
"Cerewet. Sudah merepotkan tapi tidak pernah bilang apapun." celetuk pria itu.
Luzi terdiam mencerna ucapan pria yang kini berdiri disampingnya. "Ohh.. jadi kau pamrih?" Luzi melototkan matanya, "katakan kau ingin apa? Uang?Atau....." Luzi menutup mulutnya yang tak habis pikir dengan tujuan Gino menolongnya.
Tak melanjutkan ucapannya Luzi buru-buru meninggalkan tempat itu hingga membuat Gino heran.
"Hei, kau mau kemana? Tunggu polisi datang supaya orang ini tidak kabur!" Gino menyusul Luzi lalu memegang tangan Luzi, menahan agar wanita itu tetap bersamanya.
Sebelum menolong Luzi tadi, Gino terlebih dulu menelepon polisi supaya datang ke tempat kejadian karena itu tindakan kriminal.
"Lepaskan! sampai kapanpun aku tidak akan memberimu upah!" Luzi menghempaskan tangannya berharap tangan pria itu berhenti memeganginya.
"Upah?"
Gino melonggarkan genggamannya hingga kini tangan Luzi ia lipat di perutnya. Suara sirene kian nyaring terdengar diantara perdebadan dua lawan jenis itu. Para polisi keluar dari dalam mobil menghampiri mereka.
"Permisi, Apa kalian yang memanggil kami?" Tanya seorang polisi
Gino mengalihkan pandangannya pada polisi itu, " Betul, diujung jalan ini ada seorang pencuri yang sedang pisan," jelas Gino sambil menunjuk belakangnya. Mendengar keterangan Gino, polisi itu lantas menyuruh anak buahnya untuk segera memeriksa tempat kejadian.
Luzi pun kini mengarahkan pandangannya pada polisi yang sedang mengintrogasi itu.
"Lalu siapa korban pencurian itu?"
"Wanita yang berdiri disamping saya salah satu korbannya," Gino menjawab sambil menunjuk Luzi yang tengah melihat ke arah mereka sambil melipat kedua tangannya.
Polisi itu pun melirik kearah gadis yang dimaksud oleh Gino. Kedua mata polisi itu menatap lekat kearah Luzi dari atas sampai bawah seperti mengenalnya.
"Luzi Riana, apa aku tidak salah lihat? bukankah dia sedang cuti dan pergi berlibur?" gumam polisi itu. Ia sedikit sulit mengenali Luzi karena wajahnya tertutup rambut yang tebal dan berantakan. Bahkan penambilan rambutnya itu sangat berbeda dari biasanya yang selalu rapi saat sedang di kantor ataupun saat bertugas.
Paham akan tatapan mata polisi itu, Luzi lantas menggeleng pelan untuk memberi kode supaya polisi itu tidak menyapanya.
"Si-siapa namamu nona muda?" tanya polisi itu pura-pura tidak mengenal wanita yang satu profesi dengannya itu.
"Luzi, Luzi Riana." Jawab Luzi
"Berapa usiamu?"
"Dia seorang mahasiswa," celetuk Gino hingga membuat Luzi melirik kearahnya.
" Iya, pak. saya seorang mahasiswa." lanjut Luzi.
Dua orang polisi yang tadi memeriksa tempat kejadian kini telah kembali bersama seorang pria pencuri yang telah sadar. Dengan kedua tangan yang diborgol serta tubuh yang diapit oleh dua polisi, pencuri itu melirik dengan tatapan membunuh ke arah tiga orang yang tengah mengobrol itu, terutama Luzi. Melihat hal itu Luzi langsung menghampiri polisi itu.
"Pak, saya mohon hukum pencuri itu tanpa banding karena jika dia cepat keluar dia pasti akan melakukan hal yang sama, saya tidak mau ada korban lain. Cukup saya saja," Luzi mengatupkan kedua tangannya memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nona tenang saja, kami akan menghukumnya sesuai dengan hukum yang berlaku." Polisi itu memegang tangannya Luzi menyuruhnya untuk berhenti mengatup.
Luzi pun berhenti memohon lalu mengantar kepergian mobil polisi itu pergi meninggalkan tempat itu.
Luzi mengedarkan pandangannya mencari sesuatu diatas aspal yang gelap karena kurangnya pencahayaan. Ia terus berusaha mencari benda itu dalam kegelapan.
"Kau mencari apa?"
Setitik cahaya kini menyoroti wajah luzi yang tengah menatap keatas sambil menyipitkan kedua matanya. "Biasakah kau berhenti menyoroti wajahku?" Dengus Luzi.
Gino pun memindahkan cahaya dari ponselnya itu untuk membantu Luzi mencari suatu benda yang ia tidak ketahui apa itu.
"Ketemu." Luzi mengambil sebuah ikat rambut berwarna hitam lalu mengikat rambutnya yang panjang dan berantakan itu.
"Jadi kau mencari ikat rambut?" Gino dibuat terkejut dengan kelakuan Luzi.
Luzi mengangguk, "sekarang ayo kita pulang." Ajaknya seraya berjalan memimpin Gino kembali menuju parkiran restoran.
"Kau mau kemana? Bima sudah di sana." Teriak Gino sambil menunjukan sebuah mobil yang terparkir di sebrang mereka.
"Oh." Luzi berbalik lalu berjalan menuju mobil Bima.
Setelah memanggil polisi, Gino segera menyuruh Bima untuk menyusulnya dengan harapan pria itu akan membantunya menolong Luzi sebelum para polisi tiba. Namun entah apa yang dilakukan anak itu hingga membuatnya sangat lama untuk sampai ke tempat mereka, hingga akhirnya Gino maju sendirian.
Setelah mengantar Luzi pulang kedua pria itu kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju rumahnya masing-masing. Seperti biasa Bima selalu mengantar Gino sampai didepan rumahnya karena mereka kebetulan satu arah.
"Terimakasih tumpangannya," Ucap Gino lalu membuka pintu mobil.
Bima menahan Gino," tunggu, ada sesuatu yang membuatku heran."
Gino mengurungkan niatnha untuk keluar lalu melihat Bima dengan alis yang terangkat, "apa itu?"
"Bagaimana bisa seorang pencuri begitu dendam hanya karena dilaporkan oleh korbannya?" Tanya Bima.
Dalam perjalanan pulang, Bima terus bertanya apa yang terjadi hingga membuat mereka begitu lama kembali ke parkiran restoran. Gino pun menceritakan semua yang terjadi dari awal sampai akhir kejadian tadi. Namun ia melewatkan kejadian saat Luzi dilemparkan oleh pencuri itu. Karena ia baru tiba saat pencuri itu mendekat kearah Luzi sambil membawa kayu.
"Entahlah, mungkin pencuri itu pernah dipencara dan tidak ingin kembali lagi kesana." Jelas Gino lalu beranjak keluar dari mobil.
Lagi-lagi Gino ditahan oleh Bima untuk menjawab pertanyaan yang berada dibenaknya. Namun wajah Gino yang sudah tidak ramah membuatnya menciut untuk menanyakan hal yang tengah bertebaran di otaknya.
"Sudahlah Bim, aku ingin istirahat. Rasanya hari ini begitu panjang bagiku." Kini Gino pun keluar dari mobil. Dan Bima pun kembali melajukan kendaraan beroda empat miliknya itu pergi dari halaman rumah Gino.
Sebelum masuk kedalam rumah, Gino terlebih dulu mengembalikan tas yang dibawa Luzi ke pemiliknya yang kebetulan tinggal ditempat yang sama dengan dirinya.
.
.
.