
Kantor polisi yang semula ramai kini berubah menjadi sepi dan menyisakan beberapa orang saja karena waktu sudah menunjukan saatnya untuk makan siang dan sepertinya mereka tengah makan diluar. Setelah mengobrol dengan David sambil menikmati kopi instan, Luzi kini keluar dari kantor tempatnya mencari nafkah itu untuk pulang ke rumahnya.
Terik matahari seakan berada tak jauh dari atas kepala hingga rasanya begitu panas saat menerpa langsung area kulit. Bahkan orang-orang yang berjalan kebanyakan memakai topi untuk menutupi wajah mereka dari panasnya sang Surya.
Luzi mengambil ponselnya, "Baru pukul 12.10." Luzi menggeser layar ponselnya mencari sebuah kontak yang sering sekali menghubunginya dan kini giliran Luzi lah yang menghubunginya.
"Halo, Sona. Kau mau tidak makan siang denganku?" Ucap Luzi tanpa basa-basi.
"Tumben, memangnya kau tidak sibuk?" Ledek Sona sambil memegangi tisu yang tertempel di matanya.
"Jika sibuk aku tidak akan mengajakmu. Katakan kau mau atau tidak?"
"Aku sih mau, tapi.."
"Mau atau tidak?" Potong Luzi
"Aku tidak bisa keluar karena mataku sakit, Luzi. Maaf karena aku tidak bisa menemanimu." Ucap Sona halus
"Hem, tidak apa. Semoga kau cepat sembuh." Ucap Luzi sebelum mematikan panggilan itu.
Luzi berjalan melawan panas menuju sebuah tempat makan yang tak jauh dari tempatnya tadi berdiri untuk mengisi perutnya yang sudah berisik meminta untuk diisi itu.
"Selamat datang ditempat kami, mau pesan apa?" Tanya seorang pelayan ketika Luzi baru saja mendaratkan tubuhnya dikursi.
"Boleh lihat menunya?"
Pelayan itu memberikan sebuah daftar makanan untuk dipilih oleh Luzi. Butuh waktu lama untuk Luzi menentukan menu makan siangnya itu. Ia bahkan meminta saran kepada pelayan itu karena bingung harus memilih makanan yang mana karena menurutnya semua yang tergambar di menu begitu menggoda.
"Saran saya, nona bisa memesan nasi goreng kimchi,"
"Baiklah, aku pesan itu satu dan minumnya lemonade." Pesan Luzi.
"Baik, mohon ditunggu."
Luzi melihat keluar restoran sambil menyangga dagunya. Ia melihat jalanan yang cukup ramai akan kendaraan serta orang-orang yang sekedar berjalan-jalan sambil sesekali berpikir. "Akankah aku berhasil melakukan hal itu seorang diri?" Itulah yang mengganggu pikiran Luzi.
"Jika kau tidak sanggup menanganinya, ingatlah bahwa aku selalu siap dibelakangmu." Ucapan David tiba-tiba menyambar dipikiran Luzi.
Wanita itu ingat betul bagaimana seniornya di akademi itu mengatakan hal itu untuk memotivasinya bahkan tak terasa kini bibir kecilnya melengkung mengukir sebuah senyuman.
Luzi terkejut saat seorang pelayan menyimpan makanan didepan wajahnya, "Selamat menikmati." Ucap pelayan yang mengantarkan pesanan Luzi.
"Terimakasih." Luzi mengambil alih makanan dari pelayan itu.
Luzi menyedot minumannya terlebih dulu karena merasa haus setelah berjalan dari kantor polisi ke restoran itu yang jaraknya sekitar dua kilometer. Kini wanita itu beralih untuk menikmati makanan khas Korea yaitu nasi goreng kimchi. Suap demi suap masuk kemulut Luzi hingga tak terasa nasi itu kini hanya tinggal sedikit. Kira-kira butuh waktu sepuluh menit bagi Luzi untuk menghabiskan nasi goreng kimchi itu.
"Jika hari ini hujan seperti kemarin, aku pasti terjebak disini." Celetuk Luzi saat ia menjeda makannya.
Disudut berbeda di restoran Korea dekat butik, Gino sedang menikmati segelas es coffee setelah ia selesai menikmati sarapan sekaligus makan siangnya. Ia meminta sebuah majalah pada pelayan restoran untuk membantu membuang waktunya.
Jam tangan, sepatu, pakaian dengan merk terkenal yang tertera di majalah itu hingga membuat rasa kantuk pria itu muncul.
"Sial, aku malah mengantuk membacanya." Gerutu Gino. Ia lalu membuka ponselnya untuk melihat berapa lama lagi dia harus menunggu. Ternyata waktu baru berjalan satu jam, yang artinya masih ada enam jam lagi menuju selesainya baju milik mama Rena.
Gino beranjak dari duduknya lalu menghampiri kasir untuk membayar makanan yang tadi ia nikmati. Didepan kasir ia melihat seorang wanita berambut panjang lurus sedang berbincang dengan penjaga kasir. Tak peduli apa yang terjadi ia pun memilih untuk mengantri dibelakang wanita itu.
"Tidak mungkin kartu saya rusak, karena saya baru menggunakannya seminggu yang lalu, mungkin mesinnya yang rusak." Ucap wanita yang berdiri didepan Gino.
