



"Jadi maksud montir itu pasar malam?" Ucap Luzi.



Ia tidak tahu bahwa terdapat pasar malam didaerah itu karena ia jarang melewati jalanan ini. Sekarang pun jika tidak ditunjukan oleh sang montir ia tidak akan tahu ada pasar malam ditempat itu.



Luzi melangkahkan kakinya masuk ke area pasar malam itu. Namun sebelum masuk, ia dicegat seorang pria untuk membeli tiket sebelum masuk ke lapangan itu.



Mata Luzi berkeliling memperhatikan tempat yang ia sering datangi bersama teman-temannya di masa lalu. Termasuk bersama sang partner.



Sebuah toko mantel menarik perhatian Luzi untuk masuk kedalamnya dan memilih-milih. Ia menunjuk beberapa pasang mantel untuk ia pilih salah satunya.



"Baru habis bertugas, ya? " Ucap seorang pemilik toko.



"Iya," jawab Luzi dan kembali memilih antara mantel berwarna navy atau mantel berwarna hitam.



"Saya ambil yang ini." Ucao Luzi menyodorkan mantel hitam selutut yang ia pilih kepada pemilik toko untuk dihitung.



"Totalnya 300." Ucap pria itu.



"Apa tidak bisa kurang? Uangku hanya ada 200, Aku belum menerima gaji bulan ini." Keluh Luzi dan memperlihatkan lembaran uang dari dalam sakunya kepada pemilik toko.



"Baiklah, deal." Ucap sang pemilik toko, "apa ingin dibungkus?" Tanyanya.



"Tidak perlu, aku akan memakainya."



"Baiklah,. Terimakasih." Ucap pemilik toko.



"Terimakasih kembali." Ucap luzi lalu pamit.



Ia kini melirik belakang kakinya yang memerah dan perih karena berjalan jauh sehingga kulit kakinya mengelupas akibat bergesekan dengan sepatu pentofel yang ia kenakan.



"Aww..."



Luzi melepas sepatunya dan memilih berjalan tanpa alas kaki menuju stasiun kereta api.



Orang-orang yang dilewati oleh Luzi memperhatikan dirinya yang berjalan dengan tangan yang menenteng sebuah sepatu. Untung saja mereka mengira bahwa Luzi seorang mahasiswa karena seragamnya tertutup oleh mantel yang ia beli.



"Kenapa mereka menatapku seperti itu?" Gumam Luzi yang kembali menatap orang yang menatapnya.



"Kau tidak lihat baretku?" Ucap Luzi pelan seraya memegang kepalanya yang ternyata tidak terdapat apapun diatas sana.



"Astaga, baretku...." Luzi panik saat baret kebanggaannya tidak terpasang dikepalanya. Pantas saja orang-orang menatapnya begitu karena memang dirinya seperti mahasiswa yang kehilangan akal dengan berjalan tanpa alas kaki. Bukan sebagai polisi wanita.



"Apakah tertinggal di pasar malam?" Pikir Luzi.



Untuk membuktikan pemikirannya, ia pun lantas kembali ke pasar malam itu untuk memeriksanya.