ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Akhinya Aku Yakin



Suara hujan yang turun cukup deras membuat Luzi semakin menggulung selimutnya untuk menutupi dirinya. Suara dering alarm yang ia tunggu akhirnya berbunyi dan ia pun perlahan bangkit untuk mematikannya dan bersiap untuk berangkat ke kampus.


Usai mengecek ponselnya untuk melihat jadwal kelasnya, Luzi kemudian merangkak untuk turun dari ranjangnya dan membersihkan diri.


Dengan kepala yang lumayan pusing, Luzi memutar kepalanya ke kiri dan kanan untuk menghilangkan rasa berat disertai pening di kepalanya. Tak lupa ia juga meregangkan tubuhnya terlebih dahulu didepan pintu kamar mandi sebelum masuk kedalamnya.


Suara gemericik air terdengar ditelinga Luzi, "Hujan diluar cukup deras ternyata." Ujarnya.


Ia lalu memegang pintu didepan dan hendak masuk namun seseorang tiba-tiba keluar dari dalam sana. "Ahh......." Teriak Luzi dan segera menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Kenapa pagi-pagi kau sudah ada dirumahku?" Tanya Luzi pada seorang pria yang bertelanjang dada itu.


Sebelah alis pria itu terangkat, "bukannya kau sudah mengijinkanmu melakukannya?" Ucap Gino.


Mata Luzi yang baru bangun lantas terbuka lebar mendengar ucapan Gino, "Melakukan apa?" Tanyanya dengan tangan yang berangsur kembali ke tempatnya.


"Tidur dirumahmu. Semalam hujan turun lebat jadi aku tidak bisa pulang, memangnya melakukan apa?" Ucap pria itu.


Luzi tak menjawab pertanyaan Gino. Kini ia sibuk melihat kulit bersih yang masih basah karena baru selesai mandi pria itu. Ditambah lagi otot-otot dibeberapa bagian tubuhnya, semakin menambah seksi pada pria itu hingga Luzi menelan ludahnya.


"Apa semua tubuh pria seperti ini?" Batin Luzi. Sebab ini pertama kalinya ia melihat seorang pria keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dirumahnya.


Gino melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Luzi yang masih berpenampilan acak-acakan itu. Namun Luzi belum juga tersadar dari lamunannya hingga akhinya Gino menutupi wajah Luzi dengan tangannya yang dingin.


"Gino, apa yang kau lakukan?" Kesal Luzi setelah ia melepaskan tangan pria itu dari wajahnya.


"Kau yang sedang apa?" Ucap pria itu lalu berjalan menjauh dari Luzi yang mematung didepan pintu kamar mandi.


"Aku.... Aku sedang.... Menunggumu pindah dari depan pintu." Ucap Luzi gugup dan segera masuk kedalam kamar mandi.


"Astaga, kenapa aku gugup begini?" Luzi memegang kedua pipinya yang sepertinya berubah warna menjadi merah.


"Tunggu, dia tidak macam-macam padaku semalam kan?" Pikir Luzi. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Namun ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.


"Tapi sepertinya aku tidak merasakan apapun," Luzi menggerakkan tubuhnya dan tidak ada rasa sakit sama sekali.


"Berarti semalam aman." Luzi memegang dadanya dan bernapas lega.


Diluar kamar mandi, Gino kini sudah memakai pakaiannya dengan lengkap seperti kemarin saat ia datang untuk makan malam karena ia tidak membawa pakaian ganti dan kalaupun meminjam milik Luzi, pasti tidak akan muat karena tubuhnya dua kali lebih besar dari tubuh Luzi.


Ia lalu berjalan keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Namun niatnya ia urungkan saat ia melihat sebuah Poto yang dipajang di kamar Luzi.


Poto dua orang wanita tengah menikmati pemandangan sebuah pantai dan memunggungi kamera. Keduanya tampak sama dengan rambut sebahu seperti rambut baru Luzi sekarang.


"Apa mereka kembar?" Gumam Gino pelan. Anehnya, hanya satu Poto yang terpasang didalam ruangan pribadi itu. Tak ada poto Luzi bersama keluarganya ataupun ketika wanita itu kecil.


"Kau sedang apa?" Tanya Luzi saat ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Gino tengah memandangi Poto.


"Kau kembar?" Celetuk Gino tiba-tiba.


