
"Tunggu dulu....." Gumam Luzi yang berhenti makan dan teringat sesuatu. "Bukannya sendok ini bekas mulutnya?" Luzi seketika berhenti mengunyah.
"Kau kenapa, Luzi?" Tanya Bima saat wajah kaget wanita itu terlihat dari spion.
"Hah? Aku-aku tidak apa-apa." Jawabnya dan segera menghentikan memakan makanan itu lalu membereskannya.
"Apa kita berangkat sekarang?" Tanya Bima.
"Habiskan makananmu, Bim. Kita berangkat setelah kau selesai!" Ucap Gino yang kini membuka kaca jendela mobil supaya udara pagi masuk dan mengganti aroma nasi goreng dalam mobil.
Beberapa menit kemudian mereka bertiga pun berangkat setelah Bima selesai menyantap sarapan buatan Luzi.
Suasana jalanan belum terlalu ramai karena saat itu waktu masih cukup pagi dan para pekerja kantor baru beberapa saja yang mulai berangkat.
"Stop! Stop! Hentikan mobilnya!" Teriak Luzi memukul kursi tempat Bima menyimpan kepalanya.
Bima menghentikan mobilnya, "kau kenapa?"
Bukannya mendapat jawaban dari Luzi, ia malah mendengar suara pintu mobil tertutup.
"Mau kemana dia?" Tanya Gino. Kini pria itu menghadap belakang untuk melihat Luzi dari jendela belakang.
"Entahlah, kita tinggalkan saja." Canda Bima dengan alis yang bergerak serta senyuman usilnya.
"Tunggu sebentar lagi, mungkin dia ke toilet." Cegah Gino, Pria dengan kaos hitam bergambar sneaker itu lalu keluar dari mobil. Matanya mengitari sekitar dan menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya dan lantas menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan?" Gino kini berdiri dibelakang Luzi.
"Mencegahnya supaya tidak menyebrang," Luzi berbalik dengan menggendong anak kucing berwarna hitam pekat seperti kedelai hitam.
Melihat seekor kucing lantas membuat mata Gino terbelalak dan segera menjauh dari Luzi, " Singkirkan hewan itu!" Teriaknya.
Luzi menatap Gino yang menjauh darinya, "Ternyata kau takut kucing?" Luzi berbicara dengan nada mengejek.
"Bukan takut, aku hanya jijik melihatnya!" Sangkal Gino. Ia terlalu malu mengakui jika dirinya memang takut dengan hewan berwajah lucu itu.
"Benarkah?" Luzi berjalan perlahan mendekati Gino sedangkan pria itu juga perlahan mundur.
Langakah demi langkah yang semakin cepat hingga kini Luzi sedikit menghentakkan kakinya hingga Gino lari terbirit mendekati mobil Bima dan hendak masuk.
"Jangan bawa masuk kucing itu!" Gino memperingatkan Luzi supaya ia tidak membawa serta hewan yang bahkan lebih kecil dari kepalanya itu.
"Kau masih saja takut dengan kucing." Ucap Bima saat Gino mendaratkan tubuhnya dikursi sebelahnya.
"Aku bukan takut! Aku hanya jijik saja dengan hewan itu." Lagi-lagi Gino menyangkal bahwa dirinya takut dengan kucing.
"Benarkah kau tidak takut?" Luzi kini duduk dibelakang Gino dengan kucing hitam yang ia simpan diatas tempat duduknya.
"Tentu saja tidak." Gino berbalik untuk meyakinkan wanita itu namun ia malah menatap wajah anak kucing hitam tadi.
"Aku bilang jangan membawanya masuk!" Tegas Gino yang kini berdiri dengan pintu mobil yang diregangkan. Raut wajahnya seketika berubah menjadi serius dengan kedua alisnya yang saling bertautan dan sorot matanya menjadi tajam.
"Baiklah, akan aku keluarkan." Luzi menyeret dirinya keluar dari dalam mobil beserta kucing kecil yang manis itu.
"Mungkin dia bercanda." Bima mencoba mengembalikan suasana hati Gino.
Sementara itu diluar mobil Luzi menurunkan anak kucing itu dari pangkuannya. "Maaf tidak bisa membawamu, soalnya disana ada orang yang takut padamu tapi tidak mau mengakuinya." Luzi berkata pada kucing itu seraya mengelus kepalanya.
"Sampai jumpa lagi." Luzi meninggalkan kucing itu di halaman rumah seseorang dan kembali masuk kedalam mobil.
Begitu Luzi masuk, Bima kembali melajukan mobilnya.
Ditempat lain, disebuah ruangan dengan jendela kecil dan lampu temaram seorang wanita perlahan membuka matanya. Dengan penglihatan yang remang-remang ia mengitari ruangan itu, tak ada siapapun disana selain dirinya. Ia lalu beralih melihat keadaan dirinya, tangan yang masih terhubung dengan selang infus, serta tubuh yang begitu lemas hingga sulit untuknya bergerak.
Tak ada apapun yang dia ingat selain saat dimana Ann menyuntikan sesuatu padanya hingga membuatnya pingsan untuk yang kedua kalinya. Dan yang membuatnya lebih heran adalah rasa sakit beserta panas yang begitu amat ia rasakan pada bagian pinggangnya hingga belakang punggungnya.
"Apa yang mereka lakukan padaku hingga badanku begitu sakit?" Gumam Lila disusul cairan bening yang keluar dari kedua matanya.
Tiba-tiba ia teringat akan wajah kedua orang tuanya yang bahagia saat mendengar dirinya mendapat sebuah pekerjaan. Namun nyatanya, ia telah ditipu dan tidak tahu perbuatan yang dilakukan oleh Ann dan pria itu padanya.
"Ayah, ibu, aku ingin pulang.." Ucap Lila dalam hatinya.
Tiba-tiba pintu terbuka saat seorang wanita datang dengan nampan ditangannya, "kau sudah sadar, bagaimana tidurmu?" Sapa Ann lalu memeriksa tekanan darah Lila dan menyuntikan cairan antibody pada selang infus.
Melihat kedatangan wanita itu membuat amarah Lila memuncak. Namun karena ia belum mampu untuk berbicara banyak, Akhirnya air matanya mengalir terus dan mewakili luapan amarah yang tidak dapat tersampaikannya itu.
"Kenapa kau menangis?" Ann menghampiri Lila lalu menyentuh pelipisnya untuk menghapus air matanya, "Apa masih terasa sakit? Tenang lah itu tidak akan lama, jika kau menuruti semua yang aku katakan mungkin sekitar satu atau dua Minggu tubuhmu akan kembali normal." Jelasnya.
Wanita yang sebelumnya berencana
Untuk meninggalkan kota karena takut jika Lila akan dibebaskan dan membongkar semua kejahatan yang telah dilakukan olehnya dan Rendi, tak jadi dia lakukan saat rekan prianya itu memberitahu jika tuan bos menyuruh mereka untuk mengurung Lila dan tidak membiarkannya sampai terlepas.
"Tenang saja, aku akan membantumu supaya cepat pulih." Ucap Ann mengelus kepala Lila dengan bibir yang menyeringai.
Ia lalu meninggalkan ruangan itu untuk memberi kabar kepada Rendi bahwa Lila telah sadar dan kondisinya lebih baik, hanya saja wanita malang itu masih merasakan efek samping pasca operasi.