
"Dia hanya mengalami syok, kemungkinan beberapa saat dia akan sadar." Jelas seorang dokter yang kebetulan sedang menginap di hotel itu.
"Terimakasih, dok." Ucap ayah Lila.
Dokter itu mengangguk, "Saya permisi." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan ruangan yang digunakan wanita tua yang tengah pingsan itu.
Pria yang duduk disamping istrinya yang terbaring hanya bisa memegangi tangannya yang dingin itu mendekat ke pipinya. Ia beberapa kali juga mengecup punggung tangan wanita yang telah memberinya dua orang anak.
"Tuan, sudah saatnya makan siang apa anda perlu sesuatu?" Tawar seorang pelayan.
Mendengar pertanyaan dari sang pelayan membuat pria itu teringat jika ia dan istrinya datang dalam kondisi perut yang kosong. Namun ia sadar jika ia meminta sesuatu kepada pelayan itu, maka ia juga harus membayarnya. Sedangkan ia dan sang istri sama-sama membawa kantong kosong alias tidak punya uang.
"Tidak terimakasih, saya akan menunggu istri saya sadar." Tolaknya.
"Baik, tuan. Jika perlu sesuatu silahkan panggil saja." Pelayan itu lantas pamit dan pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
"Mah, cepatlah sadar supaya kita segera pergi dari sini." Ucap pria itu.
Di atap gedung Gino tengah menenteng dua buah mie cup ditangannya. Berhubung hujan masih belum berhenti, jadi ia terpaksa harus kembali lagi menemui wanita yang meminjamkannya selimut untuk meminta dua mie cup untuk dirinya dan juga Luzi saat wanita itu telah sadar.
Perlahan kedua mata yang tertutup kini terbuka dan mulai menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Ia mengedarkan pandangannya pada tubuhnya yang tertutup selimut dan langsung bangkit hingga membuat Gino terkejut.
"*Astaga*..." Batin Gino yang kini menatap Luzi yang tengah meraba seluruh tubuhnya.
"Ternyata pakaianku masih lengkap." Ucap Luzi yang kini bisa bernapas lega.
"Memangnya pakaianmu harus kemana?" Celetuk Gino hingga membuat Luzi kena giliran untuk terkejut.
"Astaga, kau? Sedang apa kau disini?" Tanya Luzi seraya menarik selimut itu untuk menutupi tubuhnya padahal jelas-jelas ia masih mengenakan pakaiannya.
"Tentu saja menunggumu siuman, kau sudah lebih sepuluh menit terbaring tidak sadar disini." Jelas Gino yang kini mengambil sebotol air lalu memberikannya pada Luzi.
"Benarkah?" Luzi mencoba mengingat memori dalam otaknya sebelum ia tidak sadarkan diri sambil minum air yang diberikan oleh Gino.
"Bagaimana? Sudah ingat?"
"Aku hanya ingat tadi ada laba-laba di bangku itu." Tutur Luzi dengan tangan yang kini menunjuk ke bangku tempatnya tadi.
"Lalu setelah itu?"
Luzi menggeleng, "ingatanku setelah itu kabur."
Gino menarik napasnya dalam-dalam, "bagaimana kau bisa melupakan hal yang terjadi baru saja?" Herannya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Bahkan aku juga sering lupa hal penting setelah melihat laba-laba. " Jelasnya, "tapi setelah beberapa hari kemudian aku mencoba untuk mengingatnya ingatan itu perlahan akan hadir." Lanjut Luzi.
"Kau takut laba-laba?" Tanya Gino.
"Aku fobia terhadap hewan itu. jangankan untuk melihat hewan aslinya, dulu saat temanku membawa replika hewan itu aku bahkan langsung sakit selama berhari-hari." Luzi memaparkan semua pada pria yang tengah duduk sambil mendengarkannya.
"Separah itu?"
"Itu dulu. Sekarang tidak begitu parah, paling-paling aku pingsan saat itu juga dan lupa semua kejadian yang terjadi ketika aku melihat hewan itu." Jelas Luzi.
"Kenapa kau bisa fobia padanya?"
Mendengar pertanyaan itu sekelebat ingatan mengenai masa lalunys tiba-tiba datang hingga ekspresi Luzi seketika berubah.
