
Luzi pun mendekati teman wanita yang menjadi sandera itu lalu membisikan sesuatu padanya.
"Kau mau kan?" Tanya Luzi setelah berbisik.
"Ta-tapi a-aku takut." Jawab gadis itu.
"Tidak usah takut. Aku akan menjagamu, aku janji." Luzi meyakinkan gadis itu supaya mau melakukan apa yang ia minta.
"Kau janji?" Tanya gadis yang sepertinya masih sekolah menengah atas itu.
"Hem."
Sang gadis pun segera berlari menyebrang lingkaran orang-orang dipinggirnya. Ia lalu berteriak hingga semua perhatian orang-orang langsung teralih padanya termasuk sang perampok.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" Teriak sang perampok.
"Apa yang anak itu lakukan? Kenapa dia malah menari?" Cibir salah seorang warga.
"Dasar anak gila. Disaat seperti ini malah bercanda!"
"Kenapa kau malah menari?" Teriak gadis yang disandera itu sambil air mata yang terurai.
"Bertahanlah, Kau pasti akan selamat." Gumam wanita yang sibuk menari dengan suara musik dari ponselnya.
"Jadi dia teman gadis yang menjadi sandera itu?"
"Benar-benar tidak tahu kondisi. Temannya jadi sandera malah menari seperti bahagia."
Ocehan demi ocehan terdengar jelas ditelinga gadis itu. Namun matanya melihat pada Luzi yang terus menyemangatinya hingga ia tidak peduli yang dikatakan oleh orang-orang tentangnya.
Luzi segera berlari ke arah perampok itu untuk menyelamatkan sandera serta menangkap perampok itu.
"Hei, lihat!" Teriak seorang wanita hingga semuanya melihat kearahnya begitupun dengan si perampok.
Beruntung Luzi telah mempertimbangkan semua yang akan terjadi termasuk akan adanya seseorang yang menyuruh semua orang melihat dirinya.
Sadar dirinya akan diserang, perampok itu pun lantas mengarahkan pisau ditangannya pada Luzi. Namun dengan lincah Luzi membungkuk dan memukul lengan pria itu hingga pisau itu kini terjatuh ke tanah.
Tak melewatkan celah, Luzi pun memukul pinggang pria itu dengan tangannya hingga ia kesakitan dan melepaskan sanderanya.
"Akhirnya kau selamat." Ucap gadis yang tadi menari menyambut kedatangan temannya yang segera berlari setelah perampok itu melepaskannya.
Wanit itu mengangguk. "Apa kau sengaja menari seperti tadi?"
"Hem. Aku disuruh olehnya," Gadis yang tadi manari menunjuk Luzi.
"Beraninya kau memukul ku!" Kesal perampok itu dan berlari untuk membalas perbuatan Luzi padanya.
Luzi dengan mudahnya menghindari serangan perampok itu karena dirinya memang mahir dalam bela diri. Meskipun ia tidak semahir partnernya.
"Kita panggil polisi." Wanita penari tadi segera mengambil ponselnya untuk menelpon polisi seperti yang disuruh oleh Luzi sebelum rencana dimulai.
10 menit sebelum gadis itu menari...
"Kau bisa menari?" Tanya Luzi dan dibalas anggukan oleh gadis itu.
"Menarilah diujung sana dan alihkan perhatian semua orang lalu Aku akan menyelamatkan temanmu. Setelah aku berhasil melepaskan temanmu, segera panggil polisi" Bisik Luzi.
"Kau mau kan?"
Dengan segera Gadis yang tadi menari segera menekan nomor darurat.
"Halo, pak. Tolong segera datang, disini ada perampokan!" Ucap gadis penari saat panggilannya dijawab oleh kantor polisi.
"Benarkah itu?"
"Tentu saja. Cepat datang karena wanita itu sedang melawannya sendirian!"
"Wanita?.... Katakan alamat lengkapnya!"
Gadis penari itu pun segera mengatakan alamat lengkap tempat terjadinya perkara kepada polisi yang berbicara dengannya.
"Ternyata kau mahir juga." Ucap perampok itu dengan senyuman menyeringai.
Ya, saat perkelahian terjadi Luzi menarik masker kain yang menutupi wajah pria itu hingga kini wajahnya terekspos.
Pria itu kembali menyerang Luzi dengan pukulan asal yang ia tujukan pada Luzi.
"Pukulanmu sungguh buruk." Ledek Luzi pada pria itu saat ia mengunci tangannya sehingga pria itu tidak dapat bergerak lagi.
"Sial. Sebenarnya kau siapa?" Tanya pria itu yang hanya bisa melihat mata Luzi karena ia masih mengenakan masker.
"Aku..."
Wiu wiu wiu...
Sirine mobil polisi mulai terdengar dan berhenti tak jauh dari kerumunan orang-orang.
