ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Atap pertemuan



Luzi keluar dari supermarket dan kini hendak menyebrang menuju gedung tempat yang menurutnya hening dan sunyi namun menyenangkan baginya.


Setiap anak tangga ia lewati dengan cepat karena tidak sabar untuk segera tiba dan menikmati cuaca yang lumayan dingin itu.


Luzi membuka pintu menuju atap. Benar saja dugaanya, sunyi dan tenang namun menyenangkan. Luzi menggeser sebuah bangku supaya mendekat ke pinggir atap dan ia bisa melihat ke bawah gedung.


Bunyi gesekan bangku dan lantai begitu nyaring hingga membuat seseorang yang tengah terlelap di samping pintu atap seketika membuka matanya. Ia lantas bangkit dan melihat Luzi tengah mendorong bangku mendekat ke tepi atap.


Orang itu mengucek-ngucek matanya untuk mengembalikan pandangannya."Apa yang wanita itu lakukan?" Ucapnya sambil menyipitkan kedua matanya.


"Astaga,"


Orang itu segera berlari menghampiri Luzi yang berdiri diatas bangku itu karena mengira wanita itu akan bunuh diri. Namun saat ia sudah berada ditengah perjalanan untuk menyelamatkannya, Luzi tiba-tiba duduk diatas bangku itu lalu mengambil soda dari dalam kresek.


Orang yang semula ingin menghentikan aksi bunuh diri itu tercengang, "dia hanya makan disana? Dengan gelagat seperti orang ingin bunuh diri?" Orang itu menggeleng.


"Ahh," Ucap Luzi setelah puas meneguk air soda.


Kini wanita itu mengambil makanan ringan. "Yang mana yang harus aku makan duluan?" Luzi memegang satu makanan ringan itu di setiap tangannya.


"Eh," Luzi terkejut saat tiba-tiba makanan ringan rasa keju miliknya diambil oleh seseorang.


"Kenapa kau mengambil makananku?" Keluh Luzi setelah ia tahu orang yang berani mengambil makanannya adalah Gino.


"Kau telah mengganggu tidurku, jadi ini imbalannya." Ucap Gino yang membuka makanan itu dan mulai memasukkannya kedalam mulut.


"Ck, bilang saja jika kau memang mau." Sindir Luzi.


"Aku serius, kau menganggu tidurku dengan suara gesekan benda ini." Gino menendang bangku itu hingga hampir membuat Luzi melayang.


"Gino!...." Teriak Luzi yang langsung berpegangan pada bangku itu.


"Kau itu selalu saja membuatku sial." Kesal Luzi.


"CK, ternyata kau takut jatuh juga. Tapi sok-sokan duduk di pinggiran." Cibir Gino.


"Kalau aku jatuh, aku mati bodoh!" Kesal Luzi. pria yang memegang makanan ringan itu hanya menatap Luzi tanpa membalas perkataannya.


"Kau ini memang sumber kesialanku!"


Baru saja ia tiba digedung itu untuk mendapat udara segar. Eh ternyata dia malah naik darah karena pria bernama Gino itu selalu berada dimanapun ia berada. Lebih parahnya lagi, ia selalu dirundung kesialan saat bersamanya.


"Mana ada, yang ada kau selalu mengikutiku." Sargah Gino. "Buktinya aku duluan yang datang kesini sebelum dirimu." Lanjutnya.


"Mana ku tahu jika kau ada disini. Jika ku tahu aku pasti tidak akan datang ke sini!" Luzi bangkit dan kembj berdiri diatas bangku hingga wanita itu lebih tinggi diatas Gino.


Alis Gino terangkat, "Benarkah?"


"Tentu saja benar, Karena aku tidak tahu!" Luzi perlahan maju mendekati pada Gino.


"Stop, berhenti disitu atau—"


"Atau apa?" Potong Luzi dan terus melangkah.


Brugh....


Luzi dan melihat jika bagian dari bangku itu sudah tidak ada hingga ia terjatuh dan Gino dengan segera berlari untuk menangkapnya.


"Aww...." Aduh Luzi dan Gino bersamaan.


Ia lalu membuka matanya dan melihat wajah Gino yang tengah terlengtang. Ternyata ia jatuh tepat diperut dekat dada pria itu. Pantas saja kepalanya merasa sangat empuk saat menyentuh lantai.


"Hei, bangunlah. Kau membuatku sulit bernafas." Keluh Gino.


Luzi segara bangkit, "Maaf." Ucapnya seraya membantu pria itu bangun.


"Apa kau terluka?" tanya Luzi panik seraya mengecek setiap baian tubuh pria itu.


"Tidak,"


"Apa ada bagian yang sakit?"


