ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Siapa orang yang tepat?



Luzi terduduk disebuah kursi sambil terus memikirkan alasan yang masuk akal mengapa poto Agnes ada didalam laci pak Rendi. Juga mengapa kemarin Agnes dan Eren tiba-tiba menghilang saat ia ikuti? Sungguh pikirannya saat itu dibuat sibuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benaknya.


Tujuannya mencari ruangan monitor cctv kini teralihkan untuk mencari tahu lebih dalam tentang pak Rendi dan juga Eren.


"Siapa orang yang tepat untuk aku tanyai tentang kedua orang ini?" Kini batinnya mengganti pertanyaan yang sama-sama tanpa jawaban


"Siapa?...."


"Siapa?...."


Luzi memejamkan matanya untuk mencari seseorang yang tepat untuk ia tanyai. Sayangnya ia tidak mengenal siapapun di kampus itu dan bahkan tidak memiliki teman.


Hembusan angin keluar dari lubang hidung Luzi saat ia beberapa kali membuang napasnya kasar. Buntu, kali ini pikirannya sempit dan terus menerus menemukan dinding pembatas yang tidak dapat ia tembus dalam pikirannya itu.


Dengan malas Luzi bangkit dan melangkahkan kakinya menuju tempat dimana semua rencana untuk membongkar kedok universitas ini tersusun, rumah yang hangat dan sunyi tanpa seorangpun disana selain dirinya. Keramaian yang selalu didengar oleh telinganya dalam rumah hanyalah suara bising dari kendaraan yang Melintas disamping bangunan kecil miliknya yang berada dipinggiran jalan.


Dalam bus, ia hanya duduk bersandar sambil memejamkan matanya menutup sesaat semua cahaya hidup yang selalu dilihat matanya. Betapa nyamannya kedua mata itu menyaksikan sebuah kegelapan yang menenangkan saat kedua kelopak matanya menutup.


Rasa getaran yang dihasilkan saat bus berhenti membuat Luzi perlahan membuka matanya untuk melihat apakah sudah saatnya untuk ia turun dan kembali berjalan menuju rumahnya. Ternyata ia sudah sampai dan kini ia berjalan keluar dari bus menuju rumahnya dengan pikiran yang kusut tak karuan.


Bukannya ia seharusnya pusing karena mata kuliah? Karena saat ini dirinya adalah seorang mahasiswa? Jika memang begitu mungkin seharusnya seperti itu. Namun itu hanyalah sebuah sampingan bagi Luzi, sampingan demi jabatannya.


Setelah beribu-ribu langkah ditempuhnya, Luzi kini tiba didepan pintu rumahnya dan masuk kedalam setelah ia buka kuncinya. Seperti biasa, setelah dari luar Luzi selalu mampir ke dapur untuk mengisi hidrasi tubuhnya dengan air dingin.


"Ah...." Ucapnya setelah puas meneguk air.


Ia lalu mendaratkan tubuhnya diatas kursi tempatnya menyantap makanan kemudian diikuti dengan kepalanya yang ia sandarkan pada meja.


Tok....


Tok....


Tok....


Gedoran pintu membuat Luzi mengangkat kepalanya lalu berjalan untuk membuka pintu dan melihat sosok dibalik pintu yang tengah berisik itu.


"Siapa?" Tanya Luzi setelah membuka pintu. Kepalanya ia miringkan untuk melihat sosok dibalik paperbag berwarna putih yang tersaji tepat didepan wajahnya.


"Ini ranselmu, dan ini dari mamaku." Ucap Gino setelah Luzi melihat wajahnya.


Luzi mematung sambil memperhatikan Gino yang masih memegang kedua barang itu di masing-masing tangannya.


"Mau atau tidak?" Sergah Gino hingga tubuh Luzi terperanjat.


"Ma-mau." Jawabnya cepat dan segera mengambil kedua paperbag itu dari tangan Gino.


"Terimakasih kepada ibumu." Lanjut Luzi lalu mundur dan hendak menutup pintu. Namun Gino yang masih berdiri didepan pintu itu menahannya.


Luzi melirik Gino, "apa lagi?" Tanyanya polos.


"Kau tidak mau menawariku untuk mampir?" Sindir Gino.


"Oh, kau mau mimpir dulu?" Tanya Luzi yang kembali membuka lebar-lebar pintu rumahnya.


"Tidak, terimakasih. "Ucapnya lalu pergi meninggalkan Luzi yang masih mematung di ambang pintu.


"Dasar aneh." Gumam Luzi sambil memperhatikan kepergian pria itu.


"Oh, hei. Tunggu!" Luzi segera berlari menyusul Gino yang hendak memakai helmnya saat ia teringat sesuatu.


Gino mendaratkan tubuhnya di sofa saat Luzi mempersilahkannya untuk duduk menunggunya yang mengambil sweater itu dalam kamarnya. Tak butuh waktu lama Luzi pun keluar dengan sweater ditangannya.


"Ini, terimakasih." Luzi menyimpan sweater itu diatas meja. Dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman kaleng dalam kulkas.


"Hanya ini yang ada di rumahku, jadi mohon maklumi." Ucap Luzi lalu menyodorkan sekaleng minuman pada Gino.


"Terimakasih."


Luzi ikut mendaratkan tubuhnya disofa lalu membuka kaleng minuman itu dan meneguknya. Kedua mata Gino yang sedari tadi berkeliling mengitari seisi ruang tamu berhenti tepat pada Luzi yang tengah minum dari kaleng itu.


"Kau tinggal sendiri?" Tanya Gino hingga membuat Luzi yang tengah minum berhenti.


"Bukan masalah kan tinggal seorang diri?" Ucap Luzi


"Benar, "


"Kau sengaja datang kesini?" Luzi balik bertanya.


"Tidak, aku ada perlu disekitar sini, jadi sekalian saja aku kembalikan ransel itu padamu." Jelas Gino. Padahal jelas-jelas pria itu tadi memaksa ibunya untuk memasak sesuatu Supaya bisa ia bawa sebagai oleh-oleh untuk Luzi.


Gino pun membuka kaleng itu lalu meneguknya seraya melirik Luzi yang menutup sebelah matanya melihat isi kaleng miliknya yang sudah kosong itu.


"Yah, habis..." Ujar Luzi lalu membalikkan kaleng minuman itu. Ia lalu beranjak dari duduknya untuk kembali mengambil satu kaleng minuman karena tenggorokannya masih terasa kering.


"Mau minum bersama?" Gino menyodorkan kaleng minumannya.


Luzi yang hendak membuka minuman itu berhenti lalu menatap kaleng yang disodorkan pria itu, "hah?..." Kaget Luzi yang diikuti kedua matanya yang membesar.


"Di-dia mau aku minum bekasnya?" Luzi bertanya-tanya dalam hatinya.


Kedua manusia itu masih diposisi yang sama untuk beberapa detik hingga akhirnya Gino berbicara kembali, "Maksudku kita bersulang." Ralatnya.


"Oh..." Luzi membuka minumannya lalu ikut menyodorkan kaleng itu hingga menimbulkan bunyi treng saat kedua kaleng itu berbenturan.


Dua orang itu kini sama-sama meneguk minuman mereka hingga timbul suara yang sama saat mereka berhenti meneguknya.


"Ah....."


~~~~~~~~~~~~~~


Ditempat berbeda seorang wanita duduk diruang tamu bersama keluarganya yang sedang menonton televisi. Seperti halnya kebanyakan keluarga yang selalu menyilang obrolan disela-sela menyaksikan acara di televisi, ia pun memberanikan diri membuka mulutnya untuk berbicara.


"Iya, kenapa nak?" Tanya wanita paruh baya yang tengah asik melihat gambar yang bergerak setiap detik ditelevisi itu.


"Mmmm..... Anu, aku besok akan mulai bekeja." Ucap anak perempuan dari wanita paruh baya itu tanpa basa-basi.


"Kerja apa Li?" Tanya ayahnya yang ikut nimrung dalam obrolan.


"Pegawai hotel, ayah."


"Dimana tempatnya?" Kedua orang tua yang tadinya pokus menyaksikan televisi kini mengalihkan pandangannya pada putri mereka.


"Lila belum tahu, karena baru akan melamar besok." Jawabnya


Kedua mata orang tua Lily saling bertemu, menatap dalam seperti sedang saling bertukar pikiran meski tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.


"Baiklah, ayah akan mengijinkanmu. Tapi jangan sampai mengganggu kuliahmu ya, sayang." Ucal ayah Lila disertai nasihat kecil untuknya .