"Tidak." Jawab Luzi singkat.


"Lalu siapa orang dipoto ini?"


Luzi menengok ke arah Pria itu berdiri, "Itu temanku." Jawabnya lalu mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.


Mendengar jawaban Luzi, Gino tak lagi penasaran dan kembali pada tujuan awalnya yaitu ke dapur mengambil air minum.


Didapur, setelah ia menuangkan air dan meminumnya ia bersandar pada meja tempat kompor. "Apa dia orang yang sama?" Batin Gino.


Ia mencoba mengingat kembali kejadian dua tahun lalu dimana dia bersama seorang wanita didalam ambulans. "CK. Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas." Kesal Gino sambil memegang pelipisnya.


"Mengingat apa?" Sahut Luzi tiba-tiba berdiri didapur dengan pakaian yang rapih begitupun dengan rambut barunya. Meskipun masih berantakan dan kusut.


"Bukan apa-apa." Ucap Gino.


"Benarkah?" Tanya Luzi seraya mengambil sebuah mangkuk untuk sarapan.


"Memangnya kau ingin tahu?"


"Hem." Jawab Luzi mengangguk dan memasukan sendok berisi sereal ke dalam mulutnya.


Gino yang berdiri agak jauh dari Luzi perlahan mendekati wanita itu. "Kau yakin?"


Luzi mundur perlahan dengan mangkuk ditangannya, "Kau mau sarapan?" Tawar Luzi mencoba mengalihkan percakapan tadi.


"Boleh." Jawab Gino.


Luzi pun menyimpan mangkuknya dan segera menyiapkan sereal yang sama untuk Gino. Tiga menit akhirnya sarapan yang sama untuk Gino selesai. Luzi pun mengangkat mangkuk itu dan memberikannya pada Gino.


"Ini—"


Luzi terkejut dan tak dapat melanjutkan ucapannya karena Gino tiba-tiba mencium bibirnya. Cukup lama bibir kedua orang itu menyatu hingga perlahan Gino menggerakkan miliknya namun Luzi menolak.


Kedua tangan Luzi yang memegang mangkuk perlahan terlepas hingga mangkuk itu jatuh pecah menjadi beberapa kepingan dan isinya berserakan dilantai.


Ia lalu mendorong tubuh Gino menjauh darinya, "Apa yang kau lakukan?" Teriak Luzi dengan tangan yang menutupi bibirnya.


Gino terdiam. Ia juga berpikir mengapa dia melakukan hal itu pada seseorang yang baru saja dia kenal. Terlebih lagi dia lebih tua darinya yang sudah pasti sering diperlakukan seperti itu.


"Jawab aku! Kenapa kau berani melakukan itu pada seorang —" Luzi terdiam tak dapat melanjutkan ucapannya.


Luzi segera berpikir untuk mencari kata yang cocok dengan ucapannya tadi. "Seorang wanita! Kenapa?" Teriak Luzi.


Gino kembali berjalan mendekati Luzi yang terus mundur menjauh dari pria itu. "Mundur! Jangan mendekat!" Tegas Luzi.


"Lantas aku harus melakukanya pada Pria?" Ledek Gino.


Luzi menggeleng, "Bukan itu maksudku," Sangkal Luzi. "Maksudku kenapa bukan wanita lain?"


"Karena aku ingin dirimu!" Ucap Gino kembali melangkah.


Luzi tertegun mendengar jawaban Gino. Kenapa dirinya? Padahal mereka baru bertemu beberapa hari tapi Gino..


"Apa maksudmu?" Luzi masih terus mundur sedikit demi sedikit saat Gino maju ke arahnya.


Gino menghembuskan napasnya kasar untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Aw..." Teriak Luzi yang memegang lengan kirinya yang tergores ujung meja yang terbuat dari kaca.


Seketika darah segar keluar dari lengan wanita itu. Gino yang melihatnya lantas menghampiri Luzi dan mencoba membantunya.


"Jangan mendekat!" Tegas Luzi. Namun Gino tak menghiraukan ucapan wanita itu.


"Diam! Lihat Lukamu." Ucap Gino. Darah masih terus mengalir dari sela-sela jari tangan Luzi yang menutupi luka itu.


"Astaga," Ucap Luzi saat ia melihat lukanya yang ternyata cukup banyak mengeluarkan darah. "Cepat ambil kotak obat! dia mengeluarkan banyak darah!" Perintah Luzi pada Gino.


Namun Gino malah menatap Luzi karena ucapan wanita itu sama persis seperti ucapan wanita yang menolongnya dari kecelakan dua tahun lalu. Hatinya yang semula ragu kembali yakin jika wanita dua tahun lalu itu adalah wanita yang kini berada didepannya.


"Kenapa kau malah menatapku? Cepat ambil kotaknya!"


Gino segera bangkit saat suara Luzi membuyarkan lamunannya, ia lantas mencari disetiap laci yang ada diruamh itu. "Dimana kotaknya? Aku tidak menemukannya dimanapun."


"Apa disana tidak ada?" Tanya Luzi.


"Tidak." Jawab Gino singkat sambil terus berusaha mencari kotak itu.


"Aku lupa menyimpannya dimana." Ucap Luzi hingga pria yang tengah mencari kotak itu menghentikan aktivitasnya.


Ia lalu mengambil sebuah kain yang terdapat dikursi ruang tamu lalu mengikatkannya pada luka ditangan Luzi.


"Sudah, ayo berangkat ke kampus dan ke rumah sakit." Gino menarik tangan Luzi untuk mengajaknya berangkat.


"Tunggu dulu..." Luzi menarik tubuhnya.


"Apalagi?"


"Siapa yang akan membersihkan itu? Lagipula aku tidak mungkin ke kampus tanpa membawa apapun." Keluh Luzi.


Gino menghembuskan napasnya kasar. "Kau ambil tasmu, biar aku yang bersihkan semuanya." Titah Gino.


Luzi segera berlari ke kamarnya begitu juga dengan Gino yang segera mengambil alat bersih-bersih untuk menghilangkan semua kekacauan yang ada didapur. Darah, mangkuk pecah, dan juga tumpahan sereal.


Usai semuanya beres dan Luzi sudah siap, mereka berdua pun keluar dari rumah. "Akhirnya hujan berhenti." ucap Luzi


"Bukannya semalam kau naik motor? Lalu dimana motormu?" Tanya Luzi saat matanya tak menangkap motor sport berwarna hitam.


"Ada, didalam." Jawab Gino singkat. Ia lalu berjalan mendekati sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari rumah Luzi.


Tok..Tok..


Gino mengetuk kaca mobil dan orang yang berada didalam lantas membukanya, "Berangkat sekarang?" Tanya pria dengan topi berwarna navy dikepalanya.


Gino mengangguk lalu memanggil Luzi untuk segera mendekat dan ikut bersamanya masuk kedalam mobil. "Mobil siapa ini?" Tanya Luzi.


"Naiklah dan jangan banyak bertanya! kita harus segera ke rumah sakit." Ucap Gino.


Luzi pun segera masuk kedalam mobil begitupun dengan Gino. "Siapa yang sakit?" Tanya pria dibalik kemudi.


"Perempuan itu." Jawab Gino.


"Luzi?" Ucap pria itu dan melirik wanita yang duduk dibelakang dengan tangan yang dibalut kain. "Kenapa tanganmu itu?" Tanyanya.


Luzi menatap pria yang mengajaknya bicara, "Bima? Ternyata ini mobilmu?kenapa kau bisa ada disini?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Luzi.


"Tadi aku disuruh oleh Bibi Rena untuk menjemput anaknya, dan ini mobilnya aku pinjam karena mobilku bannya bocor." Jawab Bima sambil melirik Gino anak Rena.


Tadi Gino memang menyuruh Bima untuk menjemputnya karena berpikir hujan masih turun diluar. Namun ia tidak menyangka jika temannya itu akan memakai mobilnya.


"Oh begitu,"


"Katakan kenapa tanganmu bisa luka?" Bima kembali menanyakan hal tadi.


"Aku tadi....."Luzi menatap Gino yang sama-sama menatapnya meski melalui kaca spion depan. "terjatuh." Jawab Luzi kemudian.


"Oh, Jatuh dimana? kenapa bisa luka begitu?"


"Ayo berangkat sekarang, aku ada kelas pagi." Pangkas Gino. Hingga Bima kembali membenarkan posisinya lalu mengenakan seatbelt sebelum melajukan kendaraan beroda empat berwarna hitam itu.