"Jika benar begitu, mohon ganti pembayaran dengan uang tunai saja." jelas penjaga kasir.
"Baiklah, tunggu sebentar." Wanita itu memasukan tangannya kedalam saku celana untuk mengambil uang tunai namun ternyata ia tak menemukan apapun didalam sana.
"Bisa tidak jika bayarnya menggunakan ponsel?" Tawar wanita itu setelah yakin bahwa dirinya tidak Mambawa uang tunai.
"Maaf, kami belum menggunakan pembayaran seperti itu." Jelas penjaga kasir.
Gino yang mendengar semua yang terjadi diantara pelayan kasir dan wanita berambut panjang itu kini mengambil dompetnya lalu mengeluarkan lima lembar uang tunai.
"Sekalian dengannya." Ucap pria itu hingga membuat wanita berambut panjang itu seketika menoleh.
"Kurang 29, tuan." Ucap pelayan kasir.
Gino kembali merogoh sakunya untuk mengambil kurangnya, Lalu memberikannya kepada kasir.
"Terimakasih," Luzi langsung menunduk saat Gino hendak menghadap padanya.
"sama-sama, lain kali jangan lupa bawa uang tunai." Pesan Gino.
"Apa aku boleh meminta nomor rekeningmu? Aku kan mengganti semuanya. "Ucap Luzi yang masih menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.
"Tidak usah diganti, Anggap saja aku mentraktimu."
"Eh?" Luzi terkejut mendengar ucapan Gino.
"Sekali lagi terimakasih banyak." lanjut Luzi dan kini berjalan melewati Gino yang sama sekali tidak melihat wajahnya karena terhalang oleh rambut dan wajahnya yang terus menunduk.
Gino yang memiliki tinggi badan lebih dari Luzi itu sulit untuk melihat wajahnya karena Luzi terus menunduk. Ia hanya bisa melihat puncak kepala wanita itu yang kini melewatinya dan badannya ikut berpindah memperhatikan kepergian Luzi.
"Tunggu....."
Luzi yang semula bernapas lega karena berhasil lolos dari Gino kini kembali diguncang gempa pada jantungnya.
"Apa dia mengenaliku?" Gumam Luzi yang kini mematung didepan pintu restoran.
Gino pun berjalan menghampiri Luzi yang mematung. Ia lalu memberikan sebuah kartu kepada Luzi, "Jika kau tetap ingin menggantinya, kau bisa menghubungiku."
Luzi mengambil kartu nama itu lalu pergi setelah memberi anggukan kecil.
Mata Gino mengikuti wanita berambut panjang itu hingga keluar restoran. "Sepertinya aku kenal aroma ini." cetusnya.
Tak jauh dari restoran khas Korea, Luzi memegangi dadanya karena tadi ia sedikit berlari takut jika Gino mengikutinya. "Ah, sukurlah dia tidak mengikutiku."
Wanita itu kini kembali berjalan seperti biasa menuju tempat pemberhentian bus dan pulang ke rumah.
\>3 Jam kemudian<
Saat ini jam menunjukan pukul tiga sore dan masih ada sekitar dua jam lagi untuk mengambil baju milik mama Rena. Gino terduduk dikursi depan butik setelah berjalan-jalan tak jauh dari butik.
"Sudah belum ya?" Gino menerka-nerka pakaian ibunya yang sedang diperbaiki. Rasa bosan sudah ia rasakan karena terus menunggu tanpa tahu harus melakukan apa.
Akhinya Gino memutuskan untuk masuk kedalam butik melati menanyakan sudah belumnya diperbaiki pakaian milik mamanya.
"Permisi...."
"Oh, tuan yang tadi ingin mengambil pakaiannya Mamanya?"
Gino tersenyum, "iya, apakah sudah selesai semua?"
"Sudah, ini barangnya." Ucap pegawai butik itu seraya memberikan paper bag yang cukup besar pada Gino.
"Akhirnya aku tidak perlu disini Sampai sore." Gumam Gino dalam hatinya.
"Terimakasih, apa ini semua sudah dibayar?"
"Sudah." Jawab pegawai itu sambil tersenyum.
"Oh, begitu." Gino berkata seraya pamit kepada pegawai butik itu.
"Dia sangat manis," Gumam pegawai butik itu setelah Gino keluar dari butik.
Diluar Butik, tepatnya di tempat Gino memarkirkan motornya ia terlihat kebingungan. "bagaimana cara bawanya? Ini bahkan terlalu besar jika disimpan di tangan."
Setelah berpikir cukup lama akhirnya Gino menemukan cara untuk membawa paper bag besar itu ke rumahnya. Yaitu dengan cara memasukan benda itu kedalam jaketnya.
"Astaga, sesak sekali ini." Gino memakai helmnya lalu melajukan motor sport hitam miliknya itu.
Dengan kecepatan sedang Gino melajukan motornya sambil sesekali tersenyum saat ia berhenti didepan lampu merah dan melihat orang-orang didepannya menyebrang jalan dengan berbagai kebiasaan. Ada pria yang menyebrang sambil menelpon, ada seorang wanita yang menuntun putri mereka, ada juga dua manusia yang tengah dimabuk asmara hingga tidak tahu tempat untuk melakukan hal romantis selain saat menyebrang jalan.