
"Astaga..." Ucap Gino tiba-tiba.
Bima yang berjalan duluan kembali menghampiri Gino. "Ada apa?"
"Aku tersangkut sesuatu," ucap Gino yang tengah memangku Luzi sambil duduk.
"Aku pikir kau telah menyentuh yang lainnya," Ledek Bima sambil tertawa. Ternyata pria itu kini paham maksud dari ucapan temannya tadi. Ia pun memeriksa belakang Gino yang ternyata tasnya menyangkut pada meja Tennis yang entah bagaimana bisa begitu.
"Sudah,Sekarang berdirilah!"
"CK, dia Berat tau." Gerutu Gino lalu bergegas membawa Luzi keluar tempat itu untuk menuju rumah sakit.
"Itukan maumu, tadi kutawarkan diri untuk menggendongnya kau malah melarang," Ujar Bima yang berjalan didepan Gino.
Sebelum Gino memangku Luzi, Bima menawarkan dirinya untuk menggantikan posisi Gino saat itu. Namun Gino menolaknya dan memilih membawa Luzi sendiri. Entah apa alasan Gino tak mengijinkan Bima melakukannya.
"Berisik, ucapanmu itu tidak membuat bebanku ringan!" Seru Gino, "sialan kenapa parkirannya jadi sejauh ini?"
Gino merasa tempat Bima memarkirkan mobilnya begitu jauh dari biasanya. padahal nyatanya tempat itu tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Kedua pria itu berjalan terburu-buru supaya tidak dilihat oleh orang lain karena akan menimbulkan masalah. Untungnya waktu itu sudah petang dan hanya menyisakan beberapa orang saja di kampus.
"Cepat buka pintunya!"
Bima segera membuka pintu belakang mobilnya seperti yang diperintahkan oleh Gino lalu memasukan Luzi kedalam. Setelah Gino masuk, Bima pun melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus menuju rumah sakit. Dalam perjalanannya mereka berdua silih berganti menengok kebelakang melihat keadaan Luzi yang terbaring.
Gino meregangkan tangannya hingga terdengar bunyi dari tulangnya. "Arhhhh...." Gino melebarkan tangannya.
"Kenapa? Tanganmu merasa sakit karena membawa beban segitu? Dasar lemah!" Bima membalas ledekan Gino tadi yang mengatainya lemah saat membawa box berisi bola kasti.
Gino melirik dengan tatapan tajamnya, "siapa yang lemah? Aku membawa orang hidup beserta dosanya yang entah berapa banyak, sedangkan kau? Hanya membawa benda mati. Jadi siapa yang lemah?" Sembur Gino hingga membuat nyali Bima yang ingin mengerjainya langsung menciut.
Bima diam, niatnya ingin bercanda malah kena amukan harimau jantan yang berkamuflase menjadi temannya.
"Hehe... Aku kan hanya bercanda,"
"Bercandamu gak lucu." tegas Gino lalu memutar badannya untuk melihat keadaan Wanita bertubuh kecil dengan sweater besar dibelakang.
"Bim, kau bisa menyetir lebih cepat tidak? Lambat sekali seperti kura-kura, lihatlah sekarang kita sedang membawa mayat kerumah sakit bukan pulang ke rumah."
"Ma-mayat?" Bima langsung menginjak rem mobilnya, "jadi dia sudah meninggal?"
Bukannya menuruti perintah temannya itu, Bima malah terus berbicara. "Kenapa jadi salahku? Aku sudah memberikan tumpangan dengan senang hati, jadi bukan salahku jika dia mati." Teriak Bima yang tak mau disalahkan.
Suara teriakan dari perdebatan diantara dua pria itu membuat Luzi mengerjapkan matanya. Ia akhirnya sadar setelah cukup lama tak sadarkan diri.
Kedua matanya yang masih melihat dengan samar-samar mengitari seluruh ruangan hingga ia kini melihat dua orang pria tengah bertengkar dikursi depan.
kenapa aku di mobil? dan siapa mereka? Luzi merasa ia sedang diculik karena dibawa oleh dua pria asing. Ingin sekali Luzi berteriak sekeras mungkin dan berlari keluar dari dalam mobil. Namun tubuhnya terlalu lemas dan sepertinya suaranya pun hilang.
"Siapa kalian?" Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Luzi dengan suara serak.
Kedua pria yang tengah beradu mulut itu langsung terdiam lalu mengalihkan pandangan mereka ke kursi belakang.
"Aaaaaaa..... Mayat hidup," Teriak Bima panik dan buru-buru melepas seatbelt untuk keluar dari dalam mobil.
Berbeda dengan Bima yang histeris, Gino Justru malah tersenyum saat mengetahui Luzi telah siuman dan secara tidak sengaja telah membantunya mengerjai Bima yang sangat takut akan hal-hal mistis, terlebih lagi hantu.
"Dasar Bima penakut." ujar Gino seraya mengikuti kemana temannya itu berlari.
"Kau sudah sadar?" Tanya Gino yang kini mengalihkan pandangannya pada Luzi. bukannya menjawab wanita itu malah menatap Gino dengan raut wajah yang begitu menyedihkan.
Luzi membuka mulutnya mencoba mengatakan sesuatu. namun karena tenggorokan dan mulutnya terasa kering ia tidak bisa lagi mengeluarkan suara dan hanya bisa mengandalkan bibirnya supaya Gino mengerti apa yang ia perlukan.
"Apa? Kau bilang apa?" Bukannya mengerti Gino malah terus bertanya.
"Ihh... Kenapa sulit sekali memberinya kode, dasar bodoh!" Gerutu Luzi dalam hatinya.
"A—i—r"
Kata itulah yang terus-menerus Luzi ucapkan pada Gino. Namun pria itu tetap saja tidak paham hingga akhirnya Luzi menggerakkan tangannya mendekat kearah mulutnya seperti sedang minum.
"Ohh kau butuh air," Gino akhirnya paham dan mencari air didalam mobil. namun ternyata tidak ada sebotol pun air mineral didalam mobil Bima.
.
.
.
.