"Tidak,"


"Tidak,"


Luzi mendengus, "bisakah kau berkata selain tidak?"


"Bisa," jawab Gino.


"CK," Luzi yang semula panik kini berdiri dan kembali bergerak mendekati bangku tadi untuk melanjutkan keinginannya menikmati keheningan sambil makan camilan.


"Ah.........." Luzi tiba-tiba berteriak dan segera kembali sambil berlari kemudian melompat hingga ia kini berada dipangkuan Gino yang baru saja berdiri. Beruntung tubuh pria itu cukup kuat untuk menahan tubuhnya.


"Hei, apa-apaan kau ini?" Gino mencoba menurunkan Luzi yang kini menempel didepannya.


"Itu.... Itu...." Luzi berbicara gugup dengan pegangannya yang semakin ia pererat pada leher Gino


"Apa?"


"Itu... Buang itu!" Lanjut Luzi yang masih gugup. Bahkan kini Gino bisa merasakan tubuh wanita itu mulai menggigil.


Gino pun mencoba melangkahkan kakinya mendekat pada bangku itu meskipun cukup sulit karena Luzi menempel di punggungnya.


"Jangan mendekat padanya!" Teriak Luzi hingga Gino berhenti.


"Bagaimana aku akan membuangnya jika tidak mendekat?" Tanya Gino yang melirik wajah Luzi yang mulai pucat itu.


"Kenapa wajahnya berubah pucat?" Gumam Gino.


Luzi terdiam. "Turunlah, aku akan membuangnya." Ucap Gino.


Luzi segera menggeleng, "tidak, tidak mau. Aku takut dia tiba-tiba menjadi besar dan mendekat padaku." Tolaknya.


Gino terdiam. "Sebenarnya apa yang harus dibuang?" Heran pria itu.


"Lantas bagaimana cara membuangnya jika kau tidak mau turun dan mendekat padanya?"


Luzi hanya menggeleng. Pria itu benar tapi ketakutannya tidak dapat ia patahkan. "Baiklah, kau tutup saja matamu. Dan bayangkan tidak ada apapun."


Luzi menutup matanya seperti yang dikatakan oleh Gino. Kini pria itu kembali melangkahkan kakinya mendekati bangku itu.


Bukannya membayangkan laba-laba itu hilang, Luzi malah kembali teringat kejadian dulu yang membuatnya trauma dan takut pada hewan itu. Ia bahkan sesekali bergerak tiba-tiba hingga membuat Gino sesakali menatapnya heran.


Masih dalam keadaan mata tertutup, Luzi perlahan merasakan kepalanya berputar dan berat hingga kini kepalanya jatuh bersandar pada dada Gino.


"Kenapa dia?"


Ternyata seekor laba-laba kecil ada diatas bangku itu. Gino pun segera menyingkirkan hewan berkaki lebih dari satu itu hingga terjun ke bawah gedung dengan kakinya.


"Jadi dia takut laba-laba?" Duga Gino. Ia kini menatap Luzi yang bersandar di dadanya sambil masih memejamkan matanya yang terhalang beberapa helai rambut karena saat itu angin datang.


"Sudah ku buang," ucap Gino.


Namun Luzi tak juga membuka matanya. Bahkan setelah Gino menggoyangkan bahunya supaya Luzi terbangun. Namun mata wanita itu tetap juga terpejam.


"Hei, bangun!" Gino menepuk pipi Luzi. Pria itu lantas menurunkan tangannya yang sebelumnya menyangga tubuh wanita mungil itu.


"Eh...." Gino segera memperbaiki tubuh Luzi yang hampir jatuh saat kedua tangan miliknya itu ia lepas.


Gino segera menurunkan Luzi dan membaringkan wanita itu dilantai karena tubuhnya ternyata lumayan berat.


"Hei, kau kenapa?" Tanya Gino yang masih berusaha membangunkan wanita itu. Namun ia masih belum mendapatkan jawaban dari Luzi.


"Apa dia mati?" Celetuk Gino dan segera memeriksa denyut nadi pada tangan Luzi yang ternyata masih berdenyut.


Langit yang mendung ternyata benar-benar menepati janjinya untuk menurunkan hujan. Hujan yang semula hanya gerimis kini pelahan mulai terasa hingga Gino menengadahkan tangannya.


"Hujan akan deras sepertinya." Ujar Gino. Ia pun mengambil tangan Luzi , "Astaga, dia dingin sekali."


Gino pun mengangkat tubuh Luzi lalu memindahkan wanita itu ke tempat teduh didekat pintu atap. Tepatnya tempat ia tidur sebelumnya. Ia lalu membuka jaketnya dan memberikannya pada Luzi.