"Permisi...." Seorang polisi mengurai kerumunan orang-orang untuk mendekati tersangka.
Melihat kedatangan polisi, dua gadis yang tadi menelepon lantas menghampiri mereka.
"Wanita itu....." Ujar seorang polisi.
"Kalian, amankan lokasi ini!" Titahnya kepada dua polisi yang datang bersamanya.
"Apa kalian yang memanggil kami?" Tanyanya kemudian.
Kedua gadis itu mengangguk. "Apa kalian tahu siapa gadis itu?" Tanya polisi yang memiliki sedikit kumis itu.
Mereka menggeleng, "aku tidak mengenalnya. Tapi tadi dialah yang menyelamatkan temanku yang dijadikan sandera oleh pria itu." Tutur gadis penari.
"Lagipula dia mengenakan masker, jadi kami tidak dapat melihat wajahnya." Lanjut gadis yang menjadi sandera.
"Terimakasih karena telah melaporkan kejadian ini. Kalian baik-baik saja kan?" Tanya polisi itu.
"Kami tidak apa-apa." Jawab mereka.
Mendengar jawaban dari para gadis, polisi berkumis itu lantas menghampiri wanita yang dimaksud kedua gadis tadi.
"Masukkan dia kedalam mobil! Aku akan segera menyusul." Ucapnya saat berpapasan dengan rekan yang menggiring sang perampok.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya khawatir. Karena bagaimanapun dia seorang wanita yang telah melawan pria.
"Hem. Aku tidak apa-apa," jawab Luzi.
"Bisakah kau menjelaskan kronologi kejadian barusan?"
Luzi terdiam kemudian berkata, "semua yang terjadi mereka pasti bisa menjelaskannya." Ucap Luzi bermaksud menyuruh polisi itu bertanya pada kedua gadis tadi.
Sebenarnya ia bisa saja membuka maskernya dan menjelaskan kronologi kejadian tadi. Namun karena ia cukup lelah dan ingin segera istirahat, ia memilih untuk melemparkan pertanyaan itu kepada para gadis.
"Baiklah." Ucap polisi itu lalu kembali menghampiri gadis tadi untuk meminta penjelasan mereka.
Luzi segera pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju stasiun kereta supaya ia lebih cepat tiba dirumah. Ya meskipun stasiun cukup jauh dari tempat pemberhentian bus, dan malah membuatnya bulak balik mau tidak mau Luzi harus pergi kesana.
Cuaca yang cukup dingin malam itu membuat Lila juga merasakannya. Dengan selimut yang kini menjadi temannya, wanita itu meringkuk diatas kasur sambil memeluk bantal.
Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain berbaring dan duduk selonjoran. Tanpa ponsel, televisi, ataupun alat elektronik seperti kebanyakan ruangan normal. Hanya ada ranjang dan nakas di dalam ruangan itu.
Sungguh benar apa yang dipikirkan Lila, ruangan itu memang tidak normla bagi manusia modern seperti dirinya. Bukan ruangan sebelumnya tempat ia sadar setelah operasi, itu adalah ruangan yang berbeda.
Tadi siang saat Ann masuk kedalam kamarnya untuk memberinya makan, wanita itu tiba-tiba memaksanya untuk mengenakan penutup mata kemudian membawanya keluar entah kemana.
Yang Lila ketahui, bahwa dirinya telah dipindahkan oleh Ann ke tempat dirinya malam ini berbaring. Itupun ia juga tidak tahu bangunan jenis apa, rumah atau hotel ia tidak tahu.
Rasa kantuk kian menghampiri dirinya setelah ia meneteskan banyak air dari matanya karena teringat sosok keluarga harmonis yang begitu ia cintai. Namun malang, nasibnya sungguh jauh dari apa yang ia bayangkan sebelumnya.
Detik demi detik dilewati Lila dengan melamun hingga akhirnya perlahan matanya mulai menutup dan ia pun terlelap.
Lain halnya dengan Lila yang sudah terlelap, sang ibu masih saja terjaga meskipun ia sudah berbaring diatas kasur bersama sang suami.
Air matanya mengalir hingga menyerap pada bantal karena wanita itu tidur menyamping memunggungi sang suami yang sudah terlelap.
"Lila, kau dimana..." Gumamnya pelan karena takut sang suami mendengarnya.
Dibalik punggung seorang istri, sang suami yang ternyata belum terlelap juga ikut mengeluarkan Air mata saat mendengar apa yang baru saja digumamkan oleh sang istri.
Tangannya mengepal kuat dengan hati yang bertekad bahwa dirinya akan mencari sang anak meskipun ia harus mengorbankan semuanya.
Ketemu atau tidaknya itu urusan nanti. Yang terpenting pria dengan status suami serta ayah itu memantapkan hati untuk datang ke kantor polisi untuk melaporkan hilangnya sang anak.