"Bisakah kita tidak membahas itu?" Pinta Luzi.
Gino merasa heran mendengar permintaan wanita itu. Namun ketika melihat raut wajahnya, ia dapat langsung menebak jika wanita itu enggan menjawab pertanyaannya.
Ia pun mengangguk lalu mengambil mie cup yang ia bawa tadi bersamaan dengan air panasnya.
"Ini sudah saatnya makan siang, kau pasti lapar."
Luzi mengambil cup berisi mie yang sudah diseduh sebelumnya oleh Gino, "Terimakasih."
Lagi-lagi Gino hanya mengangguk. "*Dia tidak tahu jawaban setelah ucapan terimakasih*?" Heran Luzi karena setelah ia berterimakasih pria itu selalu menganggukkan kepalanya.
"*Mari kita buktikan*," batin Luzi dalam hatinya.
"Kau memang selalu membuatku susah dan kerepotan!" Cetus Gino yang asik dengan mienya dan melirik Luzi yang tengah cemberut.
"*Ternyata dia memang tidak tahu cara jawaban setelah terimakasih*.". Gumam Luzi dalam hatinya.
"Tidak usah terus melihatku." Tegas Gino yang tahu jika mata wanita itu masih melekat pada dirinya.
"Kenapa?" Tanya Luzi polos.
"Nanti kau tertarik!" Celetuknya.
Uhuk....
Uhuk.....
Luzi memegang dadanya yang tersedak saat menyeruput kuah mie. Ia lalu mengambil botol air yang berada disampingnya lalu meneguknya.
"Kau terlalu percaya diri." Ledek Luzi kemudian.
"Itu keunggulanku." Kilah pria itu.
Luzi memutar bola matanya setelah mendengar apa yang baru saja pria itu katakan. Ia kini teringat sesuatu yang tadi sempat ia tinggalkan.
"Bagaimana dengan mereka?"Tanya Luzi.
Gino menatap wanita berambut berantakan itu, "Mereka siapa?"
"Mereka yang kau dan Bima antar." Jelas Luzi.
Gino tersenyum, "hanya aku yang mengantar mereka akhirnya... karena Bima harus pergi mengikuti kelasnya." Tutur pria itu.
"Oh, lalu? Apa mereka orang tua dosen rendi?"
Gino menggeleng, "Lalu siapa mereka?" Tanya Luzi.
"Sepertinya mereka orang tua salah satu mahasiswa di universitas GAZ, karena saat itu mereka mengatakan ingin berbicara tentang anak mereka yang namanya...." Gino mencoba mengingat-ingat nama yang pernah diucapkan oleh orang tua yang ia antar tadi.
"Siapa?" Luzi tak sabar mendengar lanjutan Gino.
"Ah, aku lupa." Ucap Gino setelah berusaha mengingat namun gagal.
"CK..."
"Kenapa kau sangat ingin tahu nama anak mereka?" Heran Gino.
" Aku hanya penasaran siapa anak mereka. Siapa tahu dia adalah temanku," tutur Luzi.
"Memangnya kau punya teman?" Ledek Gino.
Luzi hanya menggeleng, "temanku hanya dua, kau dan temanmu itu." Lanjutnya hingga membuat Gino terkejut.
Setelah kelasnya berakhir Bima kini berjalan keluar untuk mencari keberadaan temannya, Gino. Ia berjalan mencari pria itu ke beberapa tempat yang biasa dikunjungi seperti kantin dan perpustakaan. Namun ia tak kunjung juga menemukan temannya.
Bahkan kini hujan semakin lebat dan membuat ia takut jika temannya itu telah pulang dengan mengendarai motornya. Ia menempelkan ponsel berwarna merah itu kedaun telinganya seraya menunggu panggilannya dijawab oleh nomor yang ia tuju.
"Halo....Gin, kau dimana?"
"Aku di atap."
"Atap mana? Kau yang benar saja, Gin. Sekarang sedang hujan lebat." Ucap Bima yang melihat hujan turun cukup lebat dihalaman kampus.
"Ya sudah jika kau tidak percaya."
"Halo. ... Gin, Gino?" Teriak Bima saat panggilannya di akhiri oleh Gino tiba